Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Kamis, 26 April 2012

Sepucuk Surat Dari Imam Malik

Keshalihan itu banyak ragamnya. Ia seperti keimanan yang oleh Rasulullah r  dikatakan mempunyai banyak cabang . Di antara cabang – cabang tersebut, yang tertinggi adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Dan yang terendah adalah menyingkirkan onak duri dari jalanan. Sebagaimana hadits Rasulullah r, artinya : Iman itu lebih dari enam puluh cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan, 'Laa ilaaha illallah' dan cabang yang paling rendah yaitu menyingkirkan kotoran dari jalan". (HR. Muslim). 

Keanekarangaman keshalihan itu tentu akan sulit untuk kita amalkan seluruhnya. Sebab kita serba terbatas.

Sepanjang sejarah manusia teramat sangat jarang kita temukan sosok yang dapat merangkum sekian keshalihan itu. Selain Rasulullah r  tentu saja , kita mungkin mengenal sosok Abu Bakar t, sahabat Rasulullah r yang amat dicintainya.  Beliau r pernah bersabda, artinya : “Andaikata aku akan mengangkat seorang khalil (kekasih) dari umatku niscaya aku angkat Abu Bakar, tetapi cukuplah sebagai saudara dan sahabatku. Sungguh Alloh telah mengangkat sahabat kalian ini (maksudnya diri beliau sendiri) menjadi khalil-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r pernah bertanya kepada para sahabatnya di suatui pagi, “Siapakah diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?” Abu Bakar menjawab ”Saya!” Rasul r bertanya lagi ”Siapakah diantara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” Abu Bakar t menjawab ”Saya!”. “Siapakah yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?” tanya Rasul r lagi. “Saya!” jawab Abu Bakar. “Siapakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” tanya Rasul r pula. “Saya!” jawab Abu Bakar. Kemudian Rasulullah r  bersabda : “Tidaklah terkumpul perkara tersebut pada seorang hamba kecuali pasti masuk surga.” (HR. Muslim)


Maka pastaslah  Rasulullah r pernah bersabda : “Sesungguhnya yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah. Sampai – sampai ‘Umar ibn Al-khathab t pun mengakui bahwa, “Sungguh aku tidak akan mungkin menyamai pria yang satu ini, selamanya”.

Ah, tapi jangan pernah bersedih Saudaraku. Memang kita mungkin tidak sanggup seperti dia t. Tetapi, satu hal yang patut kita renungkan, keshalihan itu ibarat rezki dari Allah I . Allah I lah yang mengaruniakan hidayah kepada kita untuk mengerjakan sebuah keshalihan, sekecil apapun itu.
Maka sebagaimana rezki, ada orang yang mendapatkan keshalihan berlimpah namun ada yang biasa - biasa saja. Ada orang yang dibukakan pintu rezkinya dari arah perdagangan, namun ada pula yang dibukakan dari pintu yang lain. Tentu saja ketika Anda hanya mendapatkan limpahan rezeki yang tak seberapa, anda tidak boleh berhenti untuk bekerja keras. Seperti itu pulalah keshalihan.

Sepucuk Surat dari Sang Imam

Apa yang terpaparkan di atas terilhami oleh sepucuk surat yang pernah dikirimkan Imam Malik rahimahullah kepada salah seorang sahabatnya yang bernama ‘Abdullah Al ‘Umary.

Kebetulan ‘Abdullah Al ‘Umary ini adalah seorang ahli ibadah yang bermukim di Mekkah. Ia tidak mempunyai aktifitas lain selain ibadah  seraya beruzlah saja. Dia mungkin berpikir bahwa itulah ibadah  yang paling disukai Allah Ta’ala.

Maka ia pun menulis sepucuk surat yang kemudian ia tujukan kepada Imam Malik ibn Anas rahimahullah di Madinah. Isinya tentu saja adalah ajakan kepada Imam Malik rahimahullah agar meninggalkan Madinah dan mengikuti jejaknya beruzlah di Mekkah agar lebih berkonsentrasi menjalankan ibadah. Ia meminta sang Imam untuk tidak lagi mengajar dan menyampaikan ilmu yang ia miliki, untuk kemudian memfokuskan diri beribadah di sisi ka’bah masjidil haram yang mulia itu.

Ya, jelas saja, sang sahabat mengajaknya karena keutamaan masjidil haram yang begitu besar besar di matanya. Bukankah Rasulullah r pernah bersabda, artinya : “Shalat di Masjidku lebih utama 1000 kali shalat dibandingkan shalat di masjid yang lain, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali lipat dibandingkan shalat di masjid yang lain”. (HR. Ibnu Majah 1406, dan dishahihkan oleh Al-Albani).







Dan ketika Imam Malik menerima surat itu, segera saja beliau menyiapkan balasannya. Dan surat balasan itu berbunyi seperti ini…

“…sesungguhnya Allah I telah membagi amalan (keshalihan) itu sebagaimana Ia I  telah membagi rezki. Terkadang ada orang yang dibukakan jalannya untuk lebih banyak mengerjakan shalat namun tidak dibukakan untuknya jalan untuk lebih banyak berpuasa.

Ada pula yang lain yang mungkin dimudahkan untuk bersedekah, namun tidak dibukakan jalan untuk banyak berpuasa. Mungkin ada juga yang lain yang di mudahkan untuk berjihad (namun tidak dibukakan untuk yang lainnya).

Adapun menyebarkan ilmu itu sendiri adalah salah satu amal keshalihan. Dan saya sudah merasa ridha terhadap jalan yang dibukakan (Allah) untukku ini. Dan saya yakin bahwa apa yang saat ini aku kerjakan tidak lebih buruk dari apa yang tengah engkau kerjakan. Namun saya tentu berharap bahwa kita berdua selalu berada dalam kebaikan dan Keshalihan…” (Siyar A’lam An Nubala ‘8/15).

Dan surat singkat ini tentu saja ditujukan untuk kita pula. Untuk saya dan Anda para pembaca yang budiman.

Maka, saatnya untuk mensyukuri segala kemudahan yang dikaruniakan oleh Allah I kepada kita dalam hal keshalihan. Ketika Allah I memudahkan kita untuk puasa, maka syukurilah dengan optimalisasi puasa. Ketika Allah I  menganugerahkan kemudahan untuk banyak mengerjakan shalat, sujud dan rukuk, maka syukurilah dengan optimalisasi shalat di setiap kesempatan. Begitu pula dengan kemudahan akan keshalihan – keshalihan lainnya.

Teruslah beramal shalih... Semoga Allah senantiasa menetapkan kita selalu di bawah bimbingan taufiqNya. Wallahu A’lam.  
[Tulisan ini banyak diinspirasi dari Buku “Perindu – Perindu Malam dan Rindu yang Berujung Surga, Abul Miqdad Al-Madany].



Rabu, 11 April 2012

Etika Pedagang Muslim

Sejarah masuknya agama Islam ke negeri kita tercinta, Indonesia, sungguhlah unik dan menakjubkan. Betapa tidak, konon, nenek moyang kita beragama Hindu dan Budha serta berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha pula. Meski demikian, semua itu tidak dapat menghadang laju pergerakan para penyebar syiar Islam.

Tahukah Anda, siapakah tokoh-tokoh penyebar agama Islam di bumi nusantara ini? Apakah profesi mereka yang berhasil mengislamkan nenek moyang kita? Konon, mereka adalah para pedagang muslim yang singgah di berbagai pelabuhan nusantara, lalu mereka berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Sekarang, coba Anda bandingkan dengan kemajuan dakwah penyebaran syiar Islam di zaman kini. Dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada, para juru dakwah zaman sekarang ternyata belum kuasa mengukirkan sejarah segemilang yang ditorehkan para pedagang kala itu. Padahal kemajuan sudah demikian majunya.

Melalui edisi kali ini, kami mengajak Anda mengenal sejauh manakah keluhuran perilaku, etika dan adab yang seharusnya dimiliki oleh seorang pedagang muslim.

Dengan mengetahui berbagai etika dan adab pengusaha muslim sejati, diharapkan Anda dapat merintis kembali sejarah emas para pedagang dahulu yang sukses memikat hati para mad’unya melalui jalan perdagangan. Lebih dari itu, semoga dengan etika dan adab luhur tersebut, keberkahan rezqi dapat diraih nantinya. Semoga.

Etika Pertama : Ketulusan Niat

Seorang pedagang muslim menjalankan perniagaannya dalam rangka menjaga kehormatan dirinya sehingga ia tidak merendahkan diri dengan meminta-minta. Dengan berniaga, keluhuran jiwa seorang muslim terbukti dengan tercukupinya kebutuhan dan nafkah setiap orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Rasulullah rbersabda, artinya : Andai salah seorang di antara kalian pergi mencari kayu bakar dan memanggulnya di atas punggungnya,
sehingga dengan itu ia dapat bersedekah dan mencukupi kebutuhannya (tidak meminta-minta kepada) orang lain, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik orang itu memberinya atau menolak permintaannya, karena sesungguhnya tangan yang (berada) di atas lebih utama daripada tangan yang (berada) di bawah. Mulailah (nafkahmu dari) orang­orang yang menjadi tanggung jawabmu.”[HR. Bukhari dan Muslim].

Etika Kedua: Tangguh dan Pantang Menyerah

Di antara kepribadian pedagang muslim yang membedakannya dari selainnya ialah ketangguhan mental dan jiwanya. Kegagalan dan tantangan, yang kadang menghiasi perjuangannya, tidak menjadikannya lemah dan kendur semangat. Dia akan selalu optimis dan menatap masa depan dengan penuh kepercayaan.

Allah I berfirman, artinya : "Dan apa pun nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allahlah (datangnya)." (QS. An-Nahl : 53).

Etika Ketiga : Tawakkal

Keimanan Anda kepada Allah I sebagai pengusaha muslim, tidak menjadikan Anda bertopang dagu dan pasrah dengan setiap kenyataan. Keimanan terus mendorong Anda untuk berusaha tanpa kenal lelah. Walau demikian, Anda menyerahkan hasil dari usaha keras Anda kepada kehendak dan karunia Allah I . Allah I berfirman, artinya: " Kamilah yang menentukan, di antara mereka, penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian lainnya beberapa derajat, agar mereka dapat mengambil manfaat satu sama lain." (QS. Az-Zukhruf : 32).

Betapa indah gambaran Rasulullah r  tentang tawakkal berikut ini, Andai engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah memberimu rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung yang di pagi hari meninggalkan sarangnya dan ketika senja hari tiba, ia telah kenyang.” [HR. Ahmad].

Dengan demikian, tawakkal yang benar tidak menyebabkan Anda menjadi manusia pemalas. Akan tetapi, tawakal menjadikan Anda dapat menatap hari esok dengan penuh percaya diri tanpa ada kekhawatiran sedikit pun.

Etika Keempat : Tidak Lalai Mengingat Allah Ta’ala

Di antara karakter pengusaha muslim yang sangat indah dan membedakan Anda dari pengusaha nonmuslim ialah bahwa Anda senantiasa ingat kepada Allah ta'ala.

Dengan demikian, Anda senantiasa menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah I tanpa terganggu oleh berbagai aktivitas perniagaan Anda. Allah Iberfirman, artinya : "Laki-laki yang tidak terlalaikan dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, (disebabkan) oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli. Mereka takut kepada suatu hari yang, di hari itu, hati dan penglihatan berguncang." (QS. An-Nur : 37).

Anda senantiasa sadar bahwa Allah ta’ala mengetahui setiap perbuatan dan ucapan Anda. Kesadaran ini menjadikan Anda waspada dan tidak menghalalkan segala macam cara dalam mencari keuntungan niaga.

Rasulullah rbersabda, artinya :Jangan pernah engkau merasa (seluruh) rezekimu terlambat datang, karena sesungguhnya tiada seorang pun hamba yang mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir yang ditentukan untuknya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah yang halal dan tinggalkan yang haram.”[HR. Ibnu Majah; Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini sahih].

Anda beriman bahwa harta kekayaan hanyalah titipan dan bahkan ujian, adakah Anda bersyukur atau sebaliknya, kufur. Allah I berfirman, artinya: "Dan ketahuilah bahwa harta benda dan anak keturunanmu hanyalah cobaan, dan sesungguhnya Allah, di sisi-Nya terdapat pahala yang agung." (QS. Al - Anfal : 28).

Anda percaya bahwa keberhasilan hidup tidaklah diukur dari banyak atau sedikitnya kekayaan Anda. Terlalu rendah dan hina bila kesuksesan hidup diukur dengan materi.

Rasulullah rbersabda, artinya : Andai dunia beserta isinya adalah seberat sayap nyamuk, niscaya Allah tidak pernah memberi kesempatan kepada orang kafir untuk meneguk walau hanya seteguk air minum.[HR. Tirmidzi].

Nyatanya, hari ini orang – orang kafir dengan leluasa meneguk air. Berarti memang dunia di sisi Allah I tidak lebih berat dari sehelai sayap nyamuk. Wallahul Musta’an.

Etika Kelima :  Jujur

Syariat Islam mengajarkan untuk selalu berbuat jujur dalam segala keadaan.

Suatu ketika Rasulullah r berkata :“Wahai para pedagang!” Spontan mereka menegakkan leher dan pandangan guna memperhatikan seruan Rasulullah r ini. Lalu, beliau rbersabda, artinya : “Sesungguhnya, kelak di hari kiamat, para pedagang akan dibangkitkan sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” [HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan hadits inishahih].

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahberkata, “Kebiasaan para pedagang adalah menipu dalam perniagaan dan berambisi untuk menjual barang dagangannya dengan segala cara yang dapat mereka lakukan. Tanpa terkecuali : dengan sumpah palsu dan yang serupa. Karenanya, Nabi r  memvonis mereka sebagai orang-orang jahat (fajir). Beliau hanya mengecualikan -dari vonis ini- para pedagang yang senantiasa menghindari hal-hal yang diharamkan, senantiasa memenuhi sumpah, dan jujur dalam setiap ucapannya.” [Dinukil oleh Al-Mubarakfuri dalam kitabnya, Tuhfatul Ahwadzi, 4:336].

Etika Keenam :  Senantiasa Memudahkan Orang Lain
Dari sahabat Jabir bin Abdillah t, bahwa Rasulullah r  bersabda, artinya : “Semoga Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa memberikan kemudahan ketika ia menjual, ketika membeli, dan ketika menagih.“ [HR. Bukhari].

Sikap Anda ini merupakan cerminan nyata dari keimanan Anda bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sesaat, dan selanjutnya cepat atau lambat Anda pasti berpindah ke alam akhirat. Karenanya, Anda tak kenal lelah untuk terus menerus menabur benih-benih kehidupan akhirat semasa hidup di dunia fana ini.

Pada suatu hari, Rasulullah r  bercerita, “(Pada hari kiamat kelak) Allah mendatangkan salah seorang hamba-Nya yang pernah Dia beri harta kekayaan, kemudian Allah bertanya kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukan ketika di dunia?’ (Dan mereka tidak dapat menyembunyikan suatu kejadian pun dari Allah) [QS. An-Nisa’:42]. Sang hamba menjawab, ‘Wahai Tuhanku, Engkau telah mengaruniakan kepadaku harta kekayaan, aku berjual beli dengan orang lain, dan kebiasaanku (akhlakku) adalah senantiasa memudahkan, aku meringankan (tagihan) orang yang mampu dan menunda (tagihan kepada) orang yang tidak mampu.’ Kemudian, Allah ta’ala berfirman, 'Aku lebih berhak untuk melakukan ini daripada engkau. Mudahkanlah hamba-Ku ini!’” [HR. Bukhari dan Muslim].

Etika Ketujuh :  Membelanjakan Harta di Jalan yang Benar

Manisnya kekayaan, mungkin saja menjadikan Anda lalai dan lupa daratan. Betapa tidak, segala yang Anda inginkan dapat terwujud dengan mudah berkat kekayaan Anda yang melimpah.

Keimanan dan keluhuran jiwa Andalah yang dapat menahan Anda dari sikap angkuh dan melampaui batas ketika Anda berhasil mencapai kekayaan.

Rasulullah r  bersabda, artinya : “Kelak, pada hari kiamat, tidaklah kedua kaki seorang hamba dapat bergeser hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya; tentang hartanya, dari mana dan ke mana ia belanjakan; dan tentang badannya, untuk apa ia gunakan.” [HR. Tirmidzi].

Demikian. Semoga risalah singkat ini bermanfaat. Wallahu a’lam.

Maraji’ :  Majalah Al-Furqon, Edisi 07, Tahun ke-10, Shafar 1432 H/Januari 2011 M ; Artikel “Etika Pedagang Muslim”, Oleh : Ust. DR. Muh. Arifin Badri, MA.

Kamis, 05 April 2012

Canda di Panggung Hiburan

Jenuhnya suasana dan penatnya pikiran akibat dari kesibukan harian, telah memunculkan banyak gagasan untuk menghilangkannya, misalnya dengan menghadirkan hiburan. Tidak bisa ditampik, saat - saat tertentu, hidup memang membutuhkan suasana rileks dan santai untuk mengendurkan urat saraf, memulihkan gairah dan semangat baru. Untuk itu semua, maka didesainlah berbagai hiburan, mulai dari kelas bergengsi hingga tingkat remeh-temeh.

Dunia kesenian dan panggung hiburan saat ini sangat bervariasi. Mulai dari tayangan sinetron religi, pentas dangdut, konser nasyid, film komedi, festival gambus hingga manggungnya para pelawak. Semuanya bertujuan untuk menghibur para penontonnya. Bahkan akhirnya para ustadz setengah artis dengan tampilan nyentrik, juga ikut ambil bagian.

Ironisnya, muatan hiburan jarang ditakar dengan norma Islam, hingga hiburan yang disebut islamipun banyak yang melenceng dari aturan agama, bahkan lebih cenderung bebas dan bias, jauh dari kendali syariat.

Canda Tidak Dilarang

Selingan hidup untuk mengusir bosan dan capek dengan canda dan tawa merupakan sifat bawaan manusia, sebagai bumbu pergaulan dan garam kehidupan. Bercanda dan tertawa boleh - boleh saja, asal masih dalam bingkai syariat, tidak mengandung muatan dusta, memuat pelecehan dan penghinaan. Karena Nabipun r kadang bercanda dengan sebagian sahabatnya.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi r pernah bercanda ketika memanggil shahabatnya : “Hai yang mempunyai dua telinga “ [HR. At-Tirmidzi dalam Asy-Syamail no. 235. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani].

Nabi r juga pernah berkata kepada seorang perempuan tua : “Tidak ada perempuan tua yang masuk surga”. Kemudian beliau r membaca ayat, artinya : “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan “ [QS. Al-Waaqi’ah : 35-36] [HR. Tirmidzi ; Dihasankan oleh Syaikh al-Albani].
Dari Anas tdiriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki menemui Nabi r  dan berkata : “Wahai Rasulullah, bawalah aku jalan-jalan”. Beliau r berkata : “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta”. Laki-laki itu pun menukas : “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?”. Beliau r  berkata : ”Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?”[HR. Abu Dawud no. 4998. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani].

Dari Abu Hurairah t diriwayatkan bahwa ia berkata : “Orang-orang bertanya : ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?’. Beliau menjawab : (Ya, tapi) tidaklah aku hanya mengatakan sesuatu kecuali kebenaran (tanpa berdusta)[HR. At-Tirmidzi no. 1990; Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].

Demikianlah gaya canda beliau, berkelakar tapi serius, bercanda bersih dari kedustaan, tertawa tetapi jauh dari kehinaan, berhumor ria namun tidak sampai menghilangkan muru’ah dan wibawa. Bahkan canda dan humor beliau r berbalas surga dan menebar keutamaan.

Bilamana Bercanda

Dari beberapa riwayat tentang canda Rasulullah r maka terkumpul padanya tiga perkara :
·     Tidak berdusta / tidak mengada-ada.
·     Dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan kalangan pria yang lemah yang butuh bimbingan.
·     Jarang dilakukan (kadang-kadang).
Tiga perkara di atas hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin - baik bagi orang awam, para da’i, dan para pemimpin dalam bermuamalah terhadap sesama.

Jangan Sampai Terjadi

Hendaknya mereka yang bercanda tanpa norma, segera bertaubat kepada Allah ta’ala. Rasulullah r mengancam mereka dengan sabdanya :
وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ، لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ
Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya[HR. Abu Dawud dalam no. 4990 dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].

Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda, artinya : Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat; tidak diucapkan kecuali untuk membuat orang lain tertawa, maka ia terhempas ke dalam jurang jahannam sedalam antara langit dan bumi. Dan sungguh terpelesetnya lisan, lebih berat daripada seseorang terpeleset kakinya” [Shahih, diriwayatkan Imam Muhammad at-Tibrizi dalam Miskatul- Mashabih, Bab : Mizah (4835), (3/1360)].

Menimbang Dampak Dunia Lawak

Kebanyakan tema yang diangkat para pelawak ialah kosong dari kenyataan, cenderung bombastis dan tidak mendidik.
Yang penting, target opini dari para pemirsa tercapai, rating acara menanjak dan dukungan dari kalangan umum melonjak.

Kadang antara pelawak saling melempar hinaan, ledekan dan ejekan untuk menciptakan suasana segar.

Padahal setiap kalimat dari lisan kita pasti akan dihisab Allah I  dengan mudah, dan tercatat secara akurat dalam catatan malaikat, sebagaimana Allah I  telah berfirman, artinya : “Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”[QS. Qaaf :17-18].

Dari Sahl bin Sa’ad t, ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْبَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
Barang siapa yang menjaminku mampu menjaga apa yang ada diantara dua bibirnya dan di antara kakinya, maka aku akan jamin surga” [HR. Bukhari].

Dari Abu Hurairah t, dari Nabi r bersabda, artinya :”Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat tentang sesuatu yang diridhai Allah, yang tidak ia sadari, maka Allah mengangkat dengannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat tentang sesuatu yang dimurkai Allah, yang tidak ia sadari, ternyata menghempaskan dirinya dengannya ke dalam jahannam[HR. Bukhari].

Melawak, Jangan Hina Simbol Islam

Tema obrolan para pelawak pada umumnya kurang berfaidah dan sia-sia belaka. Padahal, termasuk tanda kebaikan Islam seseorang, yaitu meninggalkan sesuatu yang kurang berguna dan tidak bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi r  menyebutkan, artinya : Di antara pertanda kebaikan Islam seseorang, ialah meninggalkan apa yang tidak penting baginya”  [HR. Tirmidzi].

Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa Rasulullah r  bersabda :
لَوْ تَغْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَشِيْرًا
Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, maka kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” [HR. Tirmidzi ; Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani].

Adakalanya seorang pelawak dengan seenaknya membuat guyonan yang melecehkan simbol dan syiar Islam.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata :
Perbuatan mengolok-ngolok Allah, Rasul-Nya dan agama Islam untuk membuat orang lain tertawa, walaupun hanya sekedar bercanda, merupakan kekufuran dan kemunafikan. Perbuatan ini seperti pernah terjadi pada jaman Rasulullah r , mereka yang mengatakan,”Kami belum penah melihat seperti para pembaca (al-Qur‘an) di antara kami, yang lebih buncit perutnya, lebih berdusta lisannya, dan pengecut saat berhadapan dengan musuh”. Maksudnya, ialah Rasulullah dan para sahabatnya. Lalu turunlah ayat tentang mereka, yang artinya: “Jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. [QS. at-Taubah : 65].

Namun Rasulullah r berkata kepada mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah I : Katakanlah : “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman” [QS. at-Taubah : 65-66].

Jadi, bahasan materi rububiyah, kerasulan, wahyu dan agama merupakan materi agama yang terhormat. Seorang pun tidak boleh bermain-main dengan itu. Perbuatan tersebut adalah penghinaan terhadap Allah, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan syariat-syariat-Nya. Maka barangsiapa melakukan perbuatan tersebut, hendaknya bertaubat kepada Allah. [Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin (2/ 156-157)].

Termasuk pula dalam hal ini, melawak dengan mengolok – olok gaya atau ciri dari seorang yang shalih, ustadz atau kyai.

Dalam hal ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata :
Mengolok-olok orang-orang yang konsisten dan istiqamah dalam menjalankan perintah Allah I dan Rasul-Nya, dikarenakan konsistensi mereka merupakan perbuatan haram dan sangat membahayakan pelakunya. Karena dikhawatirkan, ejekan tersebut berangkat dari sikap ketidaksukaannya terhadap keistiqamahan mereka dalam menjalankan agama Allah I , maka ia serupa dengan yang disebutkan Allah I dalam firman-Nya [dalam QS. at-Taubah : 65-66].

Oleh karena itu, orang yang suka mengolok - olok komunitas atau kelompok yang menebarkan kebenaran hendaklah berhati-hati, karena mereka yang diejek dan diolok-olok adalah termasuk para ahli agama yang dimaksudkan dalam firman Allah I , artinya :  “Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat”, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orangorang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan [QS. al-Muthaffifin : 29-36].

Wallahul-Muwaffiq

[ Maraji’ : Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XI/1428H/2007M dan artikel “Adab Dalam Bercanda dan Berkelakar”, Oleh : Ust. Abul –Juzaa’].