Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Rabu, 31 Desember 2014

Musibah Indonesia

Bangsa Indonesia seakan-akan tidak pernah henti dirundung musibah dan bencana. Belum hilang dari ingatan kita musibah dan bencana tanah longsor di pulau Jawa, disusul dengan banjir di beberapa daerah nusantara termasuk di ibukota Jakarta, kebakaran besar di salah satu tempat di Solo, dan yang terakhir adalah jatuhnya salah satu pesawat penumpang komersil yang hingga saat ini masih dalam proses penyelidikan. Seakan-akan semua makhluk Allah I ; tanah, air, api dan udara menampakkan keperkasaannya di bawah ketundukan Allah I, Sang Pencipta dan Penguasa semua makhluk-Nya.


Entah, musibah dan bencana apa lagi yang akan menimpa bangsa ini, karena kelihatannya bangsa ini juga sudah terbiasa dengan segala bencana, tanpa tahu (dan mungkin juga tidak mau tahu) apa kesalahan yang diperbuatnya sehingga bencana dan musibah tersebut terus datang menghampiri. Tak seorang pun tahu, kapan rentetan bencana ini akan berakhir. Tak seorang pun tahu, mengapa bencana dan musibah terus terjadi. Hanya Allah I  yang tahu.

Semuanya Adalah Takdir Allah I

Selama iman masih bersemayam di kandung badan, diikuti dengan dengan jantung yang masih terus berdetak, darah yang masih mengalir dan nafas yang masih saja berhembus, telah menjadi sebuah kemestian dari Sang Khalik, jika cobaan, rintangan, musibah, akan datang silih berganti menjumpai kita sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah I. Hal ini sebagaimana yang telah Allah Inyatakan dalam firman-Nya, artinya : “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang- orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”  (QS. Al-Ankabut : 1-3).

Satu hal yang wajib kita imani pula adalah bahwa semua yang terjadi adalah takdir dan ketetapan Allah I. Allah I berfirman, artinya :Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS. Al-Hadid: 22).
Semuanya telah Allah I tentukan 50.000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan. Rasulullah r bersabda, artinya : “Allah telah menulis takdir-takdir seluruh makhluq (pada kitab lauh mahfudz) 50.000 (lima puluh ribu) tahun sebelum menciptakan langit dan bumi”  (HR. Muslim).

Dengan demikian, kita sadar bahwa gempa yang merobohkan rumah-rumah kita, tanah longsor yang mengubur harta-harta kita, banjir yang menghanyutkan segala apa yang ada di atasnya, api yang menghanguskan segala harta benda dan udara yang menghembuskan angin kencang, semuanya telah Allah I takdirkan. Tiada seorangpun yang mampu untuk mengelakkannya. Rasulullah rbersabda : “Ketahuilah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin bahwa apa yang harus menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa-apa yang luput darimu tidaklah akan menimpamu." (HR. Tirmidzi dari shahabat Ibnu Abbas).

Saat dilanda musibah, manusia akan menyadari keadaannya sebagai para hamba dan di bawah kekuasaan Allah I. Mereka semua tidak terlepas dari ketetapan dan pengaturan Allah, qadha dan takdir-Nya. Hal ini tersirat dari pengakuan orang-orang beriman sebagaimana dalam firman-Nya, artinya :  “Yaitu orang-orang yang, apabila ditimpa musibah, mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami hanyalah milik Allah, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami dikembalikan” (QS. Al-Baqarah: 156).

Olehnya, hanya kepada Allah I lah kita berlindung. Sebagaimana perintah Allah I  dalam firman-Nya, artinya : Katakanlah : Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal” (QS. At-Taubah : 51).

Setiap Takdir Ada Hikmahnya

Mungkin ada yang bertanya, mengapa Allah I menimpakan bencana kepada umat yang mengimani dan menyembah-Nya dalam ajaran yang benar dan hak? Mengapa bukan orang-orang kafir saja yang ditimpa bencana? Jawabnya adalah Allah Iselalu menyimpan hikmah di balik setiap takdir-Nya. Ya, hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah I yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya. Yang pasti, ada kebaikan yang tersembunyi dari setiap takdir tersebut. Allah I berfirman, artinya : Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu amat buruk untuk kalian; Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

 Di antara hikmah yang bisa kita petik dari setiap musibah yang menimpa adalah:

1. Musibah akan Mendidik Jiwa dan Menyucikannya dari Dosa dan Kemaksiatan.
Allah Ta’ala berfirman, artinya :  “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30).

Dalam ayat ini, terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah hukuman atas dosa-dosa kita. Rasulullah r  bersabda, artinya :  ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.”  (HR. Bukhari).

Rasulullah rbersabda, artinya : “Tidaklah seorang mukmin ditimpa oleh sakit terus-menerus, keletihan, penyakit, kesedihan, hingga gundah gulana yang menyusahkannya, kecuali bahwa dia akan digugurkan dari kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lainnya, beliau r juga bersabda, artinya : “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”

Sebagian ulama salaf berkata, “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

2. Sebagai Parameter Kesabaran Seorang Hamba.
Sebagaimana dituturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya, namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas tmeriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, artinya : “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan ditulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah I maka dia akan ditulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah I mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba maka setiap ketetapan Allah I yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah r bersabda, artinya : “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika ditimpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

4. Dapat Memurnikan Tauhid dan Menautkan Hati Kepada Allah I .
Wahab bin Munabbih rahimullah berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.” Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah I berfirman, artinya :Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah I (inabah), seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang diderita. Apabila seseorang ditimpa musibah baik berupa kefakiran, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah I saja sebagaimana dilakukan oleh Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa, “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya, ”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al-Anbiyaa : 83).

5. Memunculkan Berbagai Macam Ibadah yang Menyertainya.
Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasy-yah (rasa takut) kepada Allah I. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah I menjauhkan diri dari kesesatan.

6. Mengikis Sikap Sombong, Ujub dan Besar Kepala.
Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah ditimpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas, lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia ditimpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap, dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya. Dia tak akan mampu menguasai kematian, terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah I dan sesama manusia?

7. Indikasi Bahwa Allah IMenghendaki Kebaikan.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah rbersabda, artinya : ”Barang siapa yang dikehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari).Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

Akhirnya, hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah Iketika tertimpa musibah, sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya, dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi.

Ali bin Abu Thalib tberkata :  “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan bertobat.” (Kitab Al-Jawabul Kafihal. 118).

Marilah kita kembali kepada Allah I dengan bertaubat dari segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing, apakah kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan kita  ataukah termasuk mereka- wal’iyadzubillah- yang sedang disiksa dan dimurkai oleh Allah Ikarena kita tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya.

Maraji’ :
Himah di Balik Musibah, Fariq bin Qaasim Anuz; dan lainnya

Selasa, 23 Desember 2014

Yang Perlu Anda Tahu di “Tahun Baru“

Terulang kembali. Fenomena menarik di berbagai sudut dan pinggir jalan kota seperti tahun lalu, muncul lagi. Para pedagang terompet musiman berjejer panjang menjajakan berbagai jenis terompet dan aksesorisnya kepada orang-orang yang lewat. “Ini untuk merayakan Tahun Baru yang akan segera tiba”, kata mereka. Tidak hanya itu, berbagai jenis baliho, umbul-umbul dan spanduk bertuliskan berbagai tema Tahun Baru, tampak menghiasi berbagai sisi jalan dan bangunan kota.

Jika kita bertanya, siapakah mereka? Siapakah konsumen mereka? Siapakah yang meramaikan, menghidupkan, memeriahkan, dan merayakan Tahun Baru yang akan segera datang itu? Tentunya, kita tidak ragu dan sepakat bahwa mayoritas mereka adalah saudara kita, kaum muslimin. Wallahul musta’an.


Apa masalahnya? Oh, masalahnya besar sekali. Seorang beriman, yang memandang kaum muslimin lainnya sebagai saudara se-iman dan ibarat satu tubuh, seharusnya bersedih dan risau dengan kenyataan ini. Mengapa mesti bersedih? Bukankah hal tersebut membuat mereka gembira dan bahagia? Sungguh, sekiranya mereka tahu akan hakekatnya kemudian mengimani segala aturan syariat berkaitan dengannya, tentu mereka tidak akan melakukannya. Kejahilan, hawa nafsu dan godaan setan-lah yang menjadi sebab pokok sebagian saudara muslim kita terjerumus ke dalam perkara yang dapat mengancam hancurnya bangunan keimanan.

Olehnya, pada edisi kali ini, kembali kami akan membawakan bahasan tentang Tahun Baru Masehi ditinjau menurut syariat Islam, sebagaimana yang telah sampaikan oleh para ulama kita. Semoga menjadi nasehat bagi setiap kita, tidak terkecuali bagi kami. Selamat membaca.

Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi

Sudah tahukah kita sejarah Tahun Baru ini? Jika belum, silahkan menyimak baik-baik informasi berikut ini.

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari.

Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus [Lihat di : http://id.wikipedia.org/wiki/Tahun_baru].

Dari sini kita dapat menyaksikan bahwa perayaan Tahun Baru dimulai dari orang-orang kafir dan sama sekali bukan dari Islam. Perayaan Tahun Baru terjadi pada pergantian tahun kalender Gregorian yang sejak dulu telah dirayakan oleh orang-orang kafir.

Di samping itu, pesta tahun baru juga merupakan syiar kaum Yahudi yang dijelaskan di dalam Taurat mereka, yang mereka sebut dengan awal Hisya atau pesta awal bulan, yaitu hari pertama Tasyrin, yang mereka anggap sama dengan hari raya Idul Adha-nya kaum muslimin. Mereka mengklaim bahwa pada hari itu, Allah I memerintahkan Nabi Ibrahim u untuk menyembelih Ishaq u yang lalu ditebus dengan seekor kambing yang gemuk.

Sungguh, ini adalah sebuah kedustaan yang besar yang diada-adakan oleh Yahudi, karena sebenarnya yang diperintahkan oleh Allah I  untuk disembelih adalah Isma’il bukan Ishaq ‘alaihimas salam. Hal ini karena sejarah mencatat bahwa usia Isma’il lebih tua daripada Ishaq. Mereka melakukan tahrif (penyelewengan fakta) disebabkan kedengkian mereka, di mana mereka tahu bahwa Isma’il adalah nenek moyang orang Arab sedangkan Ishaq adalah nenek moyang mereka.

Selisihilah Orang Kafir

Jika demikian halnya, di mana perayaan Tahun Baru sesungguhnya bukan dari Islam, melainkan dari kaum Majusi dan Yahudi, maka bagi kita yang telah menyatakan diri sebagai seorang muslim, wajib menyelisihi mereka. Apakah kita mau ikut mereka? Tentu tidak, bukan?

Rasulullah r dalam banyak haditsnya telah memerintahkan kita untuk menyelisihi agama dan kebiasaan orang-orang kafir. Di antaranya, beliau r bersabda, artinya : “Sesungguhnya orang YahÅ«di dan Nashrani tidak menyemir rambut mereka, maka selisihilah mereka[HR. Bukhari dan Muslim]. Beliau r bersabda, artinya : “Selisihilah orang musyrikin, potonglah kumis dan biarkan jenggot kalian.[HR. Muslim]. Beliau r bersabda, artinya : “Guntinglah kumis, panjangkan jenggot dan selisihilah orang Majusi[HR. Muslim]. Beliau juga r bersabda, ketika memerintahkan kita untuk makan sahur (artinya) : “Yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitâb adalah, makan sahur.” [HR. Muslim]. Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya.

Nah, jika dalam masalah penampilan atau sikap saja, seperti menyemir rambut (tidak dengan warna hitam), memotong kumis, memelihara jenggot, dan makan sahur, kita diperintahkan untuk menyelisihi kaum kuffar, maka tentu saja dalam perkara lebih besar dari itu seperti halnya perayaan yang bersifat ritual, syiar keagamaan, bahkan aqidah, jelas lebih utama dan lebih wajib untuk diselisihi.

Rasulullah r mewanti-wanti hal ini (agar senantiasa menyelisihi mereka) sejak jauh hari, karena beliau r tahu bahwa sebagian umatnya kelak akan mengekor mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang kafir.  Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri t bahwa Rasulullah r  bersabda, artinya : “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang biawak, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau r menjawab, “Lantas siapa lagi?” [HR. Muslim].

Para sahabat dan ulama terdahulu juga banyak menyampaikan hal ini. Di antaranya ucapan :

Abdullah bin Amr t berkata : “Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya Nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat.” [Sunan al-Baihaqi IX/234].

Imam Muhammad bin Sirin rahimahullahberkata : “Ali t diberi hadiah peringatan Nairuz (Tahun Baru), lantas beliau berkata : ”Apa ini?” Mereka menjawab, ”Wahai Amirul Mu’minin, sekarang adalah hari raya Nairuz”. Ali t menjawab, ”Jadikanlah setiap hari kalian Fairuz.” Usamah berkata : Beliau (Ali) mengatakan Fairuz karena membenci mengatakan ”Nairuz” [Sunan al-Baihaqi IX/234].

Jika saja manusia-manusia terbaik umat ini, yang telah mendapat pujian dan keridhaan dari Allah I dan RasulNya r , bersikap seperti ini terhadap hari raya dan kebiasaan orang-orang kafir untuk menyelisihinya, mengapa kita lebih memilih pendapat dan ucapan orang-orang dan tokoh-tokoh yang kedudukannya jelas amat sangat jauh dibandingkan mereka? Sebuah pertanyaan yang sangat pantas untuk kita renungkan bersama.

Kerusakan-Kerusakan Dalam Perayaannya

Tidak ragu lagi, ketika sebuah perkara dilarang dan tidak diperintahkan dalam agama yang sempurna ini, pastilah ia memiliki mudharat bagi kita. Begitu pula peryaan Tahun Baru ini. Di antara kerusakan yang dapat terjadi ketika perayaan ini juga diikuti dan dirayakan oleh kaum muslimin, yakni :

Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan diteruskan hingga dini hari, mereka akhirnya luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Sebabnya, tidak lain karena rasa kantuk dan kelelahan yang berlebihan. Padahal, meninggalkannya adalah dosa besar. Bahkan sebagian ulama, menganggapnya kafir.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah bin Al-Hushaib Al-Aslamiy t, beliau berkata, ”Aku mendengar Rasulullah r   bersabda (artinya), “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” 

Selain akibat besar seperti ini, begadang tanpa ada kepentingan yang syar'i juga dibenci oleh Nabi r . Diriwayatkan dari Abi Barzah t, beliau berkata, “Rasulullah r  membenci tidur sebelum shalat 'Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.” [Lihat Ash-Shalah wa Hukmu Tarikiha, Dar Al Imam Ahmad].

Ibnu Baththal rahimahullahmenjelaskan, “Nabi r  tidak suka begadang setelah shalat 'Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama'ah.

Bahkan dalam sebuah riwayat, Umar bin Khattab tsampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!” [Lihat Al-Kaba’ir, hal. 26-27, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah 12].

Wah, jika saja Umar bin Khattab t masih hidup, mungkin saja beliau t “kepayahan” untuk menghukum para pelaku dosa tersebut satu persatu, saking banyaknya. Masya Allah.

Dalam banyak kesempatan, perayaan tahun baru seperti ini juga tidak pernah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita yang bukan mahram) dan berkhalwat(berdua-duan). Keduanya tidak jarang menjadi jalan  terjerumusnya mereka ke dalam zina yang diharamkan. Inilah yang sering terjadi dan riil di kalangan muda-mudi. Wallahul musta’an.

Seperti yang sudah-sudah, perayaan tahun baru banyak diramaikan dengan suara mercon, petasan, terompet atau suara bising lainnya. Sadarkah mereka bahwa hal ini dapat menggangu kaum muslimin lainnya? Padahal, Nabi r, artinya : “Seorang muslim adalah seseorang yang lisan dan tangannya tidak mengganggu orang lain[HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani. Lihat Misykatul Mashabih no. 574].
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut” [HR. Muslim no. 1163].

Subhanallah, perhatikanlah perkataan yang indah dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah tersebut. Seekor semut yang kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan yang jelas lebih sempurna dari seekor semut itu disakiti perasaan dan mungkin juga fisiknya karena mercon dan petasan di Tahun Baru?

Sungguh, perayaan malam Tahun Baru juga adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp 1.000 untuk membeli petasan atau segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka kira-kira berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp  1.000, bagaimana jika Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000 atau lebih dari itu? Padahal Allah Ta’ala telah berfirman (artinya) : “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al-Isra’: 26-27).

Tidak diragukan lagi, perayaan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Semoga kita merenungkan perkataan Ibnul Qoyyim, rahimahullah : “(Ketahuilah bahwa) menyia-nyiakan waktu lebih jelek dari kematian. Menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu (membuatmu lalai) dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanyalah memutuskanmu dari dunia dan penghuninya” [Syarh Al-Bukhari, Ibnu Baththal, 3/278, Asy-Syamilah 16].

Sebagian kita mungkin berfikir, daripada kaum muslimin berhura-hura pada saat pergantian akhir tahun, lebih baik membuat acara yang Islami sebagai alternatif daripada acara hura-hura tersebut. Di antara kegiatan “alternatif” itu adalah berupa Shalat Malam Berjama’ah, Muhasabah, Renungan Suci di akhir tahun, Istighastah, Dzikir Berjama’ah dan lainnnya. Bagaimana dengan ini?

Sungguh, kita tidak mengecilkan niat dan maksud baik mereka. Hal ini jelas patut disyukuri. Namun, apakah sikap ini dapat dibenarkan begitu saja? Apakah niat baik saja sudah cukup? Tentu, kita harus melihatnya dengan timbangan syariat. Ketahuilah, bahwa semua itu tidak pernah dicontohkan oleh panutan yang kita yang mulia, Nabi Muhammad r, demikian para sahabat dan ulama yang mengikuti beliau r. Suatu ketika sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud t, melihat orang-orang yang berdzikir, namun tidak sesuai tuntunan Nabi r. Ketika mereka ditegur oleh beliau, mereka berkata kepada Ibnu Mas’ud t, ”Demi Allah, wahai Abu ‘Abdurrahman (Ibnu Mas’ud), kami tidaklah menginginkan selain kebaikan.” Ibnu Mas’ud t lantas berkata, “Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun mereka tidak mendapatkannya” [HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil no. 1269].

Niat baik semata tidaklah cukup. Kita harus membangun niat baik itu dengan amalan sesuai contoh dari Nabi r, agar amalan tersebut dapat diterima di sisi Allah I.

Akhirnya, kita meyakini bahwa pergantian tahun tidak ada bedanya dengan pergantian hari demi hari, bulan demi bulan. Ia berjalan dengan perintah Allah I  menuju batas yang Allah I telah tetapkan. Tidak ada keutamaan waktu-waktu tertentu kecuali yang ditunjukkan oleh dalil syariat. Kita harus menyadari bahwa pergantian tahun seperti ini justru mendekatkan kita kepada ajal. Semakin melaju, ajalpun semakin mendekat. Maka seharusnya kita bersiap-siap menuju kematian dan banyak menangisi dosa, bukan bergembira dengan merayakannya dan berbuat dosa.  Wallahu a’lam.

Maraji’ :
Buletin Al-Munir Edisi 163/III/2013