Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Selasa, 22 November 2011

Tawadhu’, Sifat Mulia yang Terlupakan

Makin berisi makin merunduk. Begitulah peribahasa 'ilmu padi' yang sering kita dengar. Semakin ia berisi dengan padi dengan mutu yang baik, maka batangnya pun akan semakin merunduk.

Dalam syari'at Islam yang mulia pun diajarkan hal yang serupa, sifat dan sikap merunduk ibarat padi, yakni tawadhu’.

Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit yang memilikinya dan banyak yang melupakannya. Ia adalah sifat yang begitu mahal kita dapatkan saat ini. Di saat manusia merasa “di atas angin” karena telah berilmu pengetahuan dan memiliki banyak “kelebihan”, ia pun berjalan di muka bumi dengan perasaan “tinggi” dan  sombong. Sampai pun kepada mereka yang menisbahkan dirinya kepada dakwah Islam, ; pejuang kejayaan Islam. Wal’iyadzubillah.

Padahal Allah I dalam beberapa firman-Nya di dalam al-Qur’an memberikan pujian bagi orang-orang yang tawadhu’ dan membenci orang yang sombong.

Allah I berfirman, artinya : “Dan hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (QS. al-Furqon [25]: 63).


Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله mengatakan: “Firman Allah  berjalan di atas bumi dengan rendah hati yaitu mereka berjalan dengan tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong.”

Allah  berfirman: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman [31]: 18).

Sahabat mulia Ibnu Abbas t berkata: “Yaitu janganlah kamu sombong, sehingga membawa kalian merendahkan hamba Allah  dan berpaling dari mereka jika mereka berbicara kepadamu.”

Memahami Tawadhu’

Tawadhu’ adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sombong dan melecehkan diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang semestinya. Sedangkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan diri terlalu rendah sehingga sampai pada pelecehan hak (Lihat Adz Dzari’ah ila Makarim Asy Syari’ah, Ar Roghib Al Ash-fahani, 299).

Ibnu Hajar berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.” (Fathul Bari, 11: 341).

Tawadhu’ = Menghinakan Diri ?

Kita sering mendengar istilah tawadhu’ dan menghinakan diri. Apakah tawadhu sama dengan menghinakan diri? ataukah tawadhu harus dengan menghinakan diri?

Ketahuilah, keduanya sangatlah berbeda dan tidak akan sama. Sifat tawadhu’ muncul karena atas dasar ilmu dan pengetahuannya kepada Allah I serta karena pengagungan kepadaNya diikuti dengan kesadaran mengintropeksi terhadap aib pribadi.

Semua hal tersebut melahirkan sifat tawadhu’ dalam dirinya. Hatinya tunduk kepada Allah, patuh dan berserah diri serta mempunyai sifat kasih sayang kepada manusia. Ia melihat tidak mempunyai keutamaan atas orang lain dan tidak merasa benar sendiri atas orang lain. Akhlak semacam ini hanyalah pemberian Allah  I kepada hamba-Nya yang dicintai dan yang dimuliakan serta dekat kepadaNya.

Adapun menghinakan diri adalah merendahkan dan menghinakan dirinya kepada orang lain untuk meraih bagian dan kelezatan syahwatnya. Seperti perendahan diri karyawan karena ingin mendapat sesuatu yang diinginkan dari atasannya, kepatuhan orang yang diajak maksiat kepada orang yang mengajaknya, atau kepatuhan orang yang ingin meraih bagian dunia kepada orang yang ia harapkan.

Imam Ahmad bin Abdurrohman al-Maqdisi رحمه الله mengatakan: “Sikap pertengahan adalah dengan tawadhu’ tanpa merendahkan diri, dan ini adalah terpuji. Sikap tawadhu’ yang terpuji adalah dengan berbuat adil, yaitu memberikan kepada setiap orang yang mempunyai kedudukan haknya.”

Kemuliaan Dunia dan Akhirat

Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa Rasulullah  r bersabda, artinya  :Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).

Yang dimaksudkan di sini, Allah I akan meninggikan derajatnya di dunia maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim,  16: 142).

Sebab adil, disayangi, dicintai di tengah-tengah manusia.

Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi kita r . Beliau r  pernah bersabda, artinya :Dan sesungguhnya Allah mewahyukan padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri (berbangga diri) dan melampaui batas  pada yang lain.” (HR. Muslim no. 2865).

Mencontoh Sifat Tawadhu’ Nabi r
Allah Ta’ala berfirman, artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21).

Lihatlah Nabi r  biasa memberi salam pada anak kecil dan yang lebih rendah kedudukan di bawah beliau. Anas t berkata, Sungguh Nabi r biasa berkunjung ke orang-orang Anshor. Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 459. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Subhanallah ... Ini sifat yang sungguh mulia yang jarang kita temukan saat ini. Sangat sedikit orang yang mau memberi salam kepada orang yang lebih rendah derajatnya dari dirinya. Boleh jadi orang tersebut lebih mulia di sisi Allah karena takwa yang ia miliki.

Lihatlah lagi bagaimana keseharian Nabi r di rumahnya. Beliau membantu istrinya. Bahkan jika sendalnya putus atau bajunya sobek, beliau menjahit dan memperbaikinya sendiri. Ini beliau lakukan di balik kesibukan beliau untuk berdakwah dan mengurus umat.

Urwah t pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiallahu anha , “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah r tatkala bersamamu (di rumahmu)?Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Rasulullah r tanpa rasa malu membantu pekerjaan istrinya. ‘Aisyah radhiallahu anha pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi r ketika berada di rumah. Lalu ‘Aisyah radhiallahu anha  menjawab, Beliau selalu membantu pekerjaan keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari no. 676).

Bagaimana dengan kita? Masihkah kita malu untuk mengerjakan sebagian rutinitas rumah tangga dari seorang ibu atau isteri?

Berfikirlah Dari Apa Kita Diciptakan

Jika seorang muslim bisa mengukur diri, dan menyadari siapa dirinya, dia akan menilai bahwa dirinya adalah insan yang rendah dan hina. Karena manusia bila dilihat dari asal penciptaan berasal dari setetes mani yang keluar dari saluran air kencing, kemudian menjadi segumpal darah, segumpal daging dan akhirnya menjadi seorang insan.
Allah I berfirman: “Dari apakah Allah menciptakannya? dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ’Abasa [80]: 18-20).

Apabila kondisi manusia seperti ini, mengapa ia sombong dan tidak tawadhu’?! Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Bagaimana mungkin seseorang tidak tawadhu’ padahal ia diciptakan dari setetes mani yang hina dan akhir hidupnya ia akan kembali menjadi bangkai yang menjijikkan serta kehidupannya di dunia ia membawa kotoran?”

Kenalilah diri Anda, karena  Allah I berfirman, artinya : “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi inidengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”(QS. al-Isro’ [17]: 37).

Nasehat Para Ulama

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata, “Tahukah kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa ia lebih mulia darimu.”

Imam Asy Syafi’i رحمه الله berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304).

Abdullah bin Mubarak رحمه الله berkata, “Puncak dari tawadhu’ adalah engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat Allah, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia dirinya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298).

Yahya bin Ma’in رحمه الله berkata, “Aku tidaklah pernah melihat orang semisal Imam Ahmad! Aku telah bersahabat dengan beliau selama 50 tahun, namun beliau sama sekali tidak pernah menyombongkan diri terhadap kebaikan yang ia miliki.”

Ya Allah, muliakanlah kami dengan sifat tawadhu’ dan jauhkanlah kami dari sifat sombong.
Wallahu waliyyuttaufiq.



Kamis, 17 November 2011

Haji “Mabrur” yang Mabrur

Setiap jiwa yang beriman sungguh merindukan untuk menginjakkan kaki di tanah haram, Makkah al-Mukarramah. Kerinduan untuk dapat hadir di tanah haram tersebut, baik untuk tujuan ibadah seperti haji dan umrah atau lainnya akan selalu ada di setiap jiwa yang beriman.

Ibadah Haji di baitullah al-Haram yang merupakan rukun Islam kelima adalah ibadah yang menjadi dambaan setiap muslim. Hanya saja ibadah tersebut adalah ibadah yang hanya dibebankan kepada orang yang mampu. Bagi mereka yang diberikan nikmat sehingga mampu melaksanakannya, tentu merupakan kebahagiaan dan kesyukuran tak terhingga kepada Sang Pemberi nikmat, Allah Rabbul ‘Alamin.

Kita sering mendengar bahwa haji yang “sukses” adalah haji mabrur. Namun, tahukah kita apa itu haji “mabrur”? Apakah setiap haji “mabrur”, memang mabrur? Berikut akan kami tuliskan beberapa penjelasan berkaitan dengan hal tersebut. Semoga bermanfaat.

Perintah Haji

Ibadah haji merupakan perintah  Allah I. Setiap manusia diperintahkan melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu sebagaimana firman AllahI, artinya :
 “..Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah maha kaya ( tidak memerlukan sesuatu ) dari semesta alam “ (QS. Ali Imran : 97).
Dan bagi setiap hamba Allah I yang mampu menunaikannya maka ia adalah tamu Allah I . Sebagaimana hadits dari Ibnu Umar t, Nabi r bersabda, artinya : “Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).


Apa Itu “Haji Mabrur”

Secara bahasa,kata “al-mabrur” diambil dari kata “al-birr” yang berarti kebaikan atau ketaatan. Adapun secara istilah, banyak pengertian yang disebutkan oleh para ulama, di antaranya :
Al-Hasan al-Bashri rahimahullahmengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akherat.”
Al Qurthubi rahimahullah menyimpulkan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.” [Lihat Tafsir Al Qurthubi, Muhammad bin Ahmad Al Anshori Al Qurthubi, Mawqi’ Ya’sub, 2/408].
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata birr yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.” [Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392, 9/118-119].
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah, berkata: "Haji mabrur yaitu haji yang tidak tercemar oleh perbuatan dosa sedikit-pun". Ada juga yang mengatakan: "Haji yang maqbul (diterima) yang merupakan imbalan bagi suatu perbuatan kebajikan. Selanjutnya beliau mengatakan : "Haji mabrur tidak akan terwujud kecuali jika terpelihara dari segala bentuk bid'ah dan hal-hal yang merupakan tradisi manusia, serta terlaksana dari hasil usaha yang halal, yang dengannya ia berupaya untuk menjalankan kewajiban agama dan melaksanakan perintah Allah I ".

Jadi, dapat kita simpulkan bahwa haji “mabrur” adalah predikat yang dapat diraih dengan tiga keadaan, sebelum, selama dan sesudah haji.
ü Sebelum haji yakni haji dengan niat ikhlas, bukan atas dasar riya’, hanya ingin mencari pujian seperti ingin disebut “Pak Haji” atau “Bu Haji”, ataupun dengan menggunakan harta yang haram ;
ü Selama haji, yakni melakukan manasik haji sesuai sunnah dan contoh dari Rasulullah r , terpelihara dari segala bentuk bid'ah dan syirik.
ü Sesudah haji, yakni keadaan yang menjadi lebih baik dan bertaqwa , meninggalkan maksiat dan meningkatkan amal shalih.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat Jabir t, ia berkata bahwa Rasulullah r pernah ditanya tentang haji yang mabrur. Jawaban beliau : “Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutur kata yang baik” (HR. Hakim no. 1778. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ no. 2819).

Fadhilah “Haji Mabrur”

Jika telah dipahami apa yang dimaksudkan dengan haji mabrur, maka orang yang berhasil menggapai predikat tersebut akan mendapatkan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi r :
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Artinya : “Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” [Syarh Shahih Muslim, 9/119].

Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi r  bersabda, artinya : ““Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari).
Dalam hadits Ibnu ‘Umar tdisebutkan : “Adapun keluarmu dari rumah untuk berhaji ke Ka’bah maka setiap langkah hewan tungganganmu akan Allah catat sebagai satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan. Sedangkan wukuf di Arafah maka pada saat itu Allah turun ke langit dunia lalu Allah bangga-banggakan orang-orang yang berwukuf di hadapan para malaikat.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Mereka adalah hamba-hambaKu yang datang dalam keadaan kusut berdebu dari segala penjuru dunia. Mereka mengharap kasih sayangKu, merasa takut dengan siksaKu padahal mereka belum pernah melihatKu. Bagaimana andai mereka pernah melihatKu?!
Andai engkau memiliki dosa sebanyak butir pasir di sebuah gundukan pasir atau sebanyak hari di dunia atau semisal tetes air hujan maka seluruhnya akan Allah bersihkan.
Lempar jumrohmu merupakan simpanan pahala. Ketika engkau menggundul kepalamu maka setiap helai rambut yang jatuh bernilai satu kebaikan. Jika engkau thawaf, mengelilingi Ka’bah maka engkau terbebas dari dosa-dosamu sebagaimana ketika kau terlahir dari rahim ibumu” (HR. Thabroni dalam Mu’jam Kabir no 1339). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahihul Jaami’ no. 1360).

Subhanallah al-Adzim, jika saja setiap langkah hewan tunggangan menuju haji, Allah I catat sebagai satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan –yang merupakan perumpamaan-, maka bagaimana dengan jarak antara Indonesia dan Makkah yang begitu jauh? Ya Allah, berilah kami nikmat dan kesempatan untuk menunaikannya, kabulkanlah yaa Rabb..
Haji “Mabrur”, Setara Jihad
Dari Abu Hurairah t, ia berkata, Nabi r ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau r  menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau r menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi r .” (HR. Bukhari).
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhal. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi r ” (HR. Bukhari).

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah mengatakan, “Haji dan umroh termasuk jihad. Karena dalam amalan tersebut seseorang berjihad dengan harta, jiwa dan badan” [Lihat Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 403].
Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits dikatakan bahwa jihad itu lebih utama dari haji. Ini yang terjadi di awal Islam dan ketika terjadi banyak peperangan. Ketika itu hukum jihad adalah fardhu ‘ain. Adapun jika Islam semakin jaya, maka hukum jihad menjadi fardhu kifayah. Ketika inilah haji dikatakan lebih afdhol.” [Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 7/220].
Kabulkanlah, Ya Rabb
Kepada mereka yang telah berhaji, kami doakan semoga Allah I menerimanya sebagai haji yang mabrur.

Dan kepada mereka yang belum mampu menunaikannya, maka kami berdoa :
Ya Allah, mudahkanlah kami semua untuk menunaikan haji yang afdhol ini dengan segala kemudahan :
اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
artinya: “Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah” [HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya (3/255)].
Wallahu a’lam.