Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Kamis, 18 Oktober 2012

Duhai, Andai Engkau Seperti Dulu (Untaian Nasehat Karena Telah Meninggalkan Al-Qur’an)

Ketika kau masih kanak-kanak
Bagiku kau laksana kawan sejati
Dengan wudhu, aku, kau sentuh
Dalam keadaan suci aku kau pegang
Kau junjung, kau pelajari
Setiap hari, aku, kau baca dengan suara lirih
atau bahkan dengan lantangnya

Kini, engkau telah dewasa, bahkan kian matang
Atau telah beranak sebagaimana kau kecil dulu
Namun, nampaknya kini, engkau sudah tak berminat lagi padaku
Barangkali, menurutmu, aku hanya bacaan usang
Yang menjadi bagian sejarah kanak-kanakmu dulu
Aku, barangkali, hanya bacaan yang menurutmu 
tidak menambah pengetahuan dan wawasan sama sekali

Kini, aku kau simpan, sedemikian rapihnya
Rapih, rapih sekali
Hingga kadang engkau bahkan lupa, di mana menyimpannya
Atau mungkin aku sudah kau anggap sekedar penghias
rumah, pelengkap koleksi buku-bukumu
Atau kadangkala, aku  kau jadikan mas kawin
, bagimu dan bagi yang lain
Agar engkau dianggap bertaqwa
Atau aku kau buat penangkal bencana, untuk menakuti hantu, setan, tuyul, jin dan
sebangsanya
Aduh, mudah-mudahan bukan untuk itu

Kini aku tersingkir
Sendir
i,kesepian
Di atas
atau di dalam lemari
Di sudut-sudut ruang, kau acuhkan aku

Padahal dulu, pagi-pagi sekali
Surat-surat yang ada padaku kau baca beberapa halaman
Soreny
a, kembali aku kau baca
Ramai-ramai,dengan teman-temanmu di surau

Kini, pagi-pagi
Engkau membaca koran pagi
Atau menonton berita pagi di TV
Sambil minum kopi,di waktu senggang
Kau sempatkan membaca buku karangan manusia
Yang sesekali kau bahas dan jadikan topik 
perbincangan dengan kolega-kolegamu

Sementara aku
Adalah rangkaian ayat-ayat cinta dari  Sang Maha Pencipta
Namun , kau sampai hati mencampakkannya
Mengabaikannya, melupakannnya

Saat berangkat kerja
Kadang kau lupa untuk sekedar membaca pembuka surat-suratku
"Bismillahirrahmaanirrahiim"

Di perjalanan
Engkau pun asyik menikmati musik-musik duniawi
Tidak ada lagi kaset yang berisi ayat-ayat cinta dari Rabb-mu

Tidak ada aku, untuk kau baca sebelum dan saat bekerja
Aku pun tidak lagi menjadi pelipur penat batin di tengah-tengah kesibukan harimu

Engkau terlalu sibuk kini
Dengan segala urusan dunia yang melenakanmu
Benarlah dugaanku, bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku

Akhirnya, waktu pun terus bergulir
Aku semakin terlihat kusam di tempatnya
Bersimbah debu, atau bahkan dimakan kutu

Seingatku
Hanya sesekali kini kau sentuh aku
Di awal Ramadhan dahulu, dan itupun hanya beberapa lembar dariku saja
Bacaanmu pun tak lagi semerdu dulu
Lafadzmu pun terasa kaku
Engkau kini membacaku dengan terbata-bata
Padahal, setiap waktu yang mengalir
Mengantarkanmu semakin cepat ke liang kubur

Duhai,temanku dahulu
Apakah koran, TV, radio dan komputer, dapat memberimu syafa’at
Saat engkau sendiri di dalam kubur, menanti tibanya hari kiamat
Saat engkau diperiksa oleh para malaikat
pesuruh-Nya

Ingatlah, ayat-ayatNya yang ada padaku, yang dapat menyelamatkanmu
Seandainyalah kau baca aku selalu
Kau resapi dan amalkan, niscaya aku akan
datang menolongmu

Duhai, sahabatku dahulu
Peganglah aku lagi, bacalah aku lagi
setiap hari
Karena di dalamnya ada lafadz-lafadz cinta dari Penciptamu
Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui dari Sang Penguasa alam semesta
Duhai, sahabatku
Sentuhlah aku kembali, seperti dulu
Baca dan pelajarilah aku lagi
Di setiap datangnya pagi dan petang
Seperti dulu,dulu sekali,di surau itu

Hafalkanlah aku kembali
Seperti dahulu kau hafalkan beberapa surah pendek dariku sebagai tugas dari para ustadzmu di surau

Jangan kau biarkan aku dalam sepi yang bisu
Karena aku ada, untuk menuntun jalanmu
Akulah panduan hidup dari Sang Maha Hidup
Aku yang akan memberimu keindahan hidup sejati dunia-akhirat .....

***********************************

Itulah, ungkapan “curahan hati” al-Qur’an kini. Duhai, andai saja al-Qur’an bisa bicara. Namun, itu hanyalah untaian kata dari manusia. Karena sungguh Al-Qur’an bukanlah makhluk yang dapat berkata, berbicara, seperti kita manusia. Al-Qur’an ada firman Allah
I .

Cukuplah untaian kata tersebut  mampu menjadi nasehat dan renungan kepada kita sekalian.

Ingatlah, ketika Allah I berfirman, artinya : “Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk  menganiaya hamba-hamba-Nya”.
(QS:3:108).

Tahukah kita, para pendahulu (salaf) kita yang shalih sangat bersungguh-sungguh  dalam memperbanyak membaca al-Qur`an, karena mengharapkan keutamaan dan pahala yang begitu besar, serta karena cinta terhadap Kitabullah dan mendapatkan kenikmatan dengan membacanya.

Imam Abdurrahman al-Auza'i rahimahullah berkata : 'Ada lima perkara yang selalu dipegang para sahabat nabi dan para tabi'in yang mengikuti langkah mereka dalam kebaikan: Selalu bersama jama'ah kaum muslimin, mengikuti sunnah, memakmurkan masjid, membaca al-Qur`an dan jihad fi sabilillah."

Di antara para sahabat yang masyhur selalu bersama al-Qur`an adalah Utsman bin Affan t, sehingga diriwayatkan bahwa beliau pernah berkata: 'Jikalau hati kamu bersih niscaya kamu tidak pernah kenyang dari Kalamullah."

Mengapa mereka bisa seperti itu? Ya, karena Allah I menghilangkan rasa jemu dan bosan dari pembaca dan pendengarnya dengan keikhlasan dan kebenaran iman, dengan memberikan kemudahan membaca dan mendengarnya.  Firman Allah I , artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran” (QS. al- Qamar:17).

Ibnu Abbas t berkata : 'Kalau bukan karena kemudahan yang diberikan Allah I kepada manusia niscaya tidak ada seorang pun yang bisa membaca Kalamullah. [Lihat: ad-Durrul Mantsur 7/676].

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : "Carilah kenikmatan dalam tiga perkara : shalat, al-Qur`an dan doa. Jika kamu mendapatkannya maka pujilah Allah I  atas hal itu, dan jika kamu tidak mendapatkannya maka ketahuilah bahwa pintu kebaikan telah ditutup atasmu." [HR. al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman no. 7226].

Para pendahulu kita yang shalih pun, tidak hanya memberi perhatian terhadap membaca al-Qur`an lewat mushhaf, mereka juga berlomba-lomba dalam menghapalnya.

Di antara keutamaan menghapal al-Qur`an adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas t, ia berkata, 'Rasulullah r bersabda : "Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikitpun al-Qur`an di dalam rongganya, ia seperti rumah yang runtuh." [HR. Tirmidzi 2910].
Dan beliau r mengutamakan di antara para sahabatnya menurut kadar hapalan al-Qur`an mereka, apabila mengutus pasukan beliau r mengangkat imam dalam shalat bagi yang paling banyak hapalannya, mengedepankan di liang lahat bagi yang paling banyak hapalannya.

Keutamaan lainnya, dalam sebuah hadits Abdullah bin ‘Amr t, Rasulullah r  bersabda, artinya : “Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) Al Qur’an nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914, shahih kata Syaikh Al Albani).

Ibnu Hajar al-Haitami rahimahullah berkata, “Hadits di atas menunjukkan keutamaan khusus bagi yang menghafalkan Al-Qur’an dengan hatinya, bukan yang sekedar membaca lewat mushaf. Karena jika sekedar membaca saja dari mushaf, tidak ada beda dengan yang lainnya baik sedikit atau banyak yang dibaca. Keutamaan yang bertingkat-tingkat  adalah bagi yang menghafal Al-Qur’an dengan hatinya. Dari hafalan ini, bertingkat-tingkatlah kedudukan mereka di surga sesuai dengan banyaknya hafalannya....” (Al Fatawa Al Haditsiyah, 156).

Wallahu A’lam.





Kamis, 11 Oktober 2012

Mengingatkan : Hari – Hari Istimewa di Awal Dzulhijjah

Tak terasa, waktu terus berputar, menyisakan pahala atau dosa yang telah kita torehkan dalam panggung kehidupan ini. Hari berganti hari, masih saja Allah I  Yang Maha Kasih kepada hambaNya memberi kita kesempatan untuk terus mengumpulkan bekal di hari perjumpaannya kelak.

Allah I dengan kehendakNya, menjadikan sebagian waktu yang ada lebih mulia dibanding yang lainnya. Bulan ramadhan yang baru saja lewat, menyisakan kenangan manis di benak kita. Disusul bulan Syawal yang menjanjikan pahala sempurna terhadap puasa yang telah ditunaikan. Nah,  tidak sampai di situ, beberapa hari yang akan datang, bulan haji kan segera hadir.

Tahukah Anda bahwa ada hari-hari di bulan tersebut yang menyimpan keutamaan besar yang tidak pantas kita lewatkan begitu saja? Kapankah itu? Hari – hari tersebut adalah 10 hari di awal bulan ini. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah r bersabda, artinya, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya : “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi r  menjawab, Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun. (HR. Abu Daud dan lainnya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).


Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman, artinya, Dan demi malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr : 2).

Di sini Allah I menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah. (Lihat Taisir Karimir Rahman, ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H, hal. 923).

Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu : sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram. (Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, Al Maktab Al Islami, cetakan ketiga, 1404, 9/103-104).

Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah. (Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan tahun 1424 H, hal. 159).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.  (Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islamiy, cetakan pertama, tahun 1428 H, hal. 469)

Lantas, manakah yang lebih utama, apakah 10 hari pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?

Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan yang bagus tentang hal ini dalam kitabnya Zaadul Ma’ad : “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).” (Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, Muassasah Ar Risalah, cetakan ke-14, 1407, 1/35)

Amalan Utama di Awal Dzulhijah
Beberapa amalan yang dapat dilakukan memanfaat ketamaan hari – hari ini :

Pertama : Puasa

Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi r mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.

Sebuah hadits, dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi r  mengatakan, artinya, Rasulullah r biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulanny (Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi ), …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama. (Liha t Latho-if Al Ma’arif, hal. 459).

Kedua : Takbir dan Dzikir

Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan, Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir.
Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah. (Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”).

Catatan :
Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqayyad (dikaitkan dengan waktu tertentu). Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.

Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqayyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah.

Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arafah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Adapun bagi orang yang berhaji dimulai dari shalat Zhuhur hari Nahr (10 Dzulhijah) hingga hari tasyriq yang terakhir.

Cara bertakbir adalah dengan ucapan : Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.

Dan yang sesuai sunnah adalah bertakbir dengan sendiri – sendiri, tidak dilakukan secara berjamaah atau dipimpin oleh seseorang. Wallahu a’lam.

Ketiga : Menunaikan Haji dan Umroh

Yang paling afdhal ditunaikan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.

Keempat : Memperbanyak Amalan Sholeh

Sebagaimana hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan di atas, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar dan amalan sholeh lainnya.

Kelima: Berqurban

Yaitu menyembelih hewan qurban sesua dengan syarat dan cara yang telah dituntunkan oleh Allah I dan Rasulullah r (Insya Allah Anda dapat membaca penjelasan secara panjang lebar di buku Pandua Qurban yang akan dibagikan nanti – Lihat Pamflet).

Keenam : Bertaubat

Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama.

Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya. (Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, Dar Al Imam Ahmad, hal. 116, 119-121).


Maka, sudah seharusnya setiap muslim menyibukkan diri di hari-hari tersebut dengan melakukan ketaatan pada Allah, dengan melakukan amalan wajib, dan menjauhi larangan Allah I.

Wallahu A’lam.

(Cuplikan Isi Buku Panduan Qurban, Meraih Taqwa Dengan Ibadah Qurban Sesuai Tuntunan al-Qur’an dan Sunnah, yang akan segera terbit, Insya Allah).








Kamis, 04 Oktober 2012

Karena Setiap Orang Bisa Menjadi Baik

Setelah dua bulan lebih, buletin kita tercinta tidak menjumpai para pembaca sekalian, alhamdulillah berkat taufiq dan kemudahan dari Allah I, kali ini kami kembali hadir menyajikan kajian ilmu dinul Islam, warisan nabi kita yang mulia, Muhammad r.

Semoga kehadirannya dapat menyegarkan dan menambah khazanah keilmuan kita. Dan yang pasti, semoga dapat mengobati kerinduan para pembaca sekalian. Ya, semoga saja!

*********
Tidak semua manusia dipilih oleh Allah untuk kembali ke jalan yang lurus dan mengenal manhaj yang benar. Tidak semua orang dipilih dan dimudahkan oleh Alah untuk memahami agama ini dengan pehamaman yang benar sesuai dengan apa yang dipahami oleh Rasulullah r dan para sahabatnya. Tidak semua. Karena masih saja, sampai hari ini kita dapati sebagian kaum muslimin masih merasa nyaman dengan kekeliruannya, kesesatannya dan kebodohannya.
Maka saat Allah menuntun hidup kita untuk berjalan, berbuat, bekerja, berpikir, dan berbicara sesuai dengan manhaj salaf (pendahulu) yang shalih, itu berarti ada nikmat yang tak terkira besarnya yang harus kita syukuri. Ya, karena sadar atau tidak, sebenarnya kita telah menjadi pilihan-pilihan Allah di bumi.


Di saat banyak saudara-saudari muslim kita yang sadar untuk memperjuangkan Islam dengan manhaj dan metode apa saja, kita disadarkan oleh Allah bahwa “generasi akhir ummat ini tidak akan menjadi generasi yang shaleh dan jaya kecuali dengan jalan yang ditempuh oleh generasi awalnya” (La yashluhu akhiru hadzihil ummah illa bima shaluha bihi awwaluha). Demikian kata hikmah dari ulama kita. Kita pun berupaya untuk bergerak dan memperjuangkan agama ini sesuai kapasitas kita, tidak menyimpang dari dasar dan pijakan para generasi awal Islam, para sahabat, tab’in, atba’ at-tabi’in dan ulama yang mengikuti mereka.
Dampaknya, kita pun merasakan keizzahan (kemuliaan) yang luar biasa dahsyatnya dalam diri kita. Kita bangga berpenampilan sebagai salah seorang ikhwan atau aktivis Islam, dengan ciri dan karakteristik lahiriyah yang shaleh. Memelihara sunnah dalam berpakaian, memelihara syiar dan ibadah-ibadah mahdhah dan sunnah lainnya. Kita juga merasa mulia saat mewujud sebagai salah satu bagian dari komunitas akhawat, juga dengan ciri dan karakteristik lahiriyah yang shalehah. Menjaga aurat dengan pakaian muslimah yang sempurna, menjaga pergaulan terhadap para lelaki bukan mahramnya dan lainnya.
 Salahkah? Sampai di sini mungkin tidak ada masalah. Bahkan semoga hal tersebut menjadi alamat kebaikan buat kita di sisi Allah.
Hanya saja, seringkali keizzahan itu melanggar batas-batas yang semestinya. Keizzahan itu seringkali menyeret kita menjadi merasa shaleh sendiri dan memandang rendah orang lain yang berada di luar komunitas keshalehan kita. Mungkin tidak terungkapkan dengan kata-kata, tapi ia bersembunyi dalam gerakan-gerakan hati kita. Bahkan lebih parah lagi, obsesi keshalehan kita yang begitu tinggi membuat kita memandang orang lain “yang belum shaleh” sebagai makhluk-makhluk yang sudah tidak punya harapan lagi. Makhluk yang pantas menjadi gelap karena dosa dan kemaksiatannya.
Kita sering menjadi “buta” tiba-tiba hingga tidak lagi melihat ada celah buat mereka untuk kembali. Kita lupa, bahwa setiap orang sesungguhnya punya setitik kebaikan itu dalam dirinya. Kita lupa bahwa setiap orang sesungguhnya punya asa untuk mewujud sebagai orang yang baik, karena celah itu selalu ada untuk dilalui berkas cahaya.
*********
Terdapat sebuah kisah yang sungguh dapat menggugah kita tentang hal ini. Sebuah kisah yang benar-benar menampar kesombongan kita yang bersembunyi di balik keshalehan lahiriah kita. Kisah ini sendiri adalah kisah nyata yang dialami oleh seorang ulama Ahlussunnah, Syekh Ahmad bin Abdurrahman Ash-Shuwayyan, yang diungkapnya dalam buku berjudul Fi al-Bina’ al-Da’wy. Biarlah beliau sendiri yang mengisahkannya...
*********
Hari itu saya kembali dari sebuah perjalanan yang panjang. Dan di pesawat, Allah menakdirkan saya untuk duduk di samping sekelompok pemuda yang nampaknya senang sekali berfoya-foya dan berhura-hura. Tawa mereka sangat keras. Dan kegaduhan mereka pun semakin lama semakin menjadi-jadi. Kabin pesawat pun dengan cepat menjadi ruangan yang dipenuhi asap rokok mereka. Dan tampaknya sudah menjadi hikmah Allah bahwa pesawat itu benar-benar penuh, hingga tidak memungkinkan bagi saya untuk mencari tempat duduk lain.
Saya berusaha keras untuk lari dari ‘kesempitan’ ini dengan tidur. Tapi, mustahil dan sangat mustahil saya bisa tidur dalam suasana seperti itu. Maka ketika kegaduhan itu semakin membuat kejengkelan saya memuncak, saya pun mengeluarkan mushaf al-Qur’an, lalu membacanya dengan suara yang rendah. Ternyata, tidak lama kemudian sebagian dari anak-anak muda itupun mulai tenang. Sementara sebagian yang lain mulai membaca surat kabar, dan adapula yang mulai tidur dengan lelap.
Namun, tiba-tiba, salah seorang dari mereka berbicara dengan suara keras –dan ia duduk tepat di samping saya!- : “Cukup!…Cukup!”
Saya menduga suara saya terlalu keras hingga mengganggunya. Saya meminta maaf padanya. Saya pun kembali melanjutkan bacaan saya dengan suara yang membisik hingga hanya saya sendirilah yang mendengarnya. Tapi saya lihat ia menutupi kepalanya dengan kedua tangannya. Duduknya gelisah. Tidak pernah diam dan terus bergerak. Hingga ia kemudian mengangkat kepalanya dan berkata dengan penuh emosi  : “Tolong! Cukuplah sudah! Cukup! Saya sudah tidak bisa bersabar lagi!”
Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu menghilang selama beberapa lama. Tidak lama kemudian ia kembali lagi, mengucapkan salam kepada saya sembari meminta maaf. Ia terdiam. Dan saya tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Tapi sejenak kemudian ia menoleh pada saya, dan matanya basah oleh air mata. Ia berkata sambil berbisik: “Tiga tahun lamanya, bahkan lebih… Aku tak pernah meletakkan keningku di tanah…Aku tak pernah membaca satu ayat pun! Dan…satu bulan penuh ini aku habiskan dalam perjalanan ini… tidak satupun kemaksiatan yang tidak kukerjakan. Hingga aku pun melihatmu membaca al-Qur’an…Tiba-tiba saja dunia menjadi gelap di hadapanku…dadaku sesak…Aku merasa seperti tercekik. Iya, aku merasakan setiap ayat yang engkau baca menhantam tubuhku bagai cambuk..! Aku berkata pada diriku sendiri : Sampai kapan kelalaian ini?! Kemana aku akan berjalan di jalan ini?! Lalu apa setelah semua kelalaian dan kesenangan ini?! Hingga aku pun segera lari ke kamar kecil. Anda tahu kenapa?! Karena aku merasa sangat ingin menangis. Dan aku tidak menemukan tempat sembunyi dari pandangan orang lain selain di tempat itu!!”
Demikian ia berbicara padaku…Aku pun menyampaikan kalimat-kalimat seputar taubat dan kembali pada Allah…Dan ia pun terdiam.
Ketika pesawat mendarat di bumi, pemuda itu menghentikanku. Nampak sekali ia ingin menjauh dari teman-temannya. Ia bertanya padaku, dan wajahnya menampakkan air muka yang sangat serius: “Menurut Anda, apakah Allah masih berkenan menerima taubatku?”
Aku berkata padanya : “Jika engkau jujur dan sungguh-sungguh ingin kembali pada Allah, maka Allah akan mengampuni dosa apapun.” “Tapi aku telah melakukan terlalu banyak dosa…dosa-dosa yang begitu besar…,” ujarnya.
“Apakah engkau pernah mendengar firman Allah: “Katakanlah: Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas atas diri mereka, janganlah kalian putus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (QS. Az-Zumar:53)?” ujarku.
Kulihat wajahnya tersenyum penuh kebahagiaan. Kedua matanya berkaca dipenuhi air mata. Ia lalu mengucapkan selamat tinggal, dan pergi berlalu…
*********
Maha suci Allah yang Maha Agung!
Begitulah manusia. Sejauh dan setinggi apapun kedurhakaan yang telah ia lalui, tapi selalu saja ada celah kebaikan dalam jiwanya. Andai saja kita dapat berusaha sampai ke sana, lalu menyianginya dengan cinta, ia akan tumbuh dengan izin Allah. Karena setiap kita lahir di atas fitrah.
Akhirnya wahai saudara – saudariku ...
Kisah ini seharusnya membuat kita sadar untuk segera mereview kembali rasa izzah akan keikhwanan dan keakhawatan kita. Melihat kembali kebanggaan dan rasa kemuliaan kita setelah Alah memberikan hidayahNya. Jika tidak, bisa jadi saat izzah itu menjelma menjadi kesombongan. Jika itu yang terjadi mak ia tidak lagi perlu dibanggakan. Kebanggaan semacam itu hanya membuat kita meremehkan manusia lain, yang boleh jadi saat hidayah Allah bersemayam di hatinya, ia akan menjejakkan kakinya di surga terlebih dulu dibanding kita. Izzah” seperti itu hanya akan menyebabkan kita menjadi penghalang manusia untuk meraih hidayah Allah. Wallahul musta’an.

*) Diambil dan disadur dengan perubahan dari redaksi dari tulisan : “Karena Setiap Orang Menyimpan Setitik Kebaikan Dalam Jiwanya”, Oleh Muhammad Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si.