Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Kamis, 29 Maret 2012

Demonstrasi, Bolehkah ?

Gejolak unjuk rasa atau demonstrasi yang saat ini sedang marak, mengundang komentar banyak pengamat. Sebagian mereka mengatakan : “Aksi unjuk rasa ini dipelopori oleh oknum - oknum tertentu.” Adapula yang berkomentar : “Tidak mungkin adanya gejolak kesemangatan untuk aksi kecuali ada yang memicu atau ngompori.”

Sedangkan yang lain berkata : “Demonstrasi ini adalah ungkapan hati nurani rakyat.” Bahkan sebagian lagi mengatakan bahwa “demonstrasi” adalah bagian dari nasehat dan amar makruf nahi munkar, sehingga seolah-olah menjadi hal yang harus dilakukan.

Namun, kita harus melihat dari kacamata syariat, apakah benar demonstrasi yang dinamakan oleh penggiatnya sebagai metode nasehat dan amar ma’ruf nahi munkar merupakan manhaj (cara/metode) Nabi yang mulia r dan para sahabatnya, ataukah sesuatu yang harus diluruskan?

Dan ketahuilah, tidaklah nama yang indah itu akan merubah hakikat sesuatu yang buruk, walau dibumbui dengan label Islami.

Dampak Buruk Demonstrasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “demonstrasi” diartikan sebagai pernyataan protes yg dikemukakan secara massal; unjuk rasa.

Definisi ini sesuai dengan realita yang terjadi saat ini, di mana sebagian kelompok masyarakat (baca ;  mahasiswa) melakukan aksi unjuk rasa “ketidaksetujuan” atas kebijakan pemerintah dalam berbagai hal secara massal.

Model ini membawa banyak dampak buruk yang amat mengganggu kepentingan masyarakat umum, karena kerap dilakukan pada tempat – tempat umum, fasilitas – fasilitas umum dan objek vital lainnya.

Ironisnya, unjuk rasa tersebut tidak hanya berisi penolakan terhadap kebijakan pemerintah, tetapi lebih dari itu, mereka juga menunjukkan sikap pembangkangan, menyebarkan aib, tidak hormat dan melecehkan pemerintah/penguasa.

Rasulullah r bersabda, artinya : “Sesungguhnya riba yang paling mengerikan adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim tanpa alasan”  (Shahih, riwayat Abu Dawud dan Ahmad).

Kehormatan seorang muslim adalah haram, sedangkan dalam demonstrasi ini tidak jarang akan kita temukan berbagai macam pelecehan kehormatan seorang muslim dengan mencelanya.

Selain itu, hampir di setiap gerakan massa, diwarnai dengan hadirnya kaum wanita di jalan-jalan. Hal ini jelas bertentangan dengan syariat islam, karena Allah I melarang wanita untuk keluar dari rumahnya kecuali dengan alasan yang syar’i.

Hal ini pula  akan menimbulkan ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita yang bukan mahramnya secara terang-terangan! Maka cukuplah sabda Nabi yang mulia r   berikut ini bagi mereka. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, Rasulullah r bersabda ,artinya : “Tinggalkanlah olehmu bercampur baur dengan kaum wanita!” (HR. Bukhari).

Tidak hanya itu, demonstrasi adalah produk barat yang tidak pantas bagi seorang muslim untuk memasang label ‘islami’  padanya. Mengapa? karena Islam tidak mengajarkan cara seperti ini. Atau bahkan meyakininya sebagai metode dakwah yang islami. Rasulullah r bersabda, artinya : “Barangsiapa meniru suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Wallahul Musta’an (Hanya Kepala Allah kita memohon pertolongan) ...

Wajibnya Taat Kepada Pemerintah

Allah I berfirman, artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa : 59).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan : "Ulil Amri mencakupi dua golongan, yaitu ulama dan penguasa." (Majmu' Fatawa, 18/158).

Maka wajib menjadikan kepemimpinan sebagai agama dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan kepada pemimpin dalam ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya merupakan ibadah yang paling utama (Majmû’ Fatâwâ, XXVIII/390-391).

Perlu dipahami bahwa kewajiban untuk taat kepada penguasa atau pemimpin adalah dalam perkara yang ma’ruf dan tidak bertentangan dengan syariat Allah I.

Rasulullah r bersabda, artinya ; “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah berbuat kemaksiatan. Apabila penguasa memerintahkan melakukan kemaksiatan maka tidak perlu didengar dan ditaati (kemaksiatan itu)”. (HR. Bukhari 13/121, Muslim 3/1469).

al-Hafizh Ibnu Hajar al-Atsqalani rahimahullah berkata :
"Hadits ini menunjukkan wajibnya taat kepada penguasa, hal itu berlaku dalam perkara yang bukan maksiat. Hikmahnya taat kepada penguasa adalah agar menjaga persatuan kalimat, karena yang dinamakan sebagai perpecahan adalah kehancuran."

Menghormati Pemerintah

Tidak boleh bagi seorang pun untuk melecehkan penguasa, mencelanya, mengumpatnya atau membuka aibnya.

Rasulullah r melarang keras sikap merendahkan penguasa, beliau r bersabda, artinya ;  “Para penguasa adalah naungan Allah di muka bumi. Barangsiapa yang memuliakan penguasa, Allah akan memuliakannya. Barangsiapa yang menghina penguasa, Allah akan menghinakan dia” (HR.Baihaqi 17/6. Lihat as-Sahihah 5/376).

Semoga Allah I merahmati Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah yang telah berkata :
"Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menghormati penguasa dan para ulama. Apabila mereka mengagungkan dua golongan ini, Allah  akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka merendahkannya, bererti mereka telah menghancurkan dunia dan akhirat mereka sendiri." (Tafsir al-Qurthubi, 5/260).

Menasehati Kemungkaran Pemerintah

Pemerintah adalah bagian dari kaum muslimin yang berhak dinasihati. Akan tetapi menasihati penguasa tidak sama seperti menasihati kaum muslimin selain mereka.
Rasulullah r bersabda, artinya : Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa,  janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).”
(HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dishahih kan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)).

Dari hadits di atas, telah jelas bahwa menasihati pemerintah tidak boleh dilakukan secara terang - terangan, baik melalui demonstrasi, berbicara di mimbar-mimbar terbuka, ataupun melalui media – media yang dapat disebarkan secara terbuka.

Semoga para penggiat demonstrasi, membaca risalah ini...

Bersabarlah Wahai Saudaraku ...

Rasulullah rbersabda, artinya : “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbasradhiyallahu’anhuma).

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata : “Jika tidak memungkinkan untuk menasihati penguasa (dengan cara yang syar’i), maka solusi akhirnya adalah sabar dan doa, karena dahulu mereka –yakni sahabat melarang dari mencaci penguasa”. Kemudian beliau menyebutkan sanad satu atsar dari Anas bin Malik , beliau (Anas) berkata, “Dahulu para pembesar sahabat Rasulullah  melarang dari mencaci para penguasa.” [Lihat At-Tamhid, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, (21/287)].

Jangan Sampai Memberontak

Rasulullah r bersabda, artinya : “Sebaik-baik penguasa adalah yang kalian mencintainya dan mereka mencintai kalian. Kalian mendo`akannya dan mereka mendo'akan kalian. Seburuk-buruk penguasa adalah yang kalian membencinya dan mereka pun membenci kalian, kalian mencacinya dan mereka mencaci kalian." Rasulullah  r ditanya : "Wahai Rasulullah tidakkah kita memberontak dengan pedang?" beliau r menjawab : "Jangan, selama mereka masih menegakkan sholat." Apabila kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari penguasa kalian, maka bencilah perbuatannya dan janganlah kalian mencabut ketaatan dari mereka. (HR.Muslim, 3/1481).

Sungguh sejarah telah mencatat kekejaman seorang yang bernama Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqofi. Dia telah banyak membunuh jiwa, sehingga sahabat yang mulia Abdullah bin Zubair t terbunuh. Lantas bagaimana sikap para sahabat yang lain, apakah mereka menyusun kekuatan untuk memberontak?

Tidak, sama sekali, bahkan mereka tetap menganjurkan untuk mendengar dan taat.

Mari Doakan Mereka

Abu Utsman Said bin Ismail rahimahullah  berkata : "Nasihatilah penguasa, perbanyaklah mendo'akan kebaikan bagi mereka dengan ucapan, perbuatan dan hukum. Karena apabila mereka baik, rakyat akan baik. Janganlah kalian mendo'akan keburukan dan laknat bagi penguasa, karena bila keburukan mereka akan bertambah dan bertambah pula musibah bagi kaum muslimin. Do'akanlah mereka agar bertaubat dan meninggalkan keburukan sehingga musibah hilang dari kaum muslimin." (Syu'abul Iman, 13/99).

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Andaikan aku mempunyai do'a yang mustajab niscaya akan aku panjatkan untuk penguasa." (Dikeluarkan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah, 8/91).

Dikisahkan, ada seorang Khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib t lalu berkata : "Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak dikritik oleh orang, tidak sebagaimana pemerintahan Abu Bakar dan Umar?

Maka sahabat Ali t menjawab : "Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang sepertiku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu!" (Syarh Riyadhus Shalihin, 3/43, oleh Ibnu Utsaimin).

Wallahu a’lam.




Kamis, 22 Maret 2012

Ketika Ujian Menerpa

Ujian menyerang siapa saja tidak pandang bulu. Sebagaimana orang miskin diuji, orang kayapun demikian. Sebagaimana rakyat jelata hidup di atas ujian, para penguasa juga diuji. Bahkan bisa jadi ujian yang dirasakan oleh para penguasa dan orang-orang kaya lebih berat daripada ujian yang dirasakan oleh orang-orang miskin dan rakyat jelata. Begitu pula, sebagaimana seorang awam diuji, seorang ‘alim pun akan diuji. Masing – masing tidak lepas dari ujian kehidupan.

Intinya setiap yang bernyawa pasti diuji sebelum maut menjemputnya. Siapapun juga orangnya. Entah diuji dengan kesulitan atau diuji dengan kelapangan, kemudian ia akan dikembalikan kepada Allah I untuk dimintai pertanggungjawaban terhadap sikap ia menghadapi ujian tersebut. Allah I  berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan" (QS. Al-Anbiyaa' : 35).

Memang dunia ini adalah medan ujian. Kehidupan ini ada medan perjuangan. Allah I berfirman, artinya : "Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (QS. Al-Mulk : 1-2).

Jika saja orang kafir tidak selamat dari ujian kehidupan, maka apatah lagi seorang yang beriman kepada Allah I , pasti akan menghadapi ujian. Allah I  berfirman :
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS. Al-'Ankabuut : 2).

Ingatlah, besarnya ujian sekadar dengan tingkat keimanan. Semakin tinggi iman seseorang maka semakin tinggi kadar ujian yang akan ia hadapi. Nabi r bersabda :


أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ ، فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صَلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِيْ دِيْنِهِ رِقَّةٌ اُبْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
"Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang paling sholeh dan seterusnya. Seseorang diuji berdasarkan agamanya, jika agamanya kuat maka semakin keras ujiannya, dan jika agamanya lemah maka ia diuji berdasarkan agamanya. Dan ujian senantiasa menimpa seorang hamba hingga meninggalkan sang hamba berjalan di atas bumi tanpa ada sebuah dosapun"(Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 143).

Apa yang menimpa Anda hari ini, sungguh itupun telah menimpa orang – orang shalih dan beriman terdahulu. Sebut saja, rasulullah r ,para nabi, para sahabat rasulullah r  , para ulama dan lainnya.

Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata :
Cobaan zaman banyak tidak habis-habisnya
Dan kegembiraan zaman mendatangimu (sesekali) seperti sesekalinya hari raya

Renungan Ketika Ujian Datang

Pertama : Yakinlah bahwa selain Andapun juga diuji. Ada yang diuji dengan kemiskinan. Ada yang diuji dengan harta, jabatan, dan kekuasaan. Ada yang diuji dengan orangtua yang tidak mau taat. Ada yang diuji dengan pengkhiatan sahabat. Sungguh, terlalu banyak model ujian yang menimpa manusia. Maka poisis Anda adalah sebagaimana manusia-manusia yang lain yang juga ditimpa musibah/ujian yang beraneka ragam.

Kedua : Sabarlah dengan ujian yang sedang Anda hadapi. Alhamdulillah Anda masih bisa memikulnya. Bisa jadi jika Anda diuji dengan ujian yang lain maka Anda tidak akan mampu menghadapinya. Yakinlah bahwa tidaklah Allah I  menguji kecuali dengan ujian yang mampu dihadapi oleh seorang hamba.

Allah I berfirman-Nya artinya : “… dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang yang benar (imannya). Dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).

Ibnul Qayyim rahimahullah, mengutarakan bahwa ayat yang seperti ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an. Sehingga keberadaan sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah adalah benar-benar menjadi barometer keimanan dan ketakwaan kepada Allah I .[Kitab Madarijus Salikin 2/152].

Ketiga : Terkadang syaitan membisikkan kepada Anda bahwa ujian yang Anda hadapi sangatlah berat dan tidak mungkin untuk Anda pikul. Maka ingatlah bahwa saat ini masih terlalu banyak orang yang diuji dengan ujian yang jauh lebih berat dengan ujian yang sedang Anda hadapi.

Keempat : Bukankah ujian jika dihadapi dengan kesabaran maka akan menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat??

Selain Allah memberikan ganjaran yang lebih baik dari amalannya kepada orang yang sabar, Allah juga memberikan ampunan kepada mereka. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya I, artinya : ”kecuali orang-orang yang sabar (terhadap ujian), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu peroleh ampunan dan pahala yang besar”.(QS. Hud: 11).

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata : “Rasulullah r bersabda, artinya :  “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim, melainkan Allah I telah menghapus dengan musibah itu dosanya. Meskipun musibah itu adalah duri yang menusuk dirinya.”(HR. Al-Bukhari no. 3405 dan Muslim 140-141/1062).

Kelima : Bahkan bisa jadi Allah I  menghendaki Anda untuk meraih sebuah tempat yang tinggi di surga yang tidak mungkin Anda peroleh dengan hanya sekedar amalan-amalan shalih Anda. Amalan shalih Anda tidak cukup untuk menaikan Anda ke tempat tinggi tersebut. Anda tidak akan mampu untuk sampai ke tempat tinggi tersebut kecuali dengan menjalani ujian-ujian yang tidak henti-hentinya untuk mengangkat derajat Anda.

Allah I berfirman, artinya : “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya”  (QS. Al-Furqaan: 75).

Keenam : Ingatlah, dengan ujian terkadang kita baru sadar bahwasanya kita ini sangatlah lemah dan selalu butuh kepada Allah Yang Maha Kuasa. Terkadang kita baru mengenal yang namanya khusyu' dalam shalat. Kita baru bisa merasakan kerendahan yang disertai deraian air mata. Kita baru bisa merasakan nikmatnya ibadah. Kita baru merasakan ketinggian tawakkal kepada Allah I . Tatkala ujian datang, tatkala musibah menerpa.

Ketujuh : Ingatlah, dengan ujian atau musibah yang menimpa kita terkadang menghilangkan sifat ujub pada diri kita. Karena tatkala kita rajin beribadah dan selalu mendapatkan kenikmatan terkadang timbul ujub dalam diri kita dengan merasa bahwa diri kita hebat dan selalu beruntung. Jangan sampai kita salah persepsi dengan menganggap tanda kecintaan Allah I  kepada seorang hamba adalah tidak ditimpanya sang hamba dengan musibah. Bahkan perkaranya justru sebaliknya. Nabi r  bersabda :
إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ
“Jika Allah mencintai sebuah kaum maka Allah akan menguji mereka” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 146).

Kedelapan : Berprasangka baiklah kepada Allah I , yakinlah bahwa dibalik ujian dan musibah yang menimpamu ada kebaikan dan hikmah. Justru jika ujian tersebut tidak datang dan jika musibah tersebut tidak menimpamu bisa jadi kondisi yang datang kemudian adalah lebih buruk. Allah I berfirman, artinya : “Dan boleh jadi kalian membeci sesuatu padahal ia amat baik bagi kalian”(QS. Al-Baqarah : 216).

Kesembilan : Bahkan bisa jadi musibah atau ujian yang kita benci tersebut bahkan mendatangkan banyak kebaikan. Allah I  berfirman, artinya : “Maka mungkin kalian membenci sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”  (QS. An-Nisaa : 19).

Kesepuluh : Ingatlah, bahwasanya hidup di dunia tidak ada istrirahat total. Kegembiraaan total, kecuali di akhirat kelak. Selama Anda masih hidup di dunia maka siap-siaplah dengan ujian yang menghadang. Bersabarlah, tegarlah, demi meraih ketentaraman dan kebahagiaan abadi kelak di surga. Seorang awam biasa berkata, “Kalau mau hidup di dunia harus siap diuji, kalau tidak mau diuji, ya, jangan hidup di dunia!”.Mungkin benar juga apa kata mereka.

Akhirnya, banyaknya ujian yang menimpa orang-orang besar, justru memperkuat rasa tawakal dan kerelaan mereka kepada keputusan Allah I. Di situlah tampak kadar kekuatan iman seseorang bukan hanya dalam raka’at-raka’at pendek saja. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : “Pada saat manusia sama-sama sehat, mereka sejajar dalam iman, namun tatkala bencana menimpa, tersingkaplah siapa yang benar-benar kokoh iman-Nya.” Wallahu a’lam.

[Maraji’ : Artikel “10 Renungan Bagi Yang Ditimpa Ujian/Musibah”, Ust. Firanda ndirja, Lc.,MA. ; Kutipan Buku “Shaidul Khathir”, Imam Ibnu Al-Jauziy ; Artikel “Sabar Menghadapi Ujian Hidup”, Dewi Yana @ http://dewiyana.cybermq/com dan lainnya].