Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Kamis, 30 Januari 2014

Mendadak Ngustadz

Sebuah hal menarik di sebuah negeri entah berantah, semua bisa dibuat serba instan. Dengan modal keterampilan mengolah kata atau retorika, seseorang bisa dengan mudah “diustadzkan”.

Dengan modal kitab al-Qur'an dan terjemahannya, seseorang bisa langsung menafsirkan al-Qur'an  al-Karim. Dengan sedikit modal bahasa arab, ditambah laptop atau smartphone, seseorang langsung dapat membuka pengajian dan akhirnya tanpa sungkan berfatwa pada masalah-masalah yang memerlukan kompetensi fiqih tingkat tinggi.

Mereka berfatwa pada masalah-masalah yang seandainya ditanyakan kepada Umar bin Khattab t, niscaya beliau akan mengumpulkan ahli Badr (para sahabat yang ikut perang Badr) untuk mencari jawabannya.

Fenomena terakhir yang muncul, seorang mentalis (mungkin paranormal) yang tiba-tiba tampil sebagai mufassir. Konon tafsirnya “luar biasa”. Ya, benar saja, karena memang keluar dari yang biasa. 


Hari ini, banyak orang, kecuali yang dirahmati Allah I, merasa kurang jika tidak bicara soal agama, tak peduli apa latar belakang pendidikannya (formal maupun non-formal). Bahkan, menjadi sesuatu yang “wah” dan akan mendapat apresiasi tinggi apabila ada orang “bicara” bukan pada bidangnya.

Dengan gelar “Prof. DR.” seseorang bebas untuk bicara di bidang apa saja yang diinginkan. Sang awam, menanggapinya dengan ketakjuban dan penerimaan, meskipun sungguh terkadang “bicara”nya tidak didasari dengan ilmu. Padahal, “Ilmu itu adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kamu mengambil agamamu”, kata Ibnu Sirin rahimahullah.

Sebenarnya, secara umum, apapun latar belakang pendidikan seseorang tak jadi masalah, hanya saja hendaklah kita mengenali kapasitas diri. Setiap bidang punya ahlinya. Apalagi dalam perkara atau bidang agama. Semuanya harus didasari dengan ilmu yang shahih. Wallahu a’lam.

Orang-orang shalih terdahulu (salaf) sangat takut untuk mengomentari sesuatu dalam agama tanpa ilmu. Mereka takut jika akhirnya tergelincir meski sejengkal dari manhaj rabbani.

Abu Bakar ash-Shiddiq t berkata : “Bumi mana yang akan aku pijak, dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku berkata tentang ayat dari kitab Allah dengan ra’yu (pendapat) ku atau dengan apa yang aku tidak tahu”.

Ibnu Asakir rahimahullah meriwayatkan dalam Tarikh Dimasyq, bahwa Atha Ibnu Rabah rahimahullahpernah ditanya tentang sesuatu. Beliau rahimahullah menjawab : “Aku tidak tahu”,kemudian  penanya tadi berkata : “Tidakkah engkau mau mengutarakan pendapat pribadimu dalam masaalah ini?” Atha rahimahullahmenjawab : "Aku malu kepada Allah, jika orang-orang di muka bumi ini beragama dengan pendapatku". 

Bandingkan sifat kehati-hatian salaf dengan sifat sebagian orang saat ini, yang ilmunya (mungkin saja) tidak sampai sepersepuluh dari ilmu mereka, namun nampak layaknya seorang mujtahid (ahli ijtihad) yang begitu mudah menghukumi sesuatu dalam agama.

Sejatinya, fenomena  ini bukanlah hal yang mustaghrab(patut dianggap aneh). Sebab Rasulullah r telah jauh-jauh hari mengabarkan akan munculnya fenomena ini. Beliau rbersabda, artinya : “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah).

Dan kita sepakat bahwa agama adalah urusan terpenting, urusan kaum muslimin, masyarakat luas. Hadits di atas  menunjukkan pentingnya kejujuran dan mengandung peringatan dari bahaya kedustaan.

Rasulullah rbersabda, artinya : “Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke surga. Apabila seseorang terus menerus bersikap jujur dan berjuang keras untuk senantiasa jujur maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai orang yang shiddiq. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu akan menyeret kepada kefajiran, dan kefajiran akan menjerumuskan ke dalam neraka. Apabila seseorang terus menerus berdusta dan mempertahankan kedustaannya maka di sisi Allah dia akan dicatat sebagai seorang pendusta.” [HR. Muslim].

Selain itu, hadits ini juga menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan memperingatkan dari bahaya mengkhianati amanah.

Rasulullah r  bersabda, artinya : “Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah datangnya hari kiamat.” Lalu ada yang bertanya, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?”. Maka beliau menjawab, “Apabila suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kiamatnya.” [HR. Bukhari]. 

Pilar Dakwah Seorang Da’i

Dakwah, adalah satu ibadah yang sangat agung, ladang untuk menuai pahala, dan tugas sangat mulia yang Allah I embankan di pundak para rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Namun, banyak yang tidak memahami makna dan tujuan dakwah yang sebenarnya, sehingga tidak mengajak kepada Allah I tetapi justru mengajak kepada selain-Nya.

Seorang ustadz dan dai’ hendaknya memahami pilar-pilar dakwah ilallah sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah I dan RasulNya r dan menjadikannya sebagai dasar dan penyokong dakwahnya. Di antara pilar tersebut adalah :

Pertama, seorang dai, hendaklah membekali diri dengan ilmu.

Allah Iberfirman kepada Nabi-Nya, artinya : "Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata". [QS. Yusuf : 108].

Makna dari "bashirah" adalah ilmu serta pengetahuan yang sempurna terhadap apa yang ia dakwahkan.

Allah Iberfirman, artinya : “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [QS. Al-Isra`: 36].

Allah I  juga berfirman, artinya : “Janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram.” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” [QS. An-Nahl: 116].

Kedua, hendaklah tujuan utamanya adalah ikhlas karena Allah I  dan hanya untuk meraih ridha Allah Isemata, serta memberikan manfaat kepada orang lain. Bukan karena riya', sum'ah, ingin mendapat ketenaran dan keinginan pribadi dan lainnya.

Allah Iberfirman, artinya : "Aku mengajak (kamu) kepada Allah" [QS. Yusuf : 108].

Apabila seseorang berdakwah tanpa landasan ilmu maka bisa jadi dia menyangka telah menyeru kepada kebaikan, namun pada kenyataannya dia telah menyeru kepada kesalahan dan kebid'ahan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : "Jika hal itu (ilmu dan fiqih) menjadi tolak ukur seluruh amal shalih, maka wajib bagi pelaku amar ma’ruf nahi munkar untuk memenuhi kriteria tersebut dalam dirinya, dan tidak dikatakan amal shalih apabila dilakukan tanpa ilmu dan fiqih, sebagaimana pernyataan Umar bin Abdil Aziz : “Orang yang menyembah Allah tanpa ilmu, maka kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar dari kemaslahatan yang dihasilkannya”.

Beliau rahimahullahmelanjutkan, “Ini sangat jelas, karena niat dan amal yang tidak disertai ilmu merupakan kebodohan, kesesatan dan (bentuk) pengikutan terhadap hawa nafsu, maka dari itu ia harus mengetahui kema’rufan dan kemunkaran dan dapat membedakan keduanya serta harus memiliki ilmu tentang apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang.” [Secara ringkas dari Majmu’ Fatawa 28 hal: 135-137. Jilid: 14 bagian ke dua hal: 78, cetakan Daarul Wafaa'].

Ketiga, memulai dengan yang terpenting. Masalah terpenting di dalam agama Islam adalah masalah aqidah.

Oleh sebab itu, seorang dai hendaklah memulai dakwahnya dengan menjelaskan aqidah yang benar sebelum dia menyampaikan yang lainnya. Inilah yang diwasiatkan Rasulullah r ketika beliau mengutus Mu'adz bin Jabal t ke Yaman. Beliau r  bersabda, artinya : "Sesunguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari Ahli Kitab, maka ajaklah mereka kepada syahadat La Ilaha Illallah wa Anna Muhammadar-Rasulullah. Kalau mereka menerima, sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan shalat lima waktu sehari semalam. Kalau mereka menerima, sampaikanlah bahwa Allah mewajibkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan dibagikan untuk orang miskin" [HR. Bukhari].

Keempat, berusaha mengamalkan ilmu yang ia miliki sebelum menyampaikan kepada orang lain.

Allah I  berfirman, artinya : "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?" [QS. al-Baqarah : 44].

Allah I  juga berfirman, artinya : "Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" [QS. ash-Shaf : 2-3].

Kelima, berhias diri dengan kesabaran. Seorang dai hendaklah bersabar atas gangguan yang ia dapatkan di jalan dakwah. Allah I berfirman mengisahkan tentang perkataan Luqman kepada anaknya: "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)" [QS. Luqman : 17].

Demikian yang dapat kami tuliskan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Maraji :

·       Majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XII/1429H/2008M
·       http://muslim.or.id/manhaj/hati-hati-dengan-ruwaibidhah.html

Kamis, 02 Januari 2014

Banjir, Mengapa Terjadi?

Banjir, salah satu bentuk bencana alam yang saat ini melanda sebagian wilayah negeri kita tercinta, Indonesia. Sebut saja, Jakarta, Manado, Subang dan beberapa wilayah lainnya.

Dalam menyikapi kondisi ini, kebanyakan manusia hanya menjadikan perkara-perkara lahiriyah yang kasat mata sebagai barometer dalam menilai fenomena banjir ini.

Kebanyakan manusia menilai bahwa banjir (hanya) terjadi karena tersumbatnya sungai sebagai aliran air, bobolnya tanggul, curah hujan yang tinggi, dan lainnya.

Salahkah? Hal ini jelas tidak salah dan sah-sah saja. Namun sayangnya, pernahkah kita tergerak untuk memahami hakekat yang tersembunyi dari setiap kejadian yang tampak secara kasat mata? Sadarkah kita bahwa kerusakan yang nampak secara kasat mata terkadang disebabkan oleh kerusakan yang tidak kasat mata dan kerap lebih parah dan fatal akibat buruknya?


Allah Iberfirman (artinya) : “Mereka hanya mengetahui ynag lahir (nampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai(QS. Ar-Ruum : 70).

Dalam sebuah firmanNya, Allah I  juga telah mengingatkan kita (artinya) : “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum : 41).

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah I menyatakan bahwa penyebab utama semua kerusakan yang di muka bumi dengan berbagai bentuknya adalah karena perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan oleh manusia.

Imam Abul 'Aliah ar-Riyahi rahimahullah bekata : “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi berarti dia telah berbuat kerusakan di muka bumi, karena bumi dan langit itu baik karena sebab ketataan (kepada Allah I) [Dinukil oleh Imam Ibnu Kastir dalam tafsir beliau (3/576)].

Dalam ayat lain, Allah Iberfirman (artinya) : “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan oleh perbuatan (dosa)mu sendiri(QS. Asy-Syuura : 30).

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah menafsirkan ayat ini dan berkata : “Allah I memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, baik pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan – perbuatan buruk (maksiat) yang pernah mereka lakukan” [Lihat Tafsir Karimir Rahman hal. 759].

Tak terkecuali dalam hal ini, musibah dan kerusakan yang terjadi dalam rumah tangga, hubungan tidak harmonis antara suami isteri, pertengkaran, kedurkahan anak dan lainnya. Makanya sebagian salaf (ulama terdahulu) pernah berkata : “Sungguh ketika aku bermaksiat kepada Allah I , maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku isteriku” [Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam al-Da'u wad Dawa' hal.68].

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Tujuan Allah Imenciptakan manusia dan menempatkan mereka di bumi serta melimpahkan rezeki kepada mereka agar bisa menopang mereka dalam melaksanakan ketaatan dan beribadah kepada Allah I. Jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah I(maksiat) berarti mereka telah berusaha merusak dan menghancurkan tujuan utama penciptaan bumi” [Lihat Tafsir Karimir Rahman hal.42].

Makanya, kematian seorang pelaku maksiat merupakan sebab utama penurunan angka kerusakan di bumi. Rasulullah r bersabda (artinya) : “(Kematian) seorang hamba yang fajir (banyak berbuat maksiat) akan menjadikan manusia, negeri pepohonan dan binatang terlepas (terhindar dari kerusakan akibat perbuatan maksiatnya)” [HR. Bukhari dan Muslim].

Syirik dan Bid'ah Adalah Sebab Kerusakan Terbesar 

Apakah bentuk maksiat dan kezhaliman terbesar? Jawabannya adalah syirik. Karena ia adalah dosa yang paling besar di sisi Allah I , maka kerusakan yang ditimbulkannya pun sangat besar, bahkan menjadi sebab utama kerusakan di muka bumi.

Imam Qatadah dan As-Suddi rahimahumallahu berkata : “Kerusakan (yang sesungguhnya) adalah perbuatan syirik. Inilah kerusakan yang paling besar” [Dinukil oleh Imam Qurtubi dalam tafsir beliau 14/40].

Demikian pula perbuatan bid'ah. Semua seruan dakwah yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah r pada hakekatnya merupakan sebab terjadinya kerusakan di bumi.

Imam Abu Bakar Ibnu 'Ayyasy al-Kufi rahimahullah ketika ditanya tentang makna firman Allah I (artinya) : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi, sesudah Allah memperbaikinya...”(QS. Al-A'raf : 56), beliau mengatakan : “Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad r kepada umat manusia, (ketika) mereka dalam keadaan rusak. Lalu Allah I  memperbaiki (keadaan) mereka dengan (petunjuk yang dibawa) Nabi Muhammad r. Sehingga orang yang mengajak (manusia) kepada selain petunjuk yang dibawa Nabi r berarti dia temasuk orang-orang yang melakukan kerusakan di bumi” [Lihat Tafsir Ibni Abi Hatim ar-Razi 6/74].

Taqwa, Sebab Kesejahteraan dan Keselamatan

Solusi utama untuk menghindari dan memperbaiki kerusakan atau bencana di muka bumi adalah bertaubat dengan benar (nashuha) dan kembali kepada ketaatan kepada Allah I Sang Penguasa.

Rasulullah r bersabda (artinya) : “Orang yang telah bertaubat (dengan sungguh-sungguh) dari perbuatan dosa seperti orang yang tidak punya dosa (sama sekali)[HR. Ibnu Majah No.4250, dihasankan oleh Syaikh al-Albani].

Inilah makna yang diisyaratkan dalam firman Allah I di atas : “..supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)(QS. Ar-Ruum : 41).

Maka, ketika manusia kembali kepada petunjuk Allah I dan RasulNya r, keberkahan di langit dan di bumi akan hadir bagi kelangsungan hidup manusia.

Ingatkah kita tentang berita Nabi di akhir zaman nanti, ketika Nabi Isa alaihissalamturun, belau akan berhukum dengan syariat yang suci ini pada masa tersebut. Beliau akan membunuh babi, mematahkan salib dan menghapus jizyah (upeti) sehingga tidak ada pilihan lain kecuali masuk Islam. Dan di zaman itu, tatkala Allah I telah membinasakan Dajjal dan para pengikutnya serta Ya'juj dan Ma'juj, maka dikatakanlah kepada bumi, “Keluarkanlah berkahmu”. Maka satu buah delima bisa dimakan oleh sekelompok besar manusia dan mereka bisa berteduh di bawah naungan kulitnya. Dan susu seekor unta mampu mencukupi sekumpulan manusia. Semua itu tidak lain disebabkan berkah penerapan syariat Muhammad r. Maka setiap kali keadilan ditegakkan, akan semakin banyaklah berkah dan kebaikan.

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan : “Rasullullah r pernah melewati kampung kaum Tsamud, beliau melarang mereka (para sahabat) melewati kampung tersebut kecuali dengan menangis. Beliau juga melarang meminum airnya, menimba sumur-sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar menggunakan air yang mereka bawa untuk mengadon gandum, karena maksiat kaum Tsamud ini telah memengaruhi air di sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen buah-buahan”.

Imam Ahmad rahimahullah telah menyebutkan dalam Musnadnya, bahwa telah ditemukan dalam gudang milik Bani Umayyah sebutir gandum yang besarnya seperti sebutir kurma. Gandum itu ditemukan dalam sebuah kantung yang bertuliskan “Biji gandum ini tumbuh pada masa keadilan ditegakkan”.

Subhanallah, padahal biji gandum mungkin besarnya tidak sebesar biji beras. Tetapi karena keberkahannya, sehingga biji gandum dapat tumbuh hingga sebesar biji kurma. Masya Allah.

Barangkali ada yang masih ragu dan bertanya, adakah hubungan antara maksiat dan fenomena kerusakan atau perubahan alam?

Jawabnya, ada dan bisa saja terjadi. Salah satu buktinya adalah Hajar Aswad. Tahukah kita apa warna dari Hajar Aswad saat ini? Hitam, bukan? Padahal Rasulullah r bersabda (artinya) : “Hajar Aswad turun dari syurga lebih putih daripada salju, lalu menjadi hitam karena dosa-dosa anak Adam” [HR. Tirmidzi I/166, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani].

Mari Menjaga Lingkungan

Setelah bertaubat dan kembali ke jalan Allah I maka wajib bagi kita untuk selanjutnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Hal ini tidak hanya untuk kebaikan di dunia tetapi juga kebaikan di akhirat. Rasulullah r bersabda (artinya) : “Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah” [HR. Bukhari].

Semoga Allah I senantiasa menjaga negeri kita dari bencana dan musibah, tentu setelah kita menjaga hak-hak Allah I. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”, demikian pesan Sang Nabi r kepada kita semua.

Wallahul Muwaffiq.

Maraji' : Majalah As-Sunnah Edisi No.1/Tahun XIV Rabi' Ats-Tsani 1431 H/2010 M dan lainnya