Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Kamis, 22 November 2012

Mengenal Ahlul Bait Rasulullah

Pernahkah kita mendengar istilah “ahlul bait”. Atau istilah “habib”? Jika iya, tahukah Anda apa artinya? Siapa dan bagaimana kedudukan mereka dalam agama kita?

Di bulan Muharram seperti ini, sebuah kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok Syi’ah, biasanya menyelenggarakan seremonial duka cita mengenang wafatnya salah seorang ahlul bait nabi r , yaitu Husain bin Ali t, dengan ratapan dan tangisan yang sungguh jauh dari tuntunan agama kita yang suci.

Di sini, kita tidak akan membahas secara panjang lebar berkaitan dengan seremonial mungkar tersebut di atas. Tetapi, yang akan kita bahas adalah penjelasan ilmiah berdasarkan al-Qur’an dan sunnah dalam memahami “ahlul bait” Rasulullah rdan kedudukan mereka. Hal ini bertujuan agar kita tidak terjatuh dalam aqidah menyimpang berkaitan dengan sikap pengagungan dan penghormatan kita kepada mereka.

Kita sering mendengar istilah “habib”. Nah, habib ini adalah  gelar yang dinisbatkan (dilekatkan) secara khusus kepada keturunan Nabi Muhammad r. Artinya, jika seseorang disebut “habib” maka ia diakui sebagai “ahlul bait” Nabi r. Benarkah demikian?


Siapakah Ahlul Bait?

Di antara bentuk kecintaan kepada Rasulullah r adalah mencintai orang-orang dekat beliau r . Mereka adalah para shahabat dan ahlul bait beliau r .  

Ahlul bait atau al ‘ithrahadalah keluarga Rasulullah r yang beriman. Dalam kitab Syarh Ta’limul Muta’allim karya Syaikh Ibrahim bin Ismail rahimahullah (salah seorang ulama Madzhab Syafi’i), beliau mengatakan, (ahlul bait adalah) : “Keluarga Nabi r dari sisi nasab adalah keturunan Ali, Abbas, Ja’far, Aqil (putra Abu Thalib), dan Haris bin Abdul Muthalib.” (Syarh Ta’limul Muta’allim, Hal. 3).

Kemudian, termasuk juga ahlul bait berdasarkan dalil al-Qur’an, adalah para istri Nabi r. Sebagaimana firman Allah I, artinya :  “Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu gemulai dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit (nafsu) dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 32-33).

Ikrimah rahimahullah (salah satu ahli tafsir murid Ibnu Abbas t) mengatakan, “Siapa yang ingin mengetahui ahlul bait beliau, sesungguhnya ayat ini turun tentang para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6:411).

Kedudukan dan Keutamaan Ahlul Bait

Ahlul bait memiliki beberapa keutamaan yang diabadikan dalam al-Qur`an dan Sunnah r. Di antaranya adalah :

1. Allah I membersihkan mereka dari kejelekan. Allah I berfirman,  artinya : “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan kejelekan dari kalian wahai ahlul bait dan membersihkan kalian dengan sebersih-bersihnya (dari dosa).” (QS. Al-Ahzab: 33).

2. Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh dengan ahlul bait, sebagaimana sabda beliau r , artinya : “Sungguh aku tinggalkan untuk kalian sesuatu, yang apabila kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku. Salah satunya lebih besar daripada yang lainnya yaitu; kitabullah, tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi, dan berikutnya adalah ‘itrati, yaitu ahlul baitku. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di telaga. Maka lihatlah bagaimana kalian menjaga dan memperhatikan keduanya sepeninggalku.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Makna berpegang dengan ahlul bait adalah mencintai mereka, menghormati mereka, menjalankan petunjuk mereka dan mengambil pelajaran dari perjalanan hidup mereka, selama tidak menyelisihi Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tuhfatul Ahwadzi 10/178)

3. Nasab ahlul bait merupakan nasab yang paling mulia dan pilihan. Rasulullah r  bersabda, artinya : “Sesungguhnya Allah memilih Nabi Ismail dan memilih Kinanah dari keturunan Isma’il serta memilih Quraisy dari keturunan Kinanah. Allah juga memilih Bani Hasyim dari Quraisy dan memilih aku dari keturunan Bani Hasyim.” (HR. Muslim)

4. Nasab mereka tidak terputus hingga hari kiamat. Rasulullah r  bersabda, artinya : “Semua sebab dan nasab akan terputus pada hari kiamat kecuali sebabku dan nasabku.(HR. ath-Thabarani)

Sikap yang Benar Terhadap Ahlul Bait

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullahu ta’alaa, salah seorang ulama Madinah yang terkemuka pada masa ini berkata :
“Ahlus sunnah wal jama’ah (mereka yang berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah r) dalam seluruh permasalahan akidah selalu mengambil jalan pertengahan antara ekstrim kiri dan ekstrim kanan, demikian pula antara sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan. Termasuk akidah terhadap ahlul bait, mereka mencintai setiap muslim dan muslimah yang termasuk keturunan Abdul Muththalib.

Demikian pula para istri Nabi r. Ahlus sunnah mencintai, menyanjung, dan menempatkan mereka pada kedudukan yang mulia dengan penuh keadilan, bukan karena hawa nafsu atau serampangan. Ahlu sunnah mengakui keutamaan ahlul bait, karena pada diri-diri mereka terdapat kemuliaan iman sekaligus kemuliaan nasab.

Kalau ada di kalangan para sahabat yang termasuk ahlul bait, maka Ahlus sunnah mencintainya karena keimanan dan ketakwaannya, berikutnya karena posisinya sebagai shahabat Nabi, dan terlebih lagi termasuk bagian dari keluarga beliau r. Adapun selain dari kalangan shahabat namun termasuk dari ahlul bait, maka Ahlus sunnah mencintainya karena keimanan dan ketakwaannya, serta karena dirinya termasuk bagian dari keluarga Nabi r. Ahlus sunnah memandang bahwa kemuliaan nasab mengikuti kemulian iman. Barangsiapa yang Allah I kumpulkan pada dirinya dua kriteria mulia tersebut (kemuliaan iman dan nasab), maka telah terkumpul pada dirinya dua kebaikan. Barangsiapa tidak ada pada dirinya kemuliaan iman, maka sebatas kemuliaan nasab, tetapi itu tidak bermanfaat baginya sama sekali. Kerana Allah I berfirman, artinya :  “Orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.(QS. Al-Hujurat: 13).

Rasulullah r  di penghujung hadits Abu Hurairah t yang panjang beliau r bersabda, artinya : “Barangsiapa yang lambat (tidak bersemangat) dalam amalnya, sungguh garis nasabnya tidak akan bisa membantunya.(HR. Muslim) (Lihat Fadhlu Ahlil Bait).

Beliau r juga bersabda,artinya : “Wahai kaum Quraisy! Berusahalah untuk diri-diri kalian, aku tidak bisa menjamin kalian dari adzab Allah sedikit pun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththalib! Aku tidak bisa menjaminmu dari adzab Allah sedikit pun. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah! Aku tidak bisa menjaminmu dari adzab Allah sedikit pun. Wahai Fathimah bintu Muhammad! Mintalah harta kepadaku sekehendakmu, namun aku tidak bisa menjaminmu dari adzab Allah sedikit pun.” (HR. Bukhari).

Pengakuan Tanpa Bukti

Sungguh telah banyak orang yang mengaku dirinya bagian dari keturunan Nabi r. Jika memang benar penyandaran dan pengakuan tersebut dan ia seorang yang beriman, maka berarti Allah I telah menggabungkan pada dirinya kemuliaan nasab dan kemuliaan iman. Namun jika ia hanya sekedar mengklaim atau mengaku-ngaku padahal sebenarnya ia bukan ahlul bait, maka ia telah melakukan perbuatan yang haram, yaitu mengklaim/mengakui sesuatu yang tidak dimilikinya. Nabi r  bersabda, artinya : ”Orang yang mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya bagaikan memakai dua pakaian kedustaan.(HR. Muslim).

Demikian pula, Nabi r telah melarang seseorang menasabkan dirinya kepada selain nasabnya sendiri, sebagaimana dalam sabda beliau : “Tidak ada seorangpun yang mengaku (menyandarkan diri) kepada selain ayahnya, padahal dia tahu (kalau orang tersebut bukan ayahnya), melainkan telah kufur dan seseorang yang mengaku-ngaku keturunan dari suatu kaum, padahal tidak ada keterkaitan nasab dengan mereka, maka hendaknya mempersiapkan tempat duduknya (di hari kiamat) dari api neraka.”(HR. Bukhari dan Muslim) (Lihat Fadhlu Ahlil Bait).

Dogma Syiah yang Dusta

Pengakuan Syiah bahwa mereka mencintai ahlul bait, kelompok yang berpihak kepada ahlul bait adalah klaim dusta. Justru merekalah orang yang membenci ahlul bait. Hanya saja, karena kultus mereka kepada keturunan Ali bin Abi Thalib, banyak masyarakat yang tertipu dengan klaim mereka.

Mereka sangat mengkultuskan keluarga Ali t, namun membenci para istri Nabi r  dan keturunan Abbas bin Abdul Muthalib. Bukti bahwa mereka sangat membenci istri Nabi r adalah doa buruk mereka bahwa para istri beliau, terutama Aisyah dan Hafshah, kekal di neraka. Wal’iyadzu billah.

Ahlul Bait menurut orang Syiah hanyalah sahabat Ali, kemudian anaknya, Hasan bin Ali dan putrinya yaitu Fatimah, mereka dengan terang-terangan mengatakan bahwa semua pemimpin kaum muslimin selain Ali dan Hasan adalah thogut walaupun mereka menyeruh kepada kebenaran. Orang Syiah menganggap bahwa Khulafaur rasyidin adalah para perampas kekuasaan Ahlul Bait sehingga mereka mengkafirkan semua Khalifah, bahkan semua pemimpin kaum muslimin [Lihat Ushul madhab Syiah karya Dr. nahir bin Abdillah bin Ali Al-qafary : 1/735-758].

Maka kita katakan bahwa membatasi Ahlul bait itu hanya terbatas pada Ali, Hasan bin Ali serta Fatimah, yang keduanya adalah anak sahabat Ali tadalah merupakan batasan yang tidak ada sandaran yang benar baik dari al-Quran maupun as sunnah.

Anggapan ini sebenarnya hanyalah muncul dari hawa nafsu orang-orang Syiah karena dendam dan kedengkian mereka terhadap Islam dan Ahlul Bait Rasulullah r sehingga orang- orang Syiah sejak zaman sahabat tidak menginginkan kejayaan Islam dan kaum muslimin, merongrong Islam dan ingin menghancurkannya dengan salah satu cara yaitu  berlindung di balik slogan cinta ahli bait Rasulullah r .

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Maraji’ :
·  Mengenal Ahlul Bait Nabi, Ahmad Hamidin As-Sidawy. Majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun V/1422H/2001M.
·  Ahlul Bait Menurut Ahlussunnah, Ammi Nur Baits. [http:// konsultasisyariah.com].
·  Kedudukan Ahlul Bait, Abdullah Imam. [http:// buletin-alilmu.com].

Rabu, 14 November 2012

Bulan Muharram Datang Lagi*


Hari ini kita kembali memasuki bulan Muharram tahun 1434 Hijriah. Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, semuanya berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam.

Selayaknya bagi kita untuk banyak bersyukur kepada Allah yang telah menganugerahkan kita umur hingga kembali menemui bulan mulia ini. Begitu pula, muhasabah atau instrospeksi diri dan istighfar adalah penting dilakukan setiap muslim. Mengapa? Ya, karena sebuah kepastian bahwa waktu yang telah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi, sementara disadari atau tidak, kematian akan datang sewaktu-waktu dan yang bermanfaat saat itu hanyalah amal shalih. Sudahkah tilawah al-Qur’an, sedekah dan dzikir kita menghapuskan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan? Sudahkah malam-malam yang kita lewati, lebih sering kita gunakan untuk sujud kepada Allah, meneteskan air mata taubat ataukah lebih banyak untuk begadang menikmati tayangan-tayangan televisi atau sepakbola? Semoga saja, kita termasuk diantara antara hamba yang mampu bersyukur.

Pada edisi kali ini, kami akan menuliskan sedikit penjelasan berkaitan dengan bulan Muharram. Semoga dengan penjelasan tersebut, kita dapat memahami betapa besar keutamaan yang ada di dalamnya, sehingga kita mampu mengoptimalkan waktu – waktunya.

Bulan Muharram Adalah Bulan Haram

Sesungguhnya   bulan  Allah Muharram merupakan bulan yang agung lagi penuh berkah. Muharram adalah awal bulan pada tahun hijriyah dan termasuk salah satu dari bulan-bulan haram, sebagaimana firman Allah I, artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah :36).
 
Diriwayatkan dari Abu Bakrah
t , Nabi r bersabda, artinya : “Setahun terdiri dari dua belas bulan di dalamnya terdapat empat bulan haram, tiga diantaranya berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan  keempat adalah Rajab yang diantarai oleh Jumadil (awal dan tsani) dan Sya’ban” (HR. Bukhari).

Adapun maksud dari firman Allah I : “Janganlah kamu menganiaya diri kamu”,  berkata Qatadah رحمه الله : “Sesungguhnya kezholiman yang dikerjakan pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan jika dikerjakan di luar bulan-bulan haram, walaupun sebenarnya kezholiman di dalam segala hal dan keadaan merupakan dosa besar akan tetapi Allah I senantiasa mengagungkan dan memuliakan beberapa perkara/urusan menurut kehendakNya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. At-Taubah: 36).

Memperbanyak Puasa Sunnah

Dari Abu Hurairah t ia telah berkata, Rasulullah r bersabda :

أَفْضَلُ الصّـِيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ 
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram” (HR. Muslim).
   
Imam Al
-Qari رحمه الله berkata : Nampaknya maksud dari hadits tersebut adalah berpuasa pada seluruh bulan Muharram”.
   
Akan tetapi telah diriwayatkan, bahwasanya Nabi
r tidaklah berpuasa sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan saja, sehingga hadits ini hanya menunjukkan keutamaan memperbanyak puasa pada bulan Muharram, bukan berpuasa dengan sebulan penuh.
    
Dan telah diriwayatkan juga bahwa Nabi senantiasa memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban, hal ini mungkin dikarenakan belum turunnya wahyu kepada beliau yang menjelaskan tentang keutamaan bulan Muharram kecuali pada akhir hayatnya sebelum beliau sempat berpuasa pada bulan tersebut. (
Lihat Syarh Shahih Muslim oleh An-Nawawi).

Sejarah ‘Asyura di Bulan Muharram

Dari Ibnu Abbas t telah berkata: “Setelah Nabi tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura, beliau bekata: “apakah ini?”, mereka menjawab : “Ini adalah hari yang baik dimana  Allah I menyelamatkan bani Israil dari musuh-musuhnya hingga Musa berpuasa pada hari itu”, selanjutnya beliau r berkata: “Saya lebih berhak atas Musa dari kalian”, maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa pada hari itu “ (HR. Bukhari).
   
Sebenarnya puasa ‘Asyura telah dikenal pada zaman jahiliyah sebelum datangnya zaman nubuwwah, dari Aisyah radhiallahu anha ia telah berkata : “Sesungguhnya orang-orang jahiliyah juga berpuasa pada hari itu…”. (
HR. Bukhari).

Imam Qurthubi
رحمه الله  berkata: “Mungkin orang-orang Quraisy waktu itu masih berpegang dengan syariat sebelumnya seperti syariat Nabi Ibrahim Alaihissalam, dan juga telah diriwayatkan bahwa Nabi berpuasa ‘Asyura di Makkah sebelum hijrah ke Madinah dan setibanya di Madinah beliau kemudian menemukan orang-orang Yahudi merayakan hari itu, maka Nabi r  menanyakan hal tersebut dan mereka berkata sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits yang lalu, lalu beliau memerintahkan sahabatnya untuk me-nyelisihi kebiasaan mereka yang menjadikan ‘Asyura sebagai hari raya, sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Abu Musa t: “Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menganggapnya sebagai hari raya”. Maka Nabi r bersabda : “Berpuasalah kalian pada hari itu” (HR. Muslim).

Keutamaan Puasa ‘Asyura

Dari Ibnu Abbas t telah berkata : “Saya tidak melihat Nabi r memperhatikan satu hari untuk berpuasa yang beliau utamakan dari selainnya, kecuali pada hari ini yakni hari ‘Asyura dan bulan ini yakni bulan Ramadhan” (HR.  Bukhari).

Dari Abu Qatadah
t, Nabi r bersabda, artinya : “Puasa hari ‘Asyura, Aku berharap kepada Allah untuk menghapus dosa pada satu tahun sebelumnya.” (HR. Tirmidzi).
 
Hal ini sangat jelas merupakan keutamaan Allah bagi kita yang menghapus dosa setahun hanya dengan berpuasa sehari saja, sesungguhnya Allahlah Pemilik keutamaan yang agung.

Imam Nawawi رحمه الله  berkata: “Yang dihapus adalah semua dosa kecil dan tidak termasuk dosa besar”, (Lihat Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab juz 6 tentang puasa hari Arafah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله   berkata : “Bersuci, sholat, puasa Ramadhan, puasa hari Arafah dan ‘Asyura hanya dapat menghapus dosa-dosa kecil” (Lihat Al Fatawa Al Kubra juz 5).

Apakah Hari ‘Asyura Itu?

Imam Nawawi رحمه الله  berkata: ‘Asyura dan tasu’a adalah dua nama yang sudah masyhur (terkenal) di dalam buku-buku bahasa (arab), ‘ulama mazhab kami berkata : ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram dan Tasu’a adalah hari kesembilan pada bulan tersebut, sebagaimana menurut pendapat kebanyakan ‘ulama. Penamaan itu dapat diketahui berdasarkan lafazhnya dan keumuman hadits-haditsnya, dan pendapat inilah yang terkenal dikalangan ahli bahasa".
 
Ibnu Qudamah
رحمه الله  berkata : ‘Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram, ini adalah pendapat Sa’id bin Al-Musayyab dan Al-Hasan, hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas t, bahwasanya ia telah berkata : “Rasulullah r memerintahkan berpuasa pada hari ‘Asyura, yaitu hari kesepuluh (dari bulan Muharram)”.(HHR. Tirmidzi).

Disunnahkan Berpuasa Tasu’a Sebelum ‘Asyura

Dari Abdullah bin Abbas ttelah berkata : “Ketika Rasulullah r berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata: “Wahai Rasulullah r sesungguhnya ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, maka Rasulullah r bersabda : “Pada tahun mendatang Insya Allah kita juga akan berpuasa pada hari kesembilan” dia (Ibnu Abbas) berkata: “akan tetapi beliau  telah wafat sebelum tahun depan” (HR. Muslim).      

Imam Syafi’i, Ahmad, Ishak dan lainnya berkata : Disunnahkannya berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh, karena Nabi berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat berpuasa pada hari kesembilan.

Maka dari itu puasa ‘Asyura bertingkat-tingkat : (pertama): hanya berpuasa pada hari kesepuluhnya saja, (kedua): berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh dan (ketiga) dengan memperbanyak puasa pada bulan tersebut.

Imam Nawawi 
رحمه الله  berkata : “Sebagian ulama dari shahabat kami dan lainnya menyebutkan beberapa pendapat tentang hikmah disunnahkannya puasa Tasu’a, diantaranya adalah untuk menyelisihi Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh”.

Bid’ah – Bid’ah ‘Asyura

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله  menyebutkan beberapa bentuk bid’ah yang banyak terjadi, di antaranya : sebagian orang pada hari ‘Asyura memakai celak mata, mandi, mengolesi badan dengan daun pacar, saling berjabat tangan, memasak kacang-kacangan, menampakkan perasaan gembira, dan lain sebagainya.
Beliau mengatakan, sesungguhnya hal yang demikian itu sama sekali tidak disebutkan di dalam hadits-hadits nabi yang shahih dan juga tidak pernah dinukil dari para shahabat juga tabi’in, dan para ulama kaum muslimin.

Ketahuilah, tidak ada satu hadits shahih pun mengenai hal-hal tersebut, akan tetapi sebagian orang belakangan meriwayatkannya dari beberapa hadits seperti hadits yang berbunyi: “Barang siapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura maka ia tidak akan tertimpa bencana pada tahun itu” dan semisalnya. Telah diriwayatkan di dalam hadits maudhu (palsu) lagi dusta yang disandarkan kepada Nabi r: “Barang siapa yang melapangkan keluarganya (dalam nafkah belanja) pada hari ‘Asyura maka Allah akan meluaskan baginya sepanjang tahun”.Riwayat-riwayat seperti ini adalah bentuk kedustaan terhadap Nabi r.

Di antara
bid’ah lainnya, menjadikan hari ‘As-yura sebagai hari berduka cita dan meratap, meraka menampakkan kebiasan-kebiasaan jahiliyah seperti menampar pipi, merobek-robek pakaian, saling memanggil dengan panggilan jahiliyah dan memperdengarkan syair-syair yang menyedihkan (karena meninggalnya Husain bin Ali  t) (Lihat Al Fatawa Al Kubra).
   
Demikian yang dapat kami tuliskan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

*) Al-Munir Edisi 100/III Desember 2011 yang dicetak ulang (dengan sedikit perubahan), mengingat nasehat dan manfaat yang begitu penting untuk diingatkan kembali.