Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Kamis, 30 Oktober 2014

Mendoakan Pemimpin

Baru saja, presiden baru Indonesia beserta seluruh menterinya dilantik. Presiden dan para pembantunya adalah pemimpin kita. Semua adalah ketentuan Allah I dengan hikmahNya yang agung. Kepemimipinan dan kekuasaan adalah hak Allah Iuntuk menganugerahkannya kepada hamba-hambaNya yang Ia pilih. Allah I berfirman, artinya : “Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Al-Baqarah : 26 ).


Semua kita sepakat, kepemimpinan yang diharapkan adalah kepemimpinan yang dapat membawa kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Terlebih lagi bagi kemashlahatan agama ini. Namun, ketika kita berhajat untuk itu, pertanyaan yang muncul kemudian ; Apakah yang dapat kita berikan kepada para pemimpin untuk mewujudkan itu semua? Apa dukungan kita kepada mereka? Sebenarnya, tidak perlu banyak Saudaraku. Pemberian yang dapat kita berikan kepada mereka adalah doa. Ya, cuma doa, beberapa kalimat yang kita panjatkan kehadirat Sang Raja Diraja Allah Ikepada mereka semua. Tentu saja, dengan niat ikhlas hanya untuk mengharapkan ridhaNya.

Nah, pada kesempatan ini kami akan menuliskan beberapa poin-poin tentang wajibnya taat kepada para pemimpin dan mendoakan kebaikan kepada mereka. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Wajibnya Taat Kepada Pemimpin

Allah Imemerintahkan kepada setiap muslim agar taat kepada pemimpin sebagaimana dalam firmanNya, artinya :  “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri di antara kalian”(QS. An-Nisa : 59).

Waliyyul amri(ulil amri) yang dimaksud dalam nash (dalil) di atas adalah sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad rahimahullah, "Tahukah kamu apakah imam itu? Yaitu kaum muslimin berkumpul atasnya, dan semua mengatakan, “Inilah Imam (pemimpin)." (Lihat Masail al-Imam Ahmad 2/185 Riwayat Ibnu Hani).
Demikian juga, Rasulullah rmemerintahkan agar selalu taat kepada pemimpin. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit t bahwasanya dia berkata : “Rasulullah menyeru kami membai'atnya. Di antara yang diambil atas kami bahwa kami berbai'at untuk mendengar dan taat dalam keadaan yang lapang dan sempit, dalam keadaan sulit dan mudah, dan atas sikap egois kami, dan agar kami tidak  merebut kekuasaan dari pemiliknya. Beliau rbersabda, “Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan nyata yang kalian punya bukti di hadapan Allah” (Shahih Muslim:1709).

Dalam kesempatan lainnya, Nabi rjuga memerintahkan, “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah (dalam hal) kemaksiatan. Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat(HR. Bukhari no. 7144  dan Muslim no. 1839).

Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata: "Para fuqaha  (ahli fiqih) telah sepakat atas wajibnya taat kepada pemimpin yang telah menguasai keadaan, wajibnya berjihad bersamanya. Bahwasanya ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak kepadanya karena dengan ketaatan akan  bisa menjaga tertumpahnya darah dan menenangkan keadaan. Mereka tidak mengecualikan dari hal ini kecuali jika telah terjadi kekufuran yang jelas dari penguasa” (Lihat Fathul Bari 13/7).

Larangan Mencela Waliyyul Amri dan Sabar Atas Kezhalimannya
Melanggar kehormatan para waliyyul amri dan mencaci mereka adalah kesalahan yang besar dan dosa yang mungkar. Syari'at Islam telah melarang hal ini dan mencela pelakunya. Mari kita simak hadits-hadits berikut ini.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik t bahwasanya dia berkata, “Telah melarang kami para pembesar kami dari para sahabat Rasulullah r, mereka berkata: “Janganlah kalian mencaci para penguasa kalian dan janganlah curang kepada mereka dan membenci mereka, dan bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah karena sesungguh perkara itu adalah dekat." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim di dalam As-Sunnah 2/488 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah).

Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Yaman t bahwasanya Rasulullah rbersabda : “Akan datang sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku, dan akan tegak di tengah-tengah kalian para laki-laki yang hati mereka adalah hati setan di dalam jasad manusia”. Saya (Hudzaifah) berkata, “Bagaimana saya berbuat jika saya mendapat hal itu?" Rasulullah r bersabda, “Hendaknya engkau mendengar dan taat kepada penguasa walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu” (Shahih Muslim 6/20).

Diriwayatkan dari Abu Bakrah t bahwasanya Rasulullah rbersabda :  “Penguasa adalah naungan Allah di  muka bumi, barang siapa menghinakannya maka Allah akan menghinakannya dan barang siapa memuliakannya maka Allah akan memuliakannya." (HR.  Ibnu Abi Ashim di dalam As-Sunnah2/492 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albanirahimahullah).
Maka, telah jelas bagi kita, mencaci pemimpin apalagi melaknatnya adalah terlarang. Mencaci, mencela, apalagi melaknat pemimpin bukanlah ciri Ahlu Sunnah(kaum muslimin). Imam Al- Barbahari rahimahullah berkata : “Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu. Dan jika engkau mendengar seseorang mendoakan kebaikan bagi pemerintah maka ketahuilah bahwa ia adalah Ahlus Sunnah, Insya Allah.” (Lihat Kitab Syarhus Sunnah halaman 116-117).

Nasehat dan Doa Kepada Pemimpin

Nasehat kepada para pemimpin, baik ketika mereka terjatuh ke dalam kesalahan atau tidak, adalah sebuah keniscayaan.  Nasehat kepada pemimpin kaum muslimin adalah dengan membantu mereka dalam kebenaran, menaati mereka dalam hal yang ma'ruf, mengingatkan mereka dalam kebenaran, menasihati mereka dengan cara yang halus dan lembut, menjauhi perlawanan kepada mereka, mendo'akan kebaikan kepada mereka dan mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. (Lihat Kitab Shiyanatu Shahih Muslim 1/221-222). Jika tidak mampu melakukan itu semua, jangan lupa untuk mendoakan mereka. Itulah yang nampak mudah bagi setiap kita.

Jika ada yang bertanya, mengapa doa kepada pemimpin menjadi penting dan hendaknya tidak dilupakan? Mari kita simak perkataan yang indah dari Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, beliau berkata : “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.” Ada yang bertanya pada Fudhail, “Mengapa bisa begitu?” Ia menjawab, “Jika aku tujukan doa tersebut pada diriku saja, maka itu hanya bermanfaat untukku. Namun jika aku tujukan untuk pemimpinku, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.” Sungguh, jawaban yang sangat brilian dan tepat. Mari kita renungkan.

Apalagi, jika ternyata waliyyul amri mendengar dan mengetahui bahwa rakyatnya mendoakan kebaikan kepadanya, maka tentu saja dia akan senang sekali dan hal ini membuatnya mencintai rakyatnya dan mengupayakan apa saja yang membahagiakan mereka. Ketika Imam Ahmad rahimahullah menulis surat kepada Khalifah al-Mutawakkil, maka sebelum diserahkan kepadanya beliau memusyawarahkannya dengan Ibnu Khaqan (seorang menteri al-Mutawakkil). Ibnu Khaqan berkata kepada beliau, “Seyogyanya surat ini ditambah degan doa kebaikan untuk khalifah karena dia senang dengannya." Maka Imam Ahmad menambahkannya dengan do'a kebaikan kepada khalifah. (Lihat Kitab As-Sunnah oleh Abdullah bin Ahmad bin hambal 1/133-134).

Maka, kaum muslimin yang ingin menegakkan kewajiban nasehat dan menempuh jalan para pendahulu (salaf) yang shalih, sepantasnyalah bagi mereka untuk mengkhususkan bagi  waliyyul amri, do'a do'a kebaikan pada sebagian doa-doa mereka. Duhai, seandainya orang-orang yang masih saja asyik menjatuhkan kehormatan para waliyyul amri berhenti dari apa yang mereka lakukan dan menggantinya dengan doa-doa kebaikan, maka tentu ini lebih baik, ketimbang  menyibukan diri dengan pelanggaran-pelanggaran atas kehormatan pemimpin yang tidak membawa perbaikan yang justru semakin menyesakan dada dan memperbanyak dosa. Al-Hafizh Abu Ishaq As-Sabi'i rahimahullah berkata : “Tidaklah suatu kaum mencaci penguasa mereka kecuali mereka diharamkan dari kebaikan." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 21/287).

Oleh karena itu, sekali lagi, mari kita doakan mereka. Doakan agar mereka dapat mengemban amanah dengan baik. Mereka baik, insya Allah kita juga yang akan baik.

“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam, dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka untuk menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, di mana pun mereka berada.”

Wallahu a’lam.

Maraji’:
Majalah Al-Furqon Edisi 5 Thn. 11 1432/2011 ; Majalah Salafy Edisi XXX Thn. 1420/1999 ; http://rumaysho.com/jalan-kebenaran/doa-untuk-pemimpin-negeri-7206; dan lainnya

Senin, 20 Oktober 2014

Hati-hati Meremehkan Sunnah

Adalah wajib bagi seorang mukmin dan mukminah untuk menaati Rasulullah r, mengagungkan sunnah-sunnahnya, mendahulukan perkataan dan petunjuk beliau rdi atas perkataan, petunjuk dan jalan selain beliau r. Kita sepakat itu, karena Allah Ilangsung yang memerintahkannya melalui firmanNya, artinya : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu`min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS. Al-Ahzaab:36).

Ketaatan kita kepada sunnah dan jalan Rasulullah radalah di antara manifestasi atau perwujudan ketaatan kita kepada Allah I. Sebagaimana firmanNya, artinya : “Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah." (QS. An-Nisa : 80). Bagaimana mungkin kita dapat mencari contoh dalam agama dan kehidupan dari selain beliau r, sementara Allah Isendiri sebagai pemilik kesempurnaan dan pencipta seluruh makhluk telah memberikan pernyataan yang jelas dan tegas bahwa “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzaab:21)? Jika masih ada yang bertanya, apakah ada contoh atau panutan hidup yang langsung direkomendasi oleh penciptanya? Jawabannya, jelas ; pasti tidak ada!

Maka, menaati setiap perintah Rasulullah rsebagaimana yang tersebut dalam sunnah-sunnah beliau radalah hal yang paling bijak bagi kita. Mendurhakainya, berpaling dari petunjuknya, tentu saja adalah sikap yang tidak “mengasihani” diri sendiri. Mengapa? Hal ini karena kedurhakaan terhadap sunnah-sunnah beliau radalah sebab datangnya adzab dari Allah I. Kita taat, kita selamat. Demikianlah yang akan terjadi. Coba kita perhatikan baik-baik ayat ini : “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa 'adzab yang pedih.” (QS. An-Nuur:63).

Namun, di hari-hari ini, kita sungguh merasa ironi terhadap sikap sebagian saudara-saudara muslim yang masih memilih sikap yang tidak “mengasihani” diri sendiri, dengan meninggalkan sunnah-sunnah Rasulullah
r, meremehkannya dan bahkan mengolok-olok saudara-saudara mereka yang berusaha berjalan di atasnya, wal’iyadzu billah.  Dan yang lebih menyedihkan lagi adalah bahwa sebagian mereka adalah orang-orang yang terjun dalam kancah dakwah.

Benarlah, apa yang telah diisyaratkan oleh Rasul r akan datangnya zaman ini bahkan sejak beliau r masih hidup, beliau rbersabda, artinya : “Sungguh-sungguh aku akan dapati salah seorang dari kalian bertelekan (tidur-tiduran) di atas dipannya, (lalu) datang kepadanya sebuah perintah dari perintahku atau larangan dari laranganku lalu dia mangatakan: ‘Saya tidak tahu itu, apa yang kami dapatkan dalam kitab Allah yang kami ikuti(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, 7172).

Jauh-jauh hari sebelumnya, Rasulullah r sudah memerintahkan untuk “menggigit” sunnah-sunnah beliau dengan gigi geraham yang paling kuat. Sebagaimana dalam haditsnya, artinya : “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka wajib atas kalian bepegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Al-Khulafa Ar-Rasyidin, gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, 2549). Tujuannya apa? Ya, untuk kewaspadaan ketika zaman yang disinyalir itu datang.

Makna Sunnah Nabi r

Sebelum lebih jauh, ada baiknya kami sampaikan makna sunnah sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama. Sunnah Nabi
radalah petunjuk dan jalan yang ditempuh oleh Rasulullah r. Di dalamnya mencakup perkara-perkara yang hukumnya wajib maupun sunnah (tidak wajib), yang berkaitan dengan akidah, ibadah, muamalah dan akhlak.

Para ulama salaf (terdahulu) mengatakan bahwa sunnah berarti mengamalkan al-Qur’an dan hadits serta mengikuti para pendahulu yang shalih serta ber-ittiba’ (berteladan) dengan jejak mereka. (Lihat Al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah, 2/428, Ta’zhimus-sunnah, 18).
Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan as-sunnah pada asalnya adalah jalan yang ditempuh dan itu meliputi sikap berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh Nabi r dan para khalifahnya baik keyakinan, amalan, maupun ucapan. Dan inilah makna as-sunnahsecara sempurna (Lihat Kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hadits no. 28).
 
Inilah yang kami maksud dalam pembahasan ini, sehingga kami tidak terpaku pada istilah “sunnah” menurut ahli fikih atau “sunnah” menurut ahli ushul fikih, tetapi mencakup itu semua.

Sikap Tegas Ulama Terhadap Penentang Sunnah

Para ulama bersikap tegas terhadap setiap orang yang mendurhakai dan meremehkan sunnah nabiNya r. Berikut beberapa ungkapan para ulama terhadap mereka :

Imam Syafi'iy rahimahullah pernah berkata : “Telah diriwayatkan tentang hal tersebut demikian dan demikian dari Nabi r. Maka ada orang yang bertanya berkata : “Wahai Abu ‘Abdillah (panggilan Imam Syafi'iy rahimahullah), apakah kamu berkata (berpendapat) dengannya?”. Maka Imam Syafi'iy rahimahullah gemetar (karena marah) dan nampak urat lehernya, kemudian beliau rahimahullah berkata : “Wahai Anda, bumi manakah yang akan kupijak dan langit manakah yang akan menaungiku apabila aku telah meriwayatkan suatu hadits dari Nabi rkemudian aku tidak berkata dengannya?! “Ya (kata beliau rahimahullah), wajib bagiku (mengambil hadits tersebut) dengan pendengaran dan penglihatan”. (Lihat Kitab Shifatush Shafwah 2/256).

Berkata Imam Ahmad bin Hambal  rahimahullah : “Barangsiapa yang menolak suatu hadits Nabi
r, maka dia berada di pinggir jurang kehancuran” (Lihat Kitab Thabaqaatul Hanaabilah 2/15, Al-Ibaanah 1/260).


Ganjaran Meremehkan Sunnah

Sejarah selalu menjadi berharga bagi setiap orang yang mampu menangkap hikmah di dalamnya atau  mau berusaha untuk menjadikannya sebagai pelajaran hidup. Sejarah telah mencatat beberapa kasus penentangan, kedurhakaan dan peremehan  sunnah oleh sebagian manusia, langsung mendapat balasan kehinaan dari Allah
I tidak lama setelah mereka melakukannya. Ini di dunia, belum nanti di akhirat.

Beberapa kisah sejarah tentang orang-orang yang meremehkan sunnah Rasulullah r:

·       Dari Ibnu Abbas t, Nabi r bersabda, artinya : “Janganlah kalian mengetuk pintu para wanita (istri-istri) pada waktu malam hari”. Suatu ketika Rasulullah r (pernah) pulang dari sebuah safar bersama dengan para anggota kafilah. Dua orang dari kafilah tersebut, bersembunyi-sembunyi berjalan meninggalkan kafilah, pulang menemui istrinya masing-masing. Padahal, mereka telah mendengar pesan sabda Nabi r sebelumnya. Lalu, apa yang mereka dapatkan? Akhirnya, kedua orang tersebut mendapatkan seorang pria sedang bersama dengan isteri-isterinya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, ada catatan dari Imam An-Nawawiy rahimahullah, beliau berkata : “Adapun bila safarnya dekat, istrinya pun mengharapkan kedatangannya pada malam hari, maka pulang malam pun boleh. Begitu pula apabila telah ada informasi awal (melalui telpon, surat, SMS, atau lainnya –red-) yang memberitahu akan kedatangannya kepada isteri dan keluarganya, hal ini pun tidak mengapa.”
(Lihat Kitab Syarh Shahiih Muslim 13/71-72).

·       Dari Salamah bin Al-Akwa' t, bahwasanya seseorang pernah makan di sisi Rasulullah rdengan tangan kirinya. Maka beliau rberkata : “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang itu berkata : “Saya tidak bisa”. Maka beliau rberkata : “Kamu tidak akan bisa.” Padahal, tidak ada yang menghalangi orang tersebut (untuk makan dengan tangan kanannya) melainkan hanya kesombongan. Maka apa yang terjadi pada orang ini? Berkata Salamah bin Al-Akwa' t : “Maka orang itu pun (akhirnya) tidak bisa mengangkat tangan (kanan)nya ke mulutnya.”(HR. Muslim no.2021).

·       Dari Abu Hurairah t, Nabi rbersabda, artinya : “Tatkala seseorang berjalan dengan sombong di waktu pagi dan petang, maka Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, dia dalam keadaan terbolak-balik di dalamnya sampai hari kiamat.” (Musnad Ahmad no.7074). Maka berkatalah seorang pemuda kepada Abu Hurairah t dalam keadaan sedang bergurau : “Wahai Abu Hurairah apakah seperti ini jalannya orang yang ditenggelamkan ke bumi itu (sambil menirukan gaya jalannya orang yang diceritakan dalam hadits tersebut)?” Maka Abu Hurairah tmemukul orang tersebut dengan tangannya sehingga membekas yang hampir-hampir mematahkan tulangnya (Sunan Ad-Darimiy no.437).

·       Dari 'Abdurrahman bin Harmalah t, dia berkata : “Sa'id bin Al-Musayyab t berkata kepada seseorang: “Janganlah engkau pergi sehingga engkau shalat terlebih dahulu, karena sesungguhnya Rasulullah rtelah bersabda : “Tidaklah keluar dari masjid setelah panggilan (adzan) melainkan dia seorang munafiq, kecuali seseorang yang keperluannya menjadikan dia harus keluar, sedangkan dia berkeinginan untuk kembali lagi ke masjid tersebut!” Maka orang itu pun berkata: “Sesungguhnya teman-temanku telah berada  di Al-Hurrah (menungguku)?” Dia menyampaikan alas an yang ia buat-buat. Lalu Abdurrahman bin Harmalah berkata : “Orang itu pun akhirnya keluar. Maka belum selesai Sa'id menyayangkan atas kepergian orang tersebut dengan menyebut-nyebutnya, tiba-tiba dikabarkan bahwa orang tersebut telah terjatuh dari kendaraannya sehingga pahanya patah” (Lihat Kitab Sunan Ad-Darimiy no.446).

·       Dari Abu Yahya As-Saajii dia berkata : “Kami berjalan di gang-gang Bashrah menuju ke rumah salah seorang ahlul hadits, maka aku mempercepat jalanku dan ada seseorang di antara kami yang jelek dalam agamanya, kemudian berkata : “Angkatlah kaki-kaki kalian dari sayap-sayapnya para malaikat, jangan (sampai) kalian mematahkannya”. Orang ini mengolok-olok mereka. Sebagaimana yang kita pahami dari hadits-hadits Nabi rbahwa di antara keutamaan majelis ilmu adalah turut sertanya atau hadirnya malaikat dalam majelis mulia tersebut. Setelah orang tersebut menyampaikan celaannya, akhirnya orang tersebut tidak bisa (lagi) melangkah dari tempatnya sehingga kering kedua kakinya dan kemudian jatuh." (Lihat Kitab Bustaanul 'Aarifiin, Al-Imam An-Nawawiy hal.92).

·       Berkata Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il At-Taimiy : “Aku pernah membaca di dalam sebagian kisah-kisah, bahwasanya pernah ada seorang ahlul bid'ah tatkala mendengar sabda Nabi r : “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah dia mencelupkan tangannya ke dalam bejana sehingga dia mencucinya terlebih dahulu, karena dia tidak mengetahui di mana tangannya (semalam) bermalam!" (HR. Bukhari dan Muslim). Maka orang tersebut berkata dengan nada mengejek, “Aku mengetahui di mana tanganku bermalam (yaitu) di atas tempat tidur!” Akhirnya, apa yang terjadi? Ketika dia bangun (di pagi hari), tangannya sungguh telah masuk ke dalam duburnya sampai ke pergelangan tangannya. Wallahul-musta’an.
·       Berkata Al-Qadhiy Abu Thayyib menceritakan tentang seorang pemuda Khurasan yang mengatakan : “Abu Hurairah tidak bisa diterima haditsnya ....”. Orang ini berkata seakan-akan meragukan dan menolak hadits dari sahabat tersebut. Maka belum selesai orang itu dari perkataannya, tiba-tiba seekor ular yang besar dari jatuh atas atap masjid tersebut dan tepat di atas kepala orang tersebut. Manusia  kaget, melompat kemudian lari karena ular tersebut. Pemuda itu pun lari darinya, sementara ular tersebut terus mengejarnya. Maka orang-orang mengatakan kepadanya : “Bertaubatlah, bertaubatlah!” Dan pemuda itu pun berkata : “Aku bertaubat!" Maka akhirnya ular itu pun lenyap dan tidak terlihat bekas-bekasnya.” (Lihat Kitab Siyar A'laamin Nubalaa` 2/618).

Olehnya, jika belum mampu menghidupkan sunnah, mari berdoa kepada Allah I kiranya Ia I memberikan hidayah dan taufiqNya untuk kita. Jangan meremehkannya, apalagi mengolok-oloknya. Diam atau tawaqquf(diam dan berhenti serta tidak mempermasalahkannya dengan akalnya), itulah yang lebih selamat. Dan kepada saudara-saudara muslim yang sudah berupaya untuk istiqamah di atas sunnah-sunnah NabiNya r, perhatikan kabar hembira dari beliau r : “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran. Bagi orang di jaman itu yang berpegang (dengan sunnah) dengan kalian yang berada di atasnya pada hari ini, mereka akan mendapat pahala lima puluh orang dari kalian." Mereka bertanya: "Wahai Nabi Allah, bukan lima puluh dari mereka?" Beliau menjawab: "Tidak, akan tetapi lima puluh dari kalian." (HR. Al-Marwaziy, At-Tirmidziy, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan ia berkata : shahih sanadnya). Subhanallah, 50 kali pahala sahabat! Mari berlomba!Wallahu a’lam.

Maraji’ : Kitab Ta'zhiimus Sunnah, Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir As-Sahaibaniy.