Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Rabu, 27 Maret 2013

Lidah, Memang Tak Bertulang

Lidah itu memang lunak tidak bertulang. Tapi dampak dan “rasanyabisa keras seperti tulang, bahkan lebih.  Seorang yang tidak menguasai ilmu beladiri pun bisa bersilat lidah.

Lidah itu tajam laksana pedang bahkan ia adalah pedang bermata dua. Jika luka tersayat pedang tidaklah susah untuk diobati. Tetapi hati yang terluka ditikam kata-kata, kemana kita hendak mecari penawarnya? Entah berapa banyak persaudaraan terputus ditebas lidah laksana pedang tadi.

Padahal Rasulullah rketika ditanya siapa muslim yang paling afdhal? Beliau r menjawab (artinya) : “Orang yang selamat kaum muslimin dari lisan dan tanganya” [HR. Bukhari dan Muslim].

Lidah itu berbisa bagai lidah ular yang bercabang dua. Ia bisa berbahaya bagi pemiliknya dan lawan bicaranya. Lidah bisa menjadi binatang buas yang bahkan memangsa tuannya sendiri. Makanya, ada ungkapan bijak yang berbunyi : “mulutmu harimaumu”.

Sebuah hadits dari Abu Hurairah t bahwasanya ia mendengar Nabi r berkata (artinya) :  “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk,ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah, bahwasanya seyogyanya bagi setiap hamba hendaklah ia menjaga lisannya dari seluruh ucapan kecuali ucapan yang ada maslahat padanya. Apabila berbicara atau diam sama maslahatnya, maka yang sesuai sunnah adalah memilih diam. Karena terkadang ucapan yang mubah dapat menyeret kepada yang haram atau makruh, bahkan galibnya inilah yang terjadi, dan keselamatan tidak ada yang bisa menyamai harganya” [Lihat Al-Adzkar Imam An-Nawawi (1/332)].

Nabi r bersabda (artinya) :  “Termasuk di antara baiknya islam(nya) seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya” [HR. At-Tirmidzi (2318)].

Seorang muslim, ketika dia hendak berbicara,  hendaknya ia menimbang apakah berguna atau tidak? Jika tidak berguna dia memilih diam.

Jika ternyata berguna dia menimbang lagi, apakah jika dia diam manfaatnya lebih besar dari pada berbicara?

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya ia berbicara dan jika ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya” [Lihat Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/332)].

Beliau juga pernah menasehati sahabat yang juga muridnya, “Janganlah kamu berbicara dalam perkara yang tidak berguna bagimu. Sesungguhnya jika engkau mengucapkan satu kata, ia akan menguasaimu dan engkau tidak bisa menguasainya” [Lihat Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi (1/335)].

Lidah adalah duta hati, jika engkau ingin mengetahui hati seseorang, lihatlah apa yang biasa dia ucapkan. Sesungguhnya itu akan menyingkap apa yang dihatinya, suka atau tidak suka.

Karena lidah itu itu seperti kuali yang mendidih, lidah adalah sendoknya. Perhatikanlah ketika seseorang berbicara, sesungguhnya ia sedang menyendokkan isi hatinya kepadamu, dengan  beragam rasa, pahit, manis, asam, pedas dan lainnya. Sebagaimana engkau bisa merasakan masakan dalam kuali dengan lidah. Engkau juga bisa merasakan hati lawan bicaramu dengan gerak lidahnya ketika bertutur-kata.

Sungguh mengherankan, seseorang bisa dengan mudah menjaga dirinya dari memakan yang haram, berbuat zalim, zina, mencuri, meminum khamar dan dari memandang yang haram, tetapi tidak bisa menahan gerak lidahnya yang lunak tidak bertulang. Bahkan seseorang yang zahirnya ta’at, berwibawa, sopan tetapi dia membiarkan lidahnya mengucapkan kalimat yang dianggapnya sepele padahal satu kalimat itu saja cukup untuk mencampakkannya ke dalam neraka.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jundub t, ia berkata, Rasulullah r bersabda (artinya), ‘Seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak mengampuni si fulan’. Maka Allah I  berkata, “Siapa orang yang lancang mendahuluiku mengatakan bahwa Aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni si fulan dan Aku hapus amalanmu”.

Subhanallah... Satu kalimat saja yang dianggapnya remeh menghapuskan amal-amalnya. Hilanglah sholat yang dulu dikerjakannya. Lenyaplah puasa yang dulu ditunaikannya. Sirnalah zakat, qiyam dan amal kebajikannya. Karena kelancangan lidahnya mendahului apa yang menjadi hak Allah I.

Dahulu, para salafus shalih sangat menjaga lidah mereka. Setiap saat mereka meng-hisab kalimat yang mereka ucapkan.

Ibnu Buraidah rahimahullah berkata, “Aku melihat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma memegang lidahnya lalu berkata, ‘Katakanlah yang baik engkau pasti beruntung. Atau diamlah dari keburukan engkau pasti selamat’. Maka ditanyakan kepadanya, ‘Kenapa engkau mengucapkan ini?’. Ia menjawab, “Aku dengar, bahwasanya seorang manusia tidak lebih menyesal dan marah kepada anggota tubuhnya selain dari pada lidahnya kecuali orang yang mengucapkan kata-kata yang baik atau menukilkan yang baik dengan lidahnya”.

Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lidahnya terjaga melainkan aku melihatnya pula pada seluruh amalannya. Dan seorang yang rusak tutur katanya melainkan aku melihatnya tampak pada seluruh amalanya”.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berpetuah, “Barangsiapa yang menganggap perkataannya bagian dari amalnya, niscaya sedikit perkataannya pada sesuatu yang tidak bermanfaat”.

Abu Hatim rahimahullahberkata, “Wajib bagi orang yang berakal agar berlaku adil kepada telinga dan mulutnya. Dia harus tahu, bahwa ia diberi dua telinga dan satu mulut adalah agar ia lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Karena kalau dia berbicara bisa jadi dia akan menyesali dan apabila tidak berbicara dia tidak menyesal. Dan dia akan lebih mudah membantah apa yang tidak dia ucapkan dari pada membantah apa yang telah dia ucapkan”.

Dulu, sebagian ulama tidak menerima hadits dari orang-orang yang berbicara atau mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak patut.
Namun, di balik itu semua, lidah juga dapat menyebabkan dua petaka besar, jika seseorang selamat dari yang satunya belum tentu selamat dari yang berikutnya. Dua petaka atau bencana itu adalah : petaka berbicara dan petaka diam.

Seorang yang bungkam dan mendiamkan kebenaran adalah setan yang bisu, bermaksiat kepada Allah I , bermuka dua dan menjilat , jika dia tidak mengkhawatirkan bahaya atas dirinya.

Dan orang yang mengucapkan perkataan yang batil adalah setan yang berbicara, bermaksiat kepada Allah I dengan kata-kata yang ia ucapkan.

Adapun orang-orang yang berjalan di atas jalan yang lurus – semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan mereka – berada di antara dua petaka tersebut. Mereka menahan lidah mereka dari perkataan yang batil dan melepaskannya untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak adakan dapatkan salah seorang mereka melontarkan kata-kata yang tidak mendatangkan manfaat apalagi yang bisa membahayakan di akhirat.

Rasulullah r bersabda (artinya) : “Bukanlah seorang mukmin itu suka mencela, melaknat, berkata yang keji dan kotor” [HR. Bukhari dan lainnya].

Seorang hamba, bisa jadi di hari kiamat datang membawa kebaikan sebesar gunung, lalu dia dapatkan ternyata lidahnya telah memusnahkan semuanya. Atau sebaliknya, dia datang membawa kesalahan yang banyak ternyata lidahnya menghapusnya karena dia banyak berdzikir dan yang berkaitan dengannya.

Ketika seseorang datang kepada Nabi rlalu berkata, “Hai Rasulullah nasehatilah aku’”. Rasul r bersabda (artinya) : “Jika engkau berdiri dalam shalatmu, maka shalatlah seolah-olah itu shalat terakhirmu. Dan janganlah engkau mengucapkan kalimat yang esok membuatmu menyesal dan bulatkanlah bersungguh-sungguhlah memutus harapan terhadap apa yang ada ditengan manusia”[HR. Ahmad dan Baihaqi dan dishohihkan oleh Al-Albani (Shahih Al-Jami’ no. 742)].

Kalau saja setiap kita memegang tiga wasiat ini; sholat dengan khusyu’, menjaga lidah, dan     menggantungkan harapan hanya kepada Allah, niscaya keberuntungan menyertai langkahnya.

Oleh karena itu ketika Uqbah bin Amir bertanya kepada Rasulullah, “Apa keselamatan itu?”. Maka Rasulullah rmenjawab (artinya) : “Tahanlah lidahmu dan jadikanlah rumahmu lapang bagimu, serta tangisilah kesalahanmu” [HR. Abdullah bin Al-Mubaarok dalam Az-Zuhud (no.134), Ahmad (5/259) dan At-Tirmidzi (2/65) (Ash-Shohihah 2/581).].

Semoga Allah menjaga kita semua dari petaka lidah … Semoga Allah menguatkan kita untuk menyuarakan kebenaran... Semoga Allah menguatkan kita untuk menahan lidah dari kebatilan, Amin.

Wallahu A’lam.

Maraji’ : “Lidah, Pedang Bermata Dua”, Abu Zubair dan lainnya

**************************************************
Begitulah Hidup

Di dalam hidup, banyak orang yang datang dan pergi. Allah telah menjumpakan kita dengan orang-orang yang Dia telah gariskan dalam catatan takdir
Mereka pun datang silih berganti.

Ada yang melintas dalam segmen singkat, namun membekas di hati. Ada yang telah lama berjalan beiringan, tetapi tak disadari arti kehadirannya. Ada pula yang begitu jauh di mata, sedangkan penampakannya melekat di hati.

Ada yang datang pergi begitu saja seolah tak pernah ada. Semua orang yang pernah singgah dalam hidup kita bagaikan kepingan puzzle yang saling melengkapi dan membentuk sebuah gambaran kehidupan. Maka sudah fitrah, bila ada pertemuan pasti ada perpisahan..

Di mana ada awal, pasti akan ada akhir. Akhir sebuah perjalanan, ia akan menjadi awal bagi perjalanan lainnya,,,

Sebuah perpisahan, ia akan menjadi awal pertemuan dengan sesuatu yang baru. Well, that’s life must be...

Kalau kita tidak bisa berjumpa lagi di dunia, semoga Allah I mengumpulkan kita di jannah (surga).

Bukankah Nabi r bersabda (artinya) :
Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang kami harap, semoga persaudaraan kita tidak hanya di dunia, namun berakhir pula di jannah. Amin

Selamat Jalan Saudaraku
Ustadzuna al-Fadhil Sahaba Dg. Ampa (rahimahullah)

(Da’i Perintis Wahdah Islamiyah. Meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Bulukumba. Kami mengenalnya sebagai seorang shaleh, bersahaja, dan semangat dalam memperjuangkan tegaknya agama Allah I dengan amar ma’ruf dan nahi munkar.Semoga Allah I merahmati beliau dan menempatkannya pada derajat tertinggi di sisiNya. Amin ya Rabb). (Redaksi)

Maraji’ :

Kamis, 21 Maret 2013

Alasan Wanita Tidak Berhijab


Allah I telah mewajibkan hijab (baca : jilbab syar’i) atas setiap wanita demi melindungi kesuciannya dan menjaga kehormatannya serta menjadi pertanda bagi keimanannya.

Namun, ironisnya, penampakan yang hari ini menghiasi kehidupan kita adalah tersebarnya fenomena sufur(keberadaan wanita keluyuran di luar rumah) dan tabarruj (terbukanya aurat wanita, rambut, leher, wajah, lengan, kaki dan segala perhiasan dan dandanannya).

Sekali lagi, sangat disayangkan, fenomena tidak sehat ini telah menjadi ciri khas masyarakat Islam, meskipun pakaian islami masih tersebar di dalamnya.

Maka pertanyaannya adalah : Mengapa kaum muslimah memilih untuk tidak berhijab, menutup aurat dan melindungi harga diri, kesucian dan kehormatan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ternyata ada beberapa alasan pokok, yang kalau kita cermati ternyata kesepuluh alasan itu sangat rapuh dan lemah.


Berikut ini beberapaalasan mereka beserta tanggapannya.

‘Saya belum yakin dengan hijab.’

Maka kita ajukan dua pertanyaan :

Pertama : Apakah mereka secara mendasar telah yakin dengan keberadaan Islam?

Jawabannya pasti “Ya”, karena ia mengucapkanLaa Ilaaha Illallah”. Ini berarti mereka telah yakin dengan aqidah Islam. Dan mereka juga telah mengucapkanMuhamadan Rasulullah, ini berarti mereka telah yakin dengan  syariat Islam. Jadi mereka telah menerima syariat Islam sebagai aqidah, syariat dan jalan hidup.

Kedua : Apakah hijab termasuk bagian dari syariat Islam dan kewajibannya?

Seandainya mereka ikhlas dan mencari kebenaran dalam masalah ini tentu mereka akan mengatakan “Ya”, karena Allah I yang kita imani sebagai satu-satunya sesembahan yang benar telah memerintahkan hijab didalam kitab suci-Nya, dan Rasul r yang kita imani sebagai utusan Allah telah memerintahkan hijab di dalam sunnahnya.
Saya telah yakin dan menerima kewajiban syariat hijab, akan tetapi ibu saya melarang saya untuk memakainya, kalau saya mendurhakainya pasti saya masuk neraka.”

Alasan ini telah dijawab oleh makhluk Allah yang paling mulia yaitu Rasulullah r  dalam ungkapannya yang sangat singkat dan bijak :
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
artinya : “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal mendurhakai sang pencipta.”

Kedudukan kedua orang tua terutama ibu adalah sangat tinggi dan luhur, bahkan Allah I menyandingkannya dengan perkara yang paling agung yaitu ibadah menyembah kepada-Nya dan bertauhid kepada-Nya, dalam banyak ayat sebagaimana firman Allah dalam QS. an-Nisa: 36.

Jadi taat kepada kedua orangtua tidak dibatasi oleh apapun kecuali satu hal yaitu jika keduanya memerintahkan untuk bermaksiat kepada Allah.

Nah, sekarang bagaimana Anda para wanita menjawabya?

“Udara panas di negeri kami, saya tidak tahan, bagaimana  jika saya memakai hijab?

Kepada orang-orang seperti ini Allah I  mengatakan (artinya) : “Katakanlah: “Api nereka Jahannam itu lebih sangat panas(nya) jikalau mereka mengetahui.” (QS. At-Taubah: 81).

Bagaimana bila engkau bayangkan antara panasnya negerimu dengan panasnya api jahannam?

Ketahuilah bahwa setan telah membelitmu dengan salah satu tipu dayanya yang rapuh agar engkau terbebas dari panasnya dunia menuju panasnya neraka.

Selamatkanlah dirimu dari jerat-jerat setan, jadikanlah teriknya matahari sebagai nikmat bukan sebagai siksa, karena ia mengingatkanmu kepada dahsyatnya adzab Allah I pada hari dimana panasnya melebihi penasnya dunia dengan berlipat-lipat ganda.

Saya takut bila saya berhijab sekarang maka suatu saat nanti saya akan melepaskannya sebab saya melihat banyak yang melakukan seperti itu.”

Kepadanya kita katakana : “Seandainya semua manusia berfikir dengan logika seperti ini tentu mereka meninggalkan agama ini secara total, tentu mereka telah meninggalkan shalat, karena sebagian mereka khawatir meninggalkannya. Tentu mereka juga tidak mau berpuasa karena banyak dari mereka khawatir jika suatu saat akan meninggalkannya … dst.

Tidakkah engkau perhatikan bagaimana sekali lagi setan menjerat engkau dengan jaring-jaringnya yang rapuh agar engkau meninggalkan cahaya hidayah?

Bukankah, Rasulullah r telah bersabda (artinya) : “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling langgeng meskipun sedikit.

“Saya khawatir, jika saya mengenakan pakaian syar’i, saya akan dicap sebagai kelompok tertentu, sedangkan saya tidak suka tahazzub (berpecah belah atas dasar fanatisme golongan).”

Sesungguhya di dalam Islam itu hanya ada dua hizb (kelompok) tidak ada yang lain. Keduanya disebutkan oleh Allah didalam kitab sucinya.

Hizb pertama disebut dengan hizbullah. Yaitu orang yang ditolong oleh Allah I kerena ia mentaati perintah-perintah-Nya dan manjauhi larangan-larangan-Nya. Kelompok kedua disebut hizbusysyaithan yaitu orang yang mendurhakai Allah I, mentaati setan dan banyak berbuat kerusakan dimuka bumi.

Ketika engkau mematuhi perintah Allah I yang di antaranya adalah hijab maka engkau tergabung dalam hizbullah yang beruntung. Dan ketika engkau bertabarruj menampakkan kecantikanmu maka engkau suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar telah naik di atas perahu setan bersama rombongan mereka dari kelompok munafiqin dan kuffar. Sungguh mereka adalah seburuk-buruk teman.

Nah, sekarang, di hizb mana engkau wahai Saudariku?

“Ada yang mengatakan kepada saya: “JIka engkau berhijab maka tidak ada laki-laki yang menikahimu.” Oleh karena itu saya tanggalkan dulu masalah hijab ini hingga saya menikah.”

Ukhti, sesungguhnya suami yang menginginkanmu keluar rumah dengan membuka aurat, dan bermaksiat kepada Allah I adalah suami yang tidak layak untukmu, suami yang tidak cemburu atas kehormatan Allah I, tidak cemburu atas dirimu, dan tidak menolongmu untuk dapat memasuki surga dan selamat dari neraka.

Sesungguhnya rumah tangga yang dibangun di atas dasar maksiat kepada Allah I dan di atas kemurkaan-Nya adalah pantas bagi Allah I untuk menulisnya sebagai keluarga yang sengsara di dunia dan akhirat.

Setelah itu, sesungguhnya pernikahan itu adalah nikmat dari Allah yang dianugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, betapa banyak wanita berhijab yang menikah, betapa banyak wanita yang safirah (sering keluar rumah) mutabarrijah(membuka aurat, kecantikannya) tidak menikah.

Apabila engkau mengatakan, bahwa sufurku dan tabarrujku adalah sarana bagi tujuan yang suci yaitu pernikahan, maka tujuan yang suci tidak menghalalkan cara-cara yang rusak dan maksiat dalam Islam. Apabila tujuan mulia maka saranapun harus mulia karena kaedah dalam Islam :
الْوَسَائِلُ لَهَا حُكْمُ الْمَقَاصِدِ
artinya : “Washilah (sarana) itu memiliki hukum seperti hukum maksud (tujuan)”.


Saya mengetahui bahwa hijab itu wajib, akan tetapi saya akan komitmen dengannya setelah Allah memberikan hidayah nanti.”

Tanyakan kepada ukhti ini, apa langkah-langkah yang ia tempuh agar mendapatkan hidayah dari Allah ini?!
Kita mengetahui bahwa Allah I menjadikan segala sesuatu itu ada sebabnya. Oleh karena itu orang yang sakit minum obat supaya sembuh, seorang musafir naik kereta atau kendaraan supaya sampai ketempat tujuan dst.

Apakah ukhti ini benar-benar jujur telah mengikuti jalan hidayah dan mengerahkan kemampuannya untuk sebab-sebab yang dapat mengantarkan kepada hidayah?

Seperti berteman dengan wanita-wantia shalihah, kerena mereka adalah sebaik-baik penolong untuk mendapatkan hidayah dan mempertahankannya, sehingga ia betul-betul komitmen dengan perintah-perintah Allah I , dan memakai hijab yang diperintahkan oleh Allah I  kepada wanita-wanita beriman.

“Belum waktunya saya memakai hijab, karena saya masih kecil, nanti kalau saya sudah besar dan sudah haji saya akan berhijab.”

Pernahkah engkau membaca firman Allah I yang artinya : Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat pula memajukannya.” (Qs. al-A’raf: 34).

Tidak tahukah  engkau wahai Saudariku, jika Malaikat mencabut nyawa dengan tidak pandang bulu, besar ataupun kecil. Bisa saja ajal menjemputmu ketika engkau masih bermaksiat kepada Allah I dengan maksiat besar seperti ini; engkau melawan Allah dengan sufur dan tabarrujmu.
“Saya tidak berhijab karena mengamalkan firman Allah I  (artinya) : “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. al-Dhuha: 11).

Bagaimana saya harus menyembunyikan nikmat kecantikan yang telah Allah I berikan kepada saya seperti rambut yang lembut, paras yang cantik dan kulit yang indah?!

Kita katakan : Ukhti ini bersedia mengikuti firman Allah I dan komitmen dengan perintah Allah, tetapi sayang selama itu sesuai dengan hawa nafsunya dan menurut pemahaman yang semaunya. Dan meninggalkan perintah-perintah dari sumber yang sama ketika tidak bernafsu kepadanya, yaitu perintah berhijab pada QS. An-Nur: 31 dan QS. al-Ahzab: 59).

Sesungguhnya nikmat Allah I yang terbesar adalah nikmat iman dan hidayah. Lalu mengapa engkau tidak menampakkan dan memperbincangkan nikmat Allah I yang terbesar ini yang diantaranya adalah hijab syar’i.

“Ya Allah, janganlah Engkau simpangkan hati kami ini setelah Engkau berikan hidayah kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami dari sisi-Mu sebuah rahmat, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi.”

Wallahu A’lam.

Maraji’ :
Majalah Qiblati Edisi 2 Tahun I

Kamis, 14 Maret 2013

Meraih Doa Malaikat

Malaikat adalah salah satu makhluk Allah I yang memiliki kedudukan sangat tinggi di sisi-Nya. Ia merupakan makhluk yang selalu menta’ati Allah I dalam setiap keadaan. Hal ini sebagaimana firman Allah I dalam surah at-Tahrim ayat 6 (artinya) : “Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Allah I juga mensifatkan malaikat sebagaimana dalam firmanNya (artinya) : “Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya (QS. Al-Anbiya : 26-28).

Di dalam al-Qur’an ada satu ayat yang sangat terkenal bahkan selalu dan sering kita mendengarnya, khususnya pada saat kita menghadiri shalat Jumat, yakni surah al-Ahzab ayat 56 yang berbunyi :


“Innallaha wa malaaikatahu yushalluuna ‘alannabiy, yaa ayyuhalladzina aamanuu, shallu ‘alaihi wa shallimuu tasliimaa”

artinya : “Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang berima,  bershalawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Pernahkah kita bertanya, apa makna shalawat Allah I dan MalaikatNya?

Pertama, makna shalawat Allah I kepada hambanya, para ulama kita telah mengungkapkan beberapa makna :
1. Pujian Allah I kepada para hamba di hadapan para malaikat. Makna ini diungkapkan oleh Abul ‘Aliyah rahimahullah sebagai penjelas makna shalawat Allah kepada Nabi-Nya yang mulia, yaitu : “Shalawat Allah kepada Nabi-Nya adalah sebuah pujian di hadapan para Malaikat.” (Kitab Shahih Bukhari kitab at-Tafsir bab Innalllaha wa Malaikatahu Yusholluna ‘alannabiy).

2. Penyucian Allah I kepada hamba-Nya. Imam ar-Raghib al-Ashfahani rahimahullah berkata : ”Sebenarnya shalawat Allah kepada kaum muslimin bermakna penyucian Allah kepada mereka.” (Lihat Kitab al-Mufradat fii Gharibil Qur’an).

3. Kasih saying Allah I  kepada para hamba. Imam Abu ‘ubaid al- rahimahullah berkata : ”Ia merupakan sebuah wujud kasih saying dari Allah.”

4. Kemuliaan dari Allah I . Makna ini diungkapkan oleh Sufyan ats-Tsaury rahimahullah.

5. Keberkahan dari Allah. Makna ini diungkapkan oleh Abu Ubaidah rahimahullah (Dalam Zadul Masir).

Kedua, adapun makna shalawat para malaikat kepada para hamba Allah, al-Hafiz Ibnul Jauzi rahimahullahberkata : ”Ada dua pendapat tentang makna shalawat para malaikat kepada para hamba Allah, yakni :

1. Do’a Malaikat kepada mereka. Makna ini diungkapkan oleh Abul ‘Aliyah rahimahullah  (Kitab Shahih Bukhari kitab at-Tafsir bab Innalllaha wa Malaikatahu Yusholluna ‘alannabiy).

2. Permohonan ampunan yang mereka panjatkan kepada Allah I  untuk para hamba. Makna ini diungkapkan oleh Muqatil rahimahullah (Dalam Zadul Masir).

Sedangkan lawan dari shalawat adalah laknat. Apa makna laknat Allah, malaikat dan manusia?

Laknat maknanya adalah pengusiran karena kemurkaaan. Laknat Allah I pada hari kiamat dalam bentuk siksaan, sedangkan di dunia dalam bentuk terputusnya seorang hamba dari kasih sayang dan pertolongan-Nya, sedangkan dari manusia dalam bentuk sebuah do’a agar orang yang terlaknat tertimpa bencana. (Lihat al-Mufradat fii Gharibil Qur’an).

Nah, dari beberapa penjelasan di atas, sebagai manusia yang cerdas, tentulah kita sangat berharap dan ingin meraih doa dan shalawat dari Allah dan malaikatNya.

Jika saja, seseorang dibolehkan untuk bertawassul kepada orang shalih yang masih hidup untuk mendoakannya kepada Allah I, karena diharapkan bahwa kemungkinan terkabulnya doa tersebut lebih besar (karena dia adalah orang yang shalih), maka bagaimana lagi jika yang mendoakan kita adalah para malaikat Allah I ? Bukankah malaikat adalah makhluk Allah I yang tidak pernah bermaksiat dan selalu taat kepadaNya?

Jauh sebelum kita lahir, Rasulullah r telah mengabarkan kepada kita, tips dan trik meraih doa para malaikat tersebut. Tentu dengan harapan agar kita lebih termotivasi dalam beramal shalih meskipun itu nampak kecil. Dan yang pasti itu semua untuk kebaikan kita di dunia dan di akhirat.

Apa sajakah “tips dan trik” itu?

Berikut kami sampaikan satu per satu secara singkat :

Tidur Dalam Keadaan Bersuci

Imam Ibnu Hibban rahimahullah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar t, bahwa Rasulullah r bersabda (artinya) : "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa `Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur
dalam keadaan suci (Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37).

Ini nampak sepele. Namun ganjarannya begitu besar. Subhanallah.

Duduk Menunggu Shalat

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah t,bahwa Rasulullah r bersabda, (artinya) : "Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya `Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'"(Shahih Muslim no. 469).

Berada di Shaf Awal

Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin `Azib t, bahwa Rasulullah r  bersabda (artinya) : "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf- shaf terdepan" (Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130).

Menyambung Shaf (Tidak Membiarkan Sebuah Kekosongan di Dalam Shaf)

Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu
Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha, bahwa Rasulullah r bersabda (artinya) :"Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf – shaf (Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272).

Mengucapkan `Amin' Ketika Seorang Imam Selesai Membaca Al Fatihah

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r  bersabda (artinya), "Jika seorang Imam membaca `ghairil maghdhuubi `alaihim waladh dhaallin', maka ucapkanlah oleh kalian `aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782).

Saudaraku, jika kita pun terpaksa luput dari takbiratul imam, maka upayakanlah untuk tidak lagi luput dari mengucapkan “Amin” bersama para malaikat, mengingat keutamaannya yang agung.

Shalat Shubuh Dan `Ashar Berjama'ah

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r  bersabda (artinya) : "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat `ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat `ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka
ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah).

Mendoakan Saudaranya Tanpa Sepengetahuannya

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummu Darda' radhiallahu anha, bahwasannya Rasulullah r bersabda (artinya), "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata `aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733).

Maka, pilihlah doa-doa yang terbaik untuk saudara kita yang lainnya, karena itu pun akan kita peroleh.

Nah, sudahkah kita mendoakan saudara semuslim di negeri-negeri yang saat ini mereka tertindas, di Suriah, Palestina, Myanmar dan tempat lainnya? Jika belum, doakan mereka segera Saudaraku...

Orang-Orang yang Berinfak

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah t, bahwa Rasulullah r bersabda (artinya), "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, `Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, `Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit(Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010).
Orang yang Makan Sahur

Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar t, bahwa Rasulullah r bersabda (artinya), "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519).

Menjenguk Orang Sakit

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib t, bahwa Rasulullah r  bersabda (artinya),"Tidaklah
seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al-Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih").

Mengajarkan Kebaikan Kepada Orang Lain

Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily t, bahwa Rasulullah r  bersabda (artinya),"Keutamaan seorang alim atas seorang ahliibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343).

Wallahu a’lam.