Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Rabu, 29 Februari 2012

Yang Terlupa Dalam Memberi Nasehat

Agama adalah nasehat. Begitulah kalimat yang telah dituturkan oleh qudwah kita Rasulullah r . Hal ini menunjukkan betapa tinggi dan agungnya sebuah nasehat dalam Islam. Bahkan nasehat merupakan salah satu wujud nyata dari hadits nabi r yang artinya : “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hal ini karena nasehat adalah mencintai untuk sesama muslim apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, membimbingnya kepada kebaikan, menunjukinya kepada kebenaran apabila ia keliru, mengingatkannya bila lupa dan menjadikannya seorang saudara.

Memberi nasehat juga merupakan salah satu kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya. Rasulullah r bersabda, artinya : Jika dia minta nasehat kepadamu berilah nasehat (HR. Muslim).

Dari pengertian ini maka nasehat jelas bukanlah mencari-cari kesalahan orang lain. Apabila ia keliru, ditutupi aibnya. Itulah nasehat yang akan mempererat tali ukhuwah dan memperkokoh bangunan iman. Rasulullah r bersabda, artinya : “Seorang mukmin bagi mukmin yang lainnya adalah bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya.(HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah, nasehat sekali lagi menduduki tempat yang agung dan mulia. Namun perlu diingat bahwa keagungan dan kemuliaannya hanya dapat diraih ketika dilaksanakan dalam wujudnya yang sempurna sesuai dengan adab dan aturan sebagaimana contoh dari Rasululllah r.


Hari ini kita banyak mendapati, banyaknya “nasehat” yang sebenarnya bukanlah nasehat. Para pelantun “nasehat” tidak lagi memperhatikan adab dan akhlak dalam bernasehat. Mereka melupakannya. Bahkan nasehat tersebut telah  dicampur-adukkan dengan celaan, hinaan dan olok-olokan. Yang meyedihkan lagi, “nasehat” tersebut dijadikan sebagai wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan tertentu. Mungkin balas dendam, hasad, mempermalukan dan tujuan lainnya. Wallahul Musta’an.

PERINTAH UNTUK MENJAGA LISAN

Rasulullah r bersabda, artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.(HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah menjelaskan bahwa, “Apabila seseorang ingin berbicara maka hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataanya tidak akan membawa mudharat maka silakan dia berbicara. Akan tetapi apabila diperkirakan apakah akan membawa mudharat atau tidak (ragu-ragu) maka hendaknya ia tak usah bicara. Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan telinga dari pada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua telinga dan satu mulut adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada bicara. Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya.
Dan sesungguhnya Rasulullah r bersabda, artinya : Sesungguhnya seorang mukmin yang mengucapkan suatu perkataan yang tidak dipikirkan apa akibatnya akan membuatnya terjerumus dalam api neraka yang dalamnya lebih jauh dari jarak  antara timur dan barat. (HR. Bukhari dan Muslim).
Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Demikianlah adanya. Kita terkadang melihat seseorang tampak wara’ dalam menjaga makanan, pakaian dan pergaulannya. Namun apabila berbicara, ada hal yang seharusnya tidak disertakan dalam ucapannya namun ia sertakan juga. Adalakanya ia berusaha tetap jujur, namun ia memperbagus ucapannya agar dipuji sebagai orang yang fasih…”
BERBURUK SANGKA DAN MENCARI-CARI KESALAHAN
Allah Ta’ala berfirman, artinya : “Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi rahimahullahberkata, “Apabila ada tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mencarikan alasan untuknya. Maka katakanlah kepada dirimu sendiri; saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukkan perbuatan tersebut”.
ETIKA DALAM MEMBERI NASEHAT
Berkaitan dengan cara menasehati orang yang melakukan kesalahan, perlu diperhatikan beberapa etika berikut :
1. Ikhlas.Hendaknya ikhlas di dalam memberikan nasehat, tidak mengharap apa pun di balik nasehat selain keridhaan Allah I  dan terlepas dari kewajiban. Dan hendaknya nasehat tersebut bukan untuk tujuan riya` atau mendapat perhatian orang atau popularitas atau menjatuhkan orang yang diberi nasehat dan maksud buruk lainnya.
2. Cara yang baik.Hendaknya nasehat dengan cara yang baik dengan tutur kata yang lembut dan mudah hingga dapat berpengaruh kepada orang yang dinasehati dan mau menerimanya. Allah I  berfirman, artinya : “Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan debatlah ia dengan cara yang lebih baik” (QS. An-Nahl :  125).
3. Saat sendirian. Hendaknya orang yang dinasehati itu di saat sendirian, karena yang demikian itu lebih mudah ia terima.
Imam Syafi'i rahimahullah berkata dalam sebuah syairnya : "Hendaklah engkau mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian. Hindarilah memberikan nasehat kepadaku di tengah khalayak ramai. Karena sesungguhnya memberi nasehat di hadapan banyak orang sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya. Jika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku maka jangalah engkau kaget apabila nasehatmu tidak ditaati." (Lihat Diwan Asy- Syafi'i, hal. 56).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata :Perlu diketahui bahwa nasehat itu adalah pembicaraan yang dilakukan secara rahasia antaramu dengannya, karena apabila engkau menasehatinya secara rahasia dengan empat mata, maka sangat membekas pada dirinya, dan dia tahu bahwa engkau pemberi nasehat,  tetapi apabila engkau bicarakan dia di hadapan orang banyak,
maka besar kemungkinan bangkit kesombongannya yang menyebabkan ia berbuat dosa dengan tidak menerima nasehat" (Lihat Syarah Riyadhus Shalihin, juz 4 hal. 483).
4. Pahami isi nasehatnya. Hendaknya pemberi nasehat mengerti betul dengan apa yang ia nasehatkan, dan hendaknya ia berhati-hati dalam menukil pembicaraan agar tidak dipungkiri, dan hendaklah ia memerintah berdasarkan ilmu; karena yang demikian itu lebih mudah untuk diterima. Termasuk pula bahwa nasehat tersebut bukanlah celaan atau olok – olokan.
Apabila berita yang didengar tentang saudaranya masih samar, maka hendaknya dia mengemukakan prasangka baik sebagaimana yang diucapkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata: “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaklah engkau selalu membawa perkataan saudaramu tersebut kepada persangkaan yang baik.”
Berkata Al-Fudhail : “Seorang mukmin menutupi aib dan menasehati, sedangkan seorang yang keji membukanya dan menjelek-jelekkan.
5. Lihat kondisi.Hendaknya orang yang memberi nasehat memperhatikan kondisi orang yang akan dinasehatinya. Maka hendaknya tidak menasehatinya di saat ia sedang kalut, atau di saat ia sedang bersama rekan-rekannya atau kerabatnya. Dan hendaklah pemberi nasehat mengetahui perasaan, kedudukan, pekerjaan dan problem yang dihadapi orang yang akan dinasehati itu.
6. Jadi teladan. Hendaknya pemberi nasehat menjadi teladan bagi orang yang akan dinasehati, agar jangan tergolong orang yang bisa menyuruh orang lain berbuat kebaikan sedangkan ia lupa terhadap diri sendiri. Allah I berfirman, artinya : Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan (QS. Ash-shaff : 2-3).
7. Sabar.Hendaknya pemberi nasehat sabar terhadap kemungkinan yang menimpanya. Luqman berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang ma`ruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan sabarlah terhadap apa yang menimpamu”. (QS. Luqman : 17). Luqman menyuruh anaknya untuk sabar terhadap kemungkinan yang terjadi karena ia memerintah orang lain mengerjakan kebaikan dan mencegah perbuatan munkar.
SIKAP ULAMA SALAF TERHADAP KESALAHAN SAUDARANYA
Ibnu Abbas t berkata: “Setiap aku mendengarkan kabar yang tidak mengenakkan dari saudaraku sesama muslim, pasti aku sikapi dengan salah satu dari tiga hal; apabila derajatnya lebih tinggi dariku, kukenali kedudukannya; Apabila ia sejajar denganku, aku berbuat baik kepadanya; seandainya ia lebih rendah dariku, aku tidak akan menyusahkannya. Barangsiapa yang tidak menyukai sikap seperti itu, ingat bumi Allah sangat luas.”
Raja bin Haiwah rahimahullah berkata : “Barangsiapa bersahabat dengan orang yang menurutnya tidak tercela, akan sedikit shahabat yang dimilikinya. Barangsiapa yang hanya mengharapkan keikhlasan dari shahabatnya, ia akan banyak mendongkol. Barangsiapa yang mencela shahabat atas setiap dosa yang dilakukannya, maka ia akan banyak musuh.”
Demikian. Semoga bermanfaat dan menjadi pencerahan kepada kita semua khususnya kepada para juru dakwah, para penasehat ummat. Wallahu Waliyyut-taufiq.
Maraji’ :

Nasehat Bukan Celaan, Ibnu Rajab Al-Hambali ;
Etika Muslim Sehari-Hari, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr , Abdul Muhsin Abbad,.
Panduan Akhlak Salaf, Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil ;
Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi



Kamis, 23 Februari 2012

Keshalihanku Untukmu,Anakku ...

Setiap kita pasti menginginkan kiranya Allah I menganugerahkan anak – anak yang shalih. Anak – anak yang bertakwa, mampu berbakti kepada rabbnya, rasulnya, agama dan orangtua.

Namun, sudahkah kita berupaya maksimal untuk itu? Sudahkah kita membentuk keshalihan dalam pribadi sebagai orangtua atau calon orangtua (bagi yang belum dan akan menjadi orangtua)? Tahukah kita bahwa harapan dan cita - cita besar itu sangat ditentukan oleh keadaan dan kualitas kita sebagai orangtua ? Alangkah ironi, ketika kita berharap anak menjadi shalih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa.

Dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an dan sunnah nabawiyyah, ternyata keshalihan dan kebaikan orangtua memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan dan kebaikan anak – anak mereka, di dunia bahkan di akhirat. Demikian pula amal buruk dan dosa-dosa besar yang dilakukan oleh kedua orang tua memiliki dampak negatif terhadap pendidikan anak.

Mengapa demikian? Pertama,  ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insya Allah  itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!


Kedua, karena keberkahan amal-amal shalih tersebut dan pahala yang Allah limpahkan kepada pelakunya. Demikian pula akibat buruk yang ditimbulkan oleh perbuatan-perbuatan jelek dan balasan dari Allah serta hukumanNya yang ditimpakan kepada pelakunya. Bisa jadi bentuk balasan dan pahala Allah atau hukuman dan azabnya menimpa anak-anak.

Untuk yang pertama dalam bentuk Allah memperbaiki anak-anak itu, menjaga dan melindungi mereka, melapangkan rizki dan keselamatan kepada mereka, sedangkan yang kedua atau dalam bentuk penyimpangan dan pembelotan anak-anak itu dari jalan kebenaran, turunnya bencana, wabah dan penyakit, atau berbagai macam problematika hidup yang menimpa mereka.

Dalam sebuah kisah, ketika Nabi Musa dan Khidhir ‘alaihimassalam melewati sebuah negeri, keduanya meminta makanan dan memohon jamuan sebagaimana layaknya seorang tamu kepada penduduk negeri tersebut, akan tetapi mereka semua menolaknya, lalu keduanya menemukan sebuah rumah yang hampir roboh tiangnya, lalu Khidhir ‘alaihissalammenegakkannya kembali, setelah itu Nabi Musa alaihissalam berkata, “... Jika engkau mau, niscaya engkau mengambil upah untuk itu..” (QS. al-Kahfi : 77).

Dan jawaban Khidhir kepada Musa adalah,
Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya"  (QS. al-Kahfi: 82).

Dalam menafsirkan firman Allah Idan kedua orang tuanya adalah orang shalih”, Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Ayat di atas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat berkat ketaatan dan syafaatnya kepada mereka, maka mereka terangkat derajatnya di surga agar kedua orang tuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Al-Qur`ân dan as-Sunnah”. [Tafsîr Ibnu Katsir, 5/ 141].

Allah I telah memerintahkan kepada kedua orang tua yang khawatir terhadap masa depan anak-anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi mungkar dan berbagai macam amal ketaatan lainnya, sehingga dengan amalan-amalan itu Allah akan menjaga anak cucunya. Allah I berfirman, artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. an-Nisaa : 9).

Syaikh Siddiq Hasan Khan rahimahullahberkata : “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin, meskipun amalan mereka di bawahnya, agar orang tuanya tenang dan bahagia, dengan syarat mereka dalam keadaan beriman dan telah berumur baligh bukan masih kecil. Meskipun anak-anak yang belum baligh tetap dipertemukan dengan orang tua mereka”.[ Lihat Tafsîr Fathul-Bayan, Siddiq Hasan Khan, 6/434].

Dari Said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas t, berkata : “Allah Azza wa Jalla mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orang tuanya tenang dan bahagia.

Allah I berfirman, artinya : “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak keturunan mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, akan Kami pertemukan anak keturunan mereka itu dengan mereka dan Kami tidak mengurangi pahala amalan mereka sedikit pun. Setiap orang terikat dengan apa yang diusahakannya (QS. Ath-Thur: 21).
Dalam firman-Nya ini Allah I mengabarkan tentang keutamaan-Nya, kedermawananNya, anugerahNya, kelembutanNya terhadap makhluk-makhlukNya serta kebaikanNya, bahwa orang-orang yang beriman apabila anak keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Allah I  akan mempertemukan anak keturunan itu dengan ayah mereka yang shalih, walaupun amalan anak keturunan itu tidak bisa menyamai amalan ayah mereka, untuk menyenangkan hati ayah mereka dengan adanya anak keturunan itu di sisinya. Maka Allah I  menghimpun mereka dalam bentuk yang paling baik, dengan mengangkat derajat orang yang kurang sempurna amalannya di sisi orang yang sempurna amalannya, tanpa mengurangi pahala amalan dan derajat orang yang sempurna amalannya tersebut. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/332).

Ibnu Syahin meriwayatkan, bahwasanya Haritsah bin Nu`man t datang kepada Nabi r namun ia sedang berbicara dengan seseorang hingga ia duduk tidak mengucapkan salam, maka Jibril Alaihissallam berkata : “Ketahuilah bila orang ini mengucapkan salam, maka aku akan menjawabnya?” Nabi r berkata kepada Jibril: “Kamu kenal dengan orang ini?” Jibril Alaihissallammenjawab: “Ya, ia termasuk delapan puluh orang yang sabar pada waktu perang Hunain yang telah dijamin rizki oleh Allah bersama anak-anak mereka nanti di surga”. [HR. Thabrani dalam al-Kaba`ir 3/227/(3225), dan lainnya].

Diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa dia berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh aku akan menambah shalat (sunnah) yang aku lakukan untuk kebaikanmu.” Sebagian ulama berkata, “Maknanya adalah aku akan memperbanyak melakukan shalat dan memperbanyak berdo’a untukmu di dalam shalat tersebut.”
Oleh karena itu wahai para orangtua (dan juga calon orangtua), bertaqwalah kepada Allah I .

Bersihkanlah makanan, minuman, dan pakaian kalian wahai para orang tua, Anda mengangkat kedua tangan kepada Allah, berdoa kepadaNya dengan tangan dan jiwa yang bersih lagi suci, sehingga Allah mengabulkan permohonan kalian demi anak-anak kalian, “... Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Maidah : 27).

Wahai para ayah! Layakkah Anda mengangkat kedua tangan kepada Allah I ,sedangkan kedua tangan itu berlumuran darah orang-orang yang tidak bersalah, kotor karena memukul, melakukan kezhaliman dan menipu manusia? Pantaskah bagi Anda berdo’a kepada Allah I demi kebaikan anak-anak dengan mengangkat kedua tangan seperti itu?!

Pantaskah Anda memohon kepada Rabb Anda dengan mulut-mulut yang kotor dengan memakan harta-harta yang haram, kebohongan, namimah, ghibah, merusak kehormatan orang lain, dan mencaci maki bahkan penuh dengan kesyirikan atau menuduh seorang wanita yang terjaga lagi tidak tahu-menahu dengan perbuatan keji?

Apakah Anda meyakini bahwa doa yang Anda panjatkan akan terkabul sedangkan makanan Anda haram, pakaian Anda haram dan Anda pun tumbuh dari sesuatu yang haram?! Merupakan kewajiban atas kalian para orang tua untuk menumbuhkan ketakwaan kepada Allah dan banyak melakukan kebaikan sehingga Allah I  menerima segala permohonan yang kalian panjatkan untuk anak-anak kalian.

Rasulullah r bersabda, artinya : “Seseorang melakukan perjalanan, rambutnya acak-acakan, badannya penuh dengan debu, dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berdo’a, ‘Ya Rabb! Ya Rabb!’ Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia tumbuh dengan barang yang haram, maka bagaimana mungkin permohonannya dikabulkan.” (HR. Muslim).

Ketahuilah, jika kedua orang tua membaca al-Qur-an, khususnya surat al-Baqarah dan al-Mu’awwidzatain an-Naas dan al-Falaq dan yang semisalnya, maka para Malaikat akan turun kepadanya untuk mendengarkan al-Qur-an, sedangkan setan akan lari, dan tidak diragukan bahwa turunnya para Malaikat disertai dengan turunnya ketenangan dan rahmat, semua ini tentu saja memiliki pengaruh yang sangat nyata terhadap kebaikan dan keselamatan anak-anak. 
Sebaliknya jika para orang tua meninggalkan al-Qur-an dan lalai dengan tidak berdzikir kepada Allah, maka syaitan akan turun dan menyerang rumah-rumah yang kosong dari dzikir kepada Allah.

Setan akan menyerang rumah-rumah yang penuh dengan suara musik yang berisik, alat-alat musik yang tidak berguna dan gambar-gambar yang diharamkan. Hal ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak-anak. Kondisi tersebut akan mendorong mereka untuk melakukan kemaksiatan dan mengajak mereka untuk berbuat kerusakan. Maka jangan remehkan dampak keshalihan diri terhadap keshalihan anak.
Akhirnya, kita memohon kiranya Allah I senantiasa memberikan taufiqNya kepada kita sekalian sehingga mampu mewujudkan keshalihan dan ketaqwaan, demi cita – cita anugerah anak yang shalih.

Semoga Allah kelak mengumpulkan kita di surgaNya bersama para nabi, para syuhada, orang – orang shalih dan keluarga yang kita sayangi. Sebagaimana doa para malaikat yang memikul ‘Arsy dan para malaikat yang di sekeliling ‘Arsy bagi orang-orang yang beriman :
Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “ (QS. Al-Mu’min/Ghafir : 8).

Wallahu a’lam.

Maraji’ :
§ Tarbiyatul Abna’, Syaikh Musthafa Al Adawi, Penerbit Media Hidayah
§ Artikel : “Pengaruh Lingkungan Terhadap Pendidikan Anak”, Majalah As- Sunnah Edisi 03/Tahun XII
§ Artikel : “Jurus Jitu Mendidik Anak”, Ustadz Abdullah Zaen, Lc., MA



Kamis, 16 Februari 2012

Di Mana Air Matamu ?

Pernahkah Anda menangis? Tentu pernah, entah untuk alasan apa. Mungkin karena terluka ? terkena musibah? patah hati? menangis hanya karena mengikuti sebuah alur cerita dalam film dan buku yang menyedihkan? atau bahkan menangis tanpa makna? Entahlah, biarlah hati Anda yang menjawabnya. Beragam tangisan, beragam kondisi hati.

Namun, pernahkah Anda menangis karena takut kepada Allah I ?  Menangis karena menyesali dosa – dosa yang telah banyak dilakukan? Menangis karena begitu banyak kewajiban dan sunnah dalam agama yang telah ditinggalkan? Semoga saja Anda telah pernah melakukannya. Karena sungguh air mata yang tumpah karena takut kepada Rabb Sang Kuasa adalah mahal. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Menangis itu ada 10 macam, yakni 9 karena selain Allah dan satu karena Allah. Bila menangis karena Allah itu datang sekali dalam setahun, maka itu sudah terbilang banyak.” [Hilyatul Auliya' 7/11].

Anjuran Menangis Karena Allah
Nabi r bersabda, artinya : “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.” (HR. Tirmidzi [1633]). Rasulullah r bersabda, artinya :  “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; [salah satunya] ... seorang yang mengingat Allah di kala sendirian sehingga kedua matanya mengalirkan air mata (menangis).” (HR. Bukhari [629] dan Muslim [1031]).


Rasulullah r bersabda, artinya : “Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi [1639], disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1338]).

Nabi r bersabda,artinya : “Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah selain dua jenis tetesan air dan dua bekas [pada tubuh]; yaitu tetesan air mata karena perasaan takut kepada Allah, dan tetesan darah yang mengalir karena berjuang [berjihad] di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas/luka pada tubuh yang terjadi akibat bertempur di jalan Allah dan bekas pada tubuh yang terjadi karena mengerjakan salah satu kewajiban yang diberikan oleh Allah.” (HR. Tirmidzi [1669] disahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Sahih Sunan at-Tirmidzi [1363]).

Tangisan Rasulullah r
Ibnu Mas’ud t mengatakan; suatu ketika Nabi r  berkata kepadaku, “Bacakanlah al-Qur’an kepadaku.” Maka kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah saya bacakan al-Qur’an kepada anda sementara al-Qur’an itu diturunkan kepada anda?”. Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya aku senang mendengarnya dibaca oleh selain diriku.” Maka akupun mulai membacakan kepadanya surat an-Nisaa’. Sampai akhirnya ketika aku telah sampai ayat ini (yang artinya), “Lalu bagaimanakah ketika Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas mereka.” (QS. an-Nisaa’ : 40). Maka beliau berkata, “Cukup, sampai di sini saja.” Lalu aku pun menoleh kepada beliau dan ternyata kedua mata beliau mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari [4763] dan Muslim [800]).

Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah r ?”. Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’ Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’ Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggotnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai-sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena tetesan air mata]!”. Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan adzan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah r  menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’. Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya tadi malam telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh celaka orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! Yaitu ayat (yang artinya), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi….dst sampai selesai” (QS. Ali Imran : 190).” (HR. Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).

Tangisan Para Sahabat y dan Orang – Orang Shalih
Mu’adz bin Jabal t suatu ketika pernah menangis tersedu-sedu. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena Allah ‘azza wa jallahanya mencabut dua jenis nyawa. Yang satu akan masuk surga dan satunya akan masuk ke dalam neraka. Sedangkan aku tidak tahu akan termasuk golongan manakah aku di antara kedua golongan itu?”.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ’anhuma mengatakan, “Sungguh, menangis karena takut kepada Allah itu jauh lebih aku sukai daripada berinfak uang seribu dinar!”.

Abu Hurairah t menangis pada saat sakitnya [menjelang ajal]. Maka ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?!”. Maka beliau menjawab, “Aku bukan menangis gara-gara dunia kalian [yang akan kutinggalkan] ini. Namun, aku menangis karena jauhnya perjalanan yang akan aku lalui sedangkan bekalku teramat sedikit, sementara bisa jadi nanti sore aku harus mendaki jalan ke surga atau neraka, dan aku tidak tahu akan ke manakah digiring diriku nanti?”.

Abdussalam (mantan budak Maslamah bin Abdul Malik) berkata, “Umar bin Abdul Aziz pernah menangis, lalu Fathimah ikut menangis. Namun mereka tidak tahu apa yang membuat mereka menangis. Ketika mereka selesai menangis, Fathimah bertanya, “Ya Amirul Mukminin, mengapa anda menangis?” Umar menjawab, “Fathimah, aku teringat hari dimana manusia dipisahkan dari hadapan Allah; satu kelompok di dalam Surga dan kelompok lainnya di dalam Neraka.” Kemudian ia berteriak dan pingsan. [Hilyatul Auliya' 5/269].

Suatu kali, seorang tabi'in, Muhammad bin Munkadir menunaikan shalat malam, tiba-tiba ia menangis dan isakan tangisnya semakin tak mampu ditahannya. Sehingga keluarganya terkejut dan bertanya kepadanya, "Apa yang menyebabkan kamu menangis? Muhammad bin Munkadir tak mampu menjawab, dan masih dalam keadaan menangis. Akhirnya mereka berinisiatif meminta tolong kepada Abu Hazim yang dikenal sebagai seorang ulama yang juga teman Muhammad bin Munkadir untuk menasehatinya. Tak lama kemudian, Abu Hazim datang sementara Muhammad bin Munkadir masih menangis. Abu Hazim berkata, "Wahai saudaraku, apa yang menyebabkan anda menangis? Anda telah membuat khawatir keluarga anda. Apakah karena suatu penyakit? Atau apa yang sebenarnya menimpa anda?" Dia menjawab, "Sungguh bacaanku sampai pada suatu ayat dalam kitab Allah -azza wa jalla- lalu saya menangis". Abu Hazim bertanya, "Ayat yang manakah itu?", Dia menjawab, "Firman Allah yang artinya,"Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan" (QS. Az-Zumar : 47).

Mendengar ayat tersebut dibacakan, Abu Hazim turut menangis bersamanya, bahkan keduanya makin larut dalam tangisan. Sehingga ada anggota keluarga berkata kepada Abu Hazim, "Kami mengundang anda supaya menghilangkan kesedihannya namun ternyata anda membuatnya semakin larut dalam kesedihan".

Subhanallah, begitulah keadaan ulama sejati, ilmu dan amalnya menambah rasa takut kepada Allah I 

Nasehat Para Ulama
Qasamah bin Zuhair berkata, “Abu Musa pernah berkhutbah di kota Bashrah. Ia berkata, “Wahai manusia, menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis, maka berusahalah untuk menangis. Karena penghuni Neraka akan menangis dengan mengeluarkan air mata sampai habis. Kemudian mereka akan menangis dengan mengeluarkan air mata darah. Bahkan seandainya di situ dilepaskan beberapa perahu, pastilah akan bisa berjalan.” [Hilyatul Auliya' 1/261].

Ka’ab bin al-Ahbar berkata, “Sungguh, aku lebih suka menangis karena Allah, lalu air mataku mengalir di atas pipiku, daripada bersedekah dengan emas seberat timbanganku.” [Hilyatul Auliya' 5/366]

Yazid bin Maisaroh berkata, “Tangisan itu berasal dari tujuh hal: gembira, sedih, cemas, sakit, riya’, syukur, dan tangisan karena takut kepada Allah. Inilah tangisan yang tetesan air matanya bisa memadamkan api sebesat gunung.” [Hilyatul Auliya' 5/235]

Shalih al-Murri berkata, “Tangisan itu bisa diundang dengan cara memikirkan dosa, jika direspons positif oleh hati. Jika tidak, maka alihkan kepada kengerian dan kedahsyatan hari Kiamat, jika direspons positif. Jika tidak, maka tawarkanlah kepadanya untuk berguling-guling di antara nampan-nampan api (Neraka).” Kemudian ia pun menangis dan pingsan. Dan orang-orang pun berteriak histeris. [Hilyatul Auliya' 6/167]

Suatu malam al-Hasan al-Bashri rahimahullah terbangun dari tidurnya lalu menangis sampai-sampai tangisannya membuat segenap penghuni rumah kaget dan terbangun. Maka mereka pun bertanya mengenai keadaan dirinya, dia menjawab, “Aku teringat akan sebuah dosaku, maka aku pun menangis.”

Subhanalah, kalau al-Hasan al-Bashri saja menangis sedemikian keras karena satu dosa sajayang diperbuatnya, lalu bagaimanakah lagi dengan orang yang mengingat bahwa jumlah dosanya tidak dapat lagi dihitung dengan jari tangan dan jari kaki? Laa haula wa laa quwwata illa billah! Alangkah jauhnya akhlak kita dibandingkan dengan akhlak para salafush shalih? Tidakkah dosamu membuatmu menangis dan bertaubat kepada Rabbmu? “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan kepada-Nya? Sementara Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (lihat QS. al-Maa’idah : 74).

Aina nahnu min haa’ulaa’i?
Aina nahnu min akhlaqis salaf?
Di mana kita dibanding mereka?
Di mana kita dibanding akhlak para salaf?
Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama mereka kelak di Surga-Mu. Amin
Wallahu a’lam.

Maraji’ :
·   1000 Hikmah Ulama Salaf, Bab : Menangis Karena Allah, Penerbit Elba.
·   al-Buka’ min Khas-yatillah, Asbabuhu wa Mawani’uhu wa Thuruq Tahshilihi, hal. 4-13 ; Abu Thariq Ihsan bin Muhammad bin ‘Ayish al-’Utaibi, tanpa penerbit ; http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/di-mana-air-matamu.html
·  Majalah Ar-Risalah; Rubrik Tadzkirah.