Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Kamis, 27 Juni 2013

Perindu – Perindu Ramadhan

Hari-hari yang indah dan didambakan itu kini akan kembali datang kepada kita. Hari-hari yang terdapat pada bulan yang sangat istimewa bagi Sang Pemiliknya dan bagi siapapun yang mengetahui keistimewaannya.

Tamu nan agung yang selalu dinanti-nanti oleh semua orang yang merindukannya, dia adalah bulan Ramadhan nan agung.

Benarkah kita merindukannya?

Apabila benar kita rindu, sungguh kita akan mencium bau Ramadhan dari jauh. Ya, seperti Ya'qub Alaihissalammencium bau anaknya, Yusuf Alaihissalam, karena     kerinduan yang menggelora.

Jika benar kita rindu Ramadhan, sungguh kita akan membuat persiapan menyambutnya. Layaknya, seseorang yang merindukan kedatangan kekasih yang telah lama pergi.

Allah I berfirman (artinya) : “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka. Dan dikatakan kepada mereka, "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46).
Ibnul Qayyim rahimahullahberkata, “Berhati-hatilah terhadap perkara :
Kewajiban telah datang, tetapi kalian tidak siap untuk menjalankannya, sehingga kalian mendapat hukuman berupa kelemahan untuk memenuhinya dan kehinaan dengan tidak mendapatkan pahalanya….”.

Allah I berfirman (artinya) : “Maka jika Allah mengembalikanmu kepada suatu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah, "Kamu tidak boleh keluar bersamaku selamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu, duduklah bersama orang-orang yang tidak ikut berperang” (QS. At-Taubah: 83).

Dalam tafsir ayat ini, disebutkan bahwa setelah Nabi Muhammad r  menyelesaikan perang Tabuk dan kembali ke Madinah lalu bertemu segolongan orang-orang munafik yang tidak ikut perang, mereka meminta izin kepada beliau r  untuk ikut berperang pada peperangan yang lain, maka Nabi Muhammad r dilarang oleh Allah I untuk mengabulkan permintaan mereka, karena mereka sejak awal tidak mau berperang sebagai hukuman bagi mereka, di samping itu ikut sertanya mereka menimbulkan mafsadat.

Maka, seyogyanya kita berhati-hati jangan sampai mengalami nasib seperti ini, yaitu menjadi orang yang tidak berhak menjalankan perintah Allah I yang penuh berkah. Seringnya kita mengikuti hawa nafsu, akan menyebabkan kita tertimpa hukuman, berupa tertutupnya hati dari hidayah. Wallahul Musta’an.

Allah I  berfirman (artinya) : “Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya “  (QS. Al An'am: 110).

Bersiaplah Menyambutnya

Itulah sebabnya, persiapan dalam menyambut kedatangan Ramadhan menjadi teramat penting, sehingga kita tidak dihukum dengan tidak berdayanya kita dalam melakukan kebaikan dan kehinaan karena ketidakmampuan untuk menambah ketaatan.

Mari kita renungkan kembali ayat-ayat di atas. Allah I tidak menyukai keberangkatan mereka (dalam perang) lalu Allah I lemahkan mereka. Karena tidak ada persiapan dari mereka dan niat mereka pun tidak lurus.

Namun, apabila seseorang bersiap untuk menunaikan suatu amal, dan ia bangkit menghadap Allah I dengan kerelaan hati, maka Allah I tidak menolak hambaNya yang datang menghadapNya. Sehingga dahulu, generasi salafush shaleh selalu mempersiapkan diri-diri mereka dalam menyambut Ramadhan dengan sebaik-baiknya, bahkan sejak 6 bulan sebelumnya.

Antara Rajab, Sya'ban dan Ramadhan

Buatlah persiapan menyambut Ramadhan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Saya sama sekali belum pernah melihat Rasulullah r  berpuasa dalam satu bulan, sebanyak yang beliau lakukan di bulan Sya'ban. Di dalamnya, beliau berpuasa sebulan penuh” (HR. Muslim).

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga berkata, “Rasulullah r berpuasa hingga kami mengatakan beliau r tidak pernah berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengatakan bahwa beliau r tidak pernah puasa. Namun Rasulullah r  tidak pernah berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat satu bulan yang paling banyak beliau berpuasa kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Muslim).

Karenanya, bersiaplah dengan banyak berpuasa, agar jiwa terbiasa dengan puasa. Lakukanlah shalat malam di bulan Sya'ban. Perbanyakanlah membaca Al- Qur'an. Perbanyaklah dzikir kepada Allah I sebagai pengantar memasuki Ramadhan.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Rajab adalah bulan persemaian. Sya'ban adalah bulan pengairan. Adapun Ramadhan, ia adalah bulan memetik buah. Agar buah dapat dipetik di bulan Ramadhan, harus ada benih yang disemai, dan ia harus diairi sampai menghasilkan buah yang rimbun.

Perbarui Taubat

Persiapan lain untuk menyambut Ramadhan adalah taubat. Semoga Allah I  mengaruniakan taubat nasuha kepada kita agar Ia ridha. Karena taubat wajib dilakukan seorang hamba setiap saat.

Allah I  berfirman (artinya) : “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”(QS. An-Nur: 31).

Kita harus memiliki rasa takut yang besar, jika kita tetap tidak terbebas dari api neraka meski telah melewati Ramadhan.

Bagaimana nasib Bani Israil, tatkala mereka tidak menghormati perintah Allah I untuk tidak mencari ikan di hari Sabtu? Allah I  akhirnya mengubah mereka menjadi kera.

Sebagaiman firmanNya (artinya) : “Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, kami katakan kepadanya, "Jadilah kamu kera yang hina." (QS. Al A'raf: 166).

Secara fitrah, hati manusia membenci kemaksiatan. Tetapi sebagaimana diketahui, fitrah bisa berubah-ubah. Karenanya, sebelum Ramadhan datang, kita harus berusaha mengembalikan fitrah ini ke dalam hati bila ia telah hilang, atau memperkuatnya bila telah melemah.

Dengannya, seseorang menjadi enggan bermaksiat kepada Allah I, khususnya setelah merasakan kondisi keimanan di tengah ibadah puasa. Agar hati terlatih bersikap enggan terhadap maksiat sebelum Ramadhan datang.

Seseorang harus berbaur dengan nilai-nilai ruhiyah yang tinggi, agar hati mengingkari dan berhati-hati atas segala bentuk maksiat, baik lisan, penglihatan, perasaan, maupun anggota badan. Ia juga harus berbaur dengan perenungan Al-Qur'an dan pemahaman dzikir, mencoba merasakan kelezatan munajat dan tunduk di hadapan Allah I.
Kesiapan seseorang untuk menyambut Ramadhan ditandai dengan sikap enggan terhadap maksiat. Hal ini bisa dilakukan dengan memperbanyak puasa dan membaca Al-Qur'an. Orang yang berakal tidak akan terbayang untuk melakukan maksiat ketika sibuk dengan ketaatan.

Tuntut Ilmu Ramadhan

Bekal ini amat utama agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. Seorang shaleh,kahlifah dan ulama, Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullahberkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan”. 

Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya mendapatkan  lapar dan dahaga saja saat puasa.

Latih Kepekaan Pancaindera

Biasakanlah pancaindera kita dengan ketaatan. Latih mata untuk melihat mushaf, hindarkan dari memandang yang haram. Latih telinga mendengar Al-Qur'an dan mendengarkan ilmu. Hindarkan dari mendengar  nyanyian-nyanyian haram, perkataan dusta, keji, dan kotor. Biasakan lidah memperbanyak dzikir, beramar ma’ruf dan nahi mungkar, berkata jujur dan menyampaikan nasihat kepada kaum mukmin.
Manusia akan bertanggung jawab atas anggota badan dan inderanya ini pada hari kiamat.

Allah I  berfirman (artinya) : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Isra': 36).

Hal ini penting wahai Saudaraku. Mengapa? Karena, jika pancaindera telah terbiasa, ia akan tunduk dan kita pun akan mudah mengendalikannya. Insya Allah.

Akhirnya, kita berdoa, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang diharamkan mendapatkan berkah Ramadhan karena Ramadhan telah di depan mata, namun kita belum melakukan persiapan. Semoga Allah Imemudahkan kita menjalankan berbagai bentuk ibadah di bulan ini. Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah.. Amin.

Maraji’ : Asraarul Muhibbiin fii Ramadhan, Syekh Muhammad Husain Ya'qub ; Panduan Ramadhan Mubarak, Infokom DPD WI Gowa dll.

Kamis, 20 Juni 2013

Ketika BBM Naik Nasehat Bagi Saudaraku “Mahasiswa”

Kita semua tahu dan sadar bahwa kenaikan harga BBM mungkin akan membawa kesulitan bagi rakyat banyak. Mengapa? Ya, sederhana saja. Jika BBM naik, semua kebutuhan pokok akan ikut naik. Maka, semakin “tercekik”lah rakyat yang sebagian besarnya berada di bawah garis kemiskinan, begitu katanya.

Ya, demikianlah kebanyakan orang hari ini dalam menghadapi masalah ini. Semua ingin agar suaranya didengar oleh penguasa. Kebijakan ini semoga berubah, itu harapannya. Namun, adakah yang berpikir, mengapa pemimpin kita memilih jalan untuk menaikkan BBM? Adakah yang mau merenung, apa betul presiden tercinta kita ingin menyengsarakan bahkan membunuh rakyatnya sendiri? Lalu mengapa tidak mau menyikapi hal ini dengan bersabar? Wallahul Musta’an

Taat Kepada Penguasa
Inilah prinsip yang menjadi warisan para pendahulu (salaf) kita yang shalih , orang-orang yang meniti jalan para sahabat Nabi radhiallahu anhum. Mari kita renungkan hadits dari  Rasulullah r (artinya) : “ Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah[HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih].


Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab rahimahulllah, sebagian ulama menyebutkan bahwa penyebutan budak Habasyah dalam hadits di atas adalah permisalan saja. Sebenarnya, tidak mungkin seorang budak menjadi pemimpin [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 120].

Saking besarnya hak pemimpin untuk ditaati, sampai pun jika pemimpin itu berasal dari budak (meskipun ini tidak mungkin), maka tetap harus ditaati. Wallahu a’lam.

Bahkan, jika sekiranya penguasa itu berbuat zhalim, kita pun wajib taat kepadanya. Rasulullah rbersabda (artinya) : “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “ Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau rbersabda (artinya) : ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka[HR. Muslim].

Lihatlah, bukankah yang disebutkan dalam hadits ini adalah pemimpin yang zhalim? Sampai ia menyiksa rakyatnya sendiri, memukul dan mengambil harta mereka? Ini jelas kezhaliman. Namun,  lihatlah apa kata Rasulullah r, “Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka”.

Subhanallah. Prinsip ini mungkin dilupakan oleh sebagian kita. Sebagian kita tidak bersabar dengan kebijakan kenaikan BBM. Seharusnya, ketaatan itu tetap ada, meskipun penguasa tersebut melakukan kebijakan yang nampak “zhalimdengan menaikkan harga BBM misalnya. Wallahul musta’an.

Ketaatan Itu Tidaklah Mutlak

Namun, kita pun harus ingat. Ketataan itu tidaklah mutlak. Menaati mereka bersifat muqayyad (terikat). Ya, terikat hanyalah dalam yang ma’ruf, bukan perkara maksiat.

Kita dapat memahami hal ini dari ayat (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” [QS. An Nisa’: 59].

Para ulama menerangkan bahwa kata ulil amri (penguasa) dalam ayat ini tidak diulang dengan kata “Ø£َØ·ِيعُوا” (taatilah). Ini menunjukkan bahwa ketaatan pada penguasa itu ada selama bersesuaian dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya r .

Dalam haditsnya, Rasulullah rsebutkan (artinya) : “Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat)”[HR. Bukhari].

Rasulullah r juga bersabda (artinya)  : “Seorang muslim wajib mendengar dan taat dalam perkara yang dia sukai atau benci selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat. Apabila diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat[HR. Bukhari].

Maslahat Taat Kepada Penguasa

Ketahuilah, banyak maslahat yang dapat kita peroleh ketika kita menaati keputusan penguasa. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Mereka (penguasa) mengurusi lima perkara untuk kemaslahatan kita :  shalat Jum’at, shalat jama’ah, shalat ‘ied, penjagaan tabal batas dan hukum had. Semua perkara tersebut tidaklah bisa tegak kecuali dengan penegakan dari penguasa meskipun mereka suka melampaui batas dan berbuat zhalim. Demi Allah, maslahat ketika taat pada penguasa itu lebih besar dibanding mafsadat (kerusakan) yang ditimbulkan. Menaati penguasa adalah suatu keselamatan dan berlepas diri dari mereka adalah suatu kekufuran (kebinasaan)” [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117].

Ibnu Abil Izz rahimahullahberkata, “Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zhalim (kepada kita). Jika kita keluar dari menaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezhaliman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zhalim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita” [Syarh Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 381, terbitan Darul ‘Aqidah].

Ibnu Rajabrahimahullah berkata, “Mendengar dan menaati penguasa kaum muslimin mengandung maslahat dunia, mudahnya urusan hamba, dan bisa menolong hamba dalam menaati Allah” [Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117].

Taruhlah jika menaikkan BBM itu termasuk kezhaliman, tapi bagaimana jika tidak? Kami berperasangka baik bahwa pemerintah sudah menimbang-nimbang adanya maslahat di balik itu semua. Itu pun insya Allah telah melalui kajian ilmiah yang kita pun mungkin tidak memahaminya. Kami yakin, tidak mungkin pemimpin  berniatuntuk menyengsarakan rakyatnya sendiri. Itulah perasangaka baikkami.

Tidak Berdemonstrasi

Sudah menjadi ma’ruf, “demonstrasi” sering dilakukan oleh sebagian saudara kita, mahasiswa. Sudah menjadi ma’ruf juga bahwa demonstrasi tersebut seringkali mengakibatkan jalanan macet, terjadi kerusuhan, korban jiwa, luka-luka, capek menghabiskan tenaga serta tidak pula mendapatkan keuntungan. Semuanya adalah kerugian bagi masyarakat luas. Mungkin, tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa kerusakan dari demonstrasi lebih besar dibanding kita mau menerima kenaikan BBM.

Tidak Menyebarkan ‘Aib Penguasa

Ketika kita berbuat salah, kemudian kita ditegur di depan orang banyak, apakah kita bisa menerima nasehat semacam itu? Kemungkinan jawabannya adalah tidak, pastinya.  Begitu halnya dengan penguasa. Ketika ia dijelek-jelekkan di depan khalayak, disematkan kepada mereka gelar-gelar yang tidak enak didengar telinga, pastilahtidak ada penguasa yang bisa menerima nasehat semacam itu.

Begitu pula, Islam tidaklah menyukai yang demikian karena nasehat yang terbaik adalah nasehat “empat mata”, bukan di khalayak ramai. Setiap orang pun akan senang dengan nasehat semacam itu.

Rasulullah r  bersabda (artinya) : “Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati).” [HR. Ahmad 3: 403. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain].

Bersabarlah, wahai Saudaraku!

Solusi utama untuk menghadapi kenaikan BBM ini adalah berperasangka baik kepada penguasa dan bersabarlah. Bukankah  Nabi r pernah mengingatkan kita (artinya) :  “Barangsiapa melihat sesuatu pada pemimpinnya sesuatu yang tidak ia sukai, maka bersabarlah. Karena barangsiapa yang melepaskan diri satu jengkal saja dari jama’ah, maka ia mati seperti matinya jahiliyah” [HR. Bukhari dan Muslim].

Bersabar, tidaklah ada batasnya. Perkataan sebagian orang “sabar itu ada batasnya”, itu keliru. Mengapa? Ketahuilah, pahala bagi mereka yang mampu bersabar itu tidak terhingga, bahkan surga. Bagaimana bisa dikatakan sabar itu ada batasnya?

Jika kita tidak bersabar terhadap keputusan penguasa, kita akan kehilangan pahala besar berupa surga bagi orang yang mau bersabar.

Ingatlah janji Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga)” [QS. Az Zumar: 10].

Imam Al-Auza’i rahimahullah mengatakan bahwa ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij rahimahullah mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As- Sudi rahimahullahmengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7: 89].

Berpikir Rasional, Cari Solusi

Kami lebih senang dengan solusi yang ditawarkan oleh Menteri Dahlan Iskan. Beliau berkata, “Intinya, untuk melawan kenaikan harga BBM yang pernah, sedang, dan akan terus terjadi itu, tak ada jalan terbaik kecuali kita musuhi BBM. Kalau setiap kenaikan BBM didemo, kita hanya akan terampil berdemo. Tapi kalau BBM-nya yang kita “musuhi”, kita akan lebih kreatif mencari jalan keluar bagi bangsa ini ke depan. Kelak, kita bersikap begini: biarkan dia naik terus menggantung sampai setinggi Monas! Kalau kita tidak lagi menggunakannya, mau apa dia!

Kalau sudah tahu bahwa seumur hidup kita akan terjerat BBM seperti itu mengapa kita tidak mencari jalan lain? Mengapa kita tidak mencoba mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mencari sumber-sumber energi lain selain BBM? Sungguh, masih terlalu banyak ilmuwan kaum muslimin yang kompeten untuk hal ini. Mengapa kita tidak memberdayakan mereka? Mengapa? Tidakkah kita harus takut kepada yang menciptakan alam semesta ini? Berapa kali Allah I  mengatakan “Afalaa ta’qiluuun?”.

Akhirnya, kita harus yakin bahwa di balik kesulitan ini, akan ada kemudahan yang akan datang. Ingatkah kita akan firman Allah I  (artinya) : “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan[QS. Alam Nasyrah: 5]? Kemudian diulangi lagi (artinya) : “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” [QS. Alam Nasyrah: 6].

Abdullah bin Mas’ud tpernah berkata, “Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun akan mengikutinya  karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” [Dikeluarkan oleh Ath-Thabari, 24: 496].  Wallahu a’lam.

Maraji’ : Artikel “Menyikapi Kenaikan BBM”, Muhammad Abduh Tuasikal dan lainnya.


Rabu, 05 Juni 2013

Kontes Miss World : Penistaan Martabat Perempuan

Lazimnya, perempuan biasanya ingin tampil cantik, dan senang dipuji kecantikannya.  Sementara laki-laki  lazimnya senang memandang kecantikan perempuan.  Keinginan naluriah itu ada pada manusia. Rasulullah r pun memberitahukan, bahwa perempuan dikawini karena empat hal: kecantikannya, hartanya, nasabnya, dan juga agamanya.

Nabi r memerintahkan untuk mengutamakan faktor agama, jika rumah tangganya mau selamat. Toh, faktor cantik tidak dilarang untuk dijadikan sebagai pertimbangan. Sebab, itu memang naluriah laki-laki normal. Al-Quran juga menjelaskan, salah satu syahwat dunia adalah kecintaan kepada perempuan, anak-anak, harta perniagaan,emas dan perak, sawah ladang, dan peternakan. (QS 3:14). 

Islam bukanlah agama yang membunuh naluri manusia, sehingga melarang pemeluknya untuk menikah dengan alasan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah I. Tapi, Islam juga bukan agama yang memerintahkan umatnya untuk mengumbar nafsu syahwatnya. 


Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia.  Islam menunjung tinggi prinsip keadilan.Islam tidak membunuh hawa nafsu, tetapi mengendalikan dan mengatur hawa nafsu, sesuai dengan konsep Sang Pencipta, agar manusia meraih kebahagiaan (sa’adah); bukan sekedar meraih kepuasan syahwat jasmaniah.
Peradaban Barat yang mencengkeram pemikiran manusia modern saat ini, adalah peradaban yang secara ekstrim memuja ‘materi’. Unsur-unsur fisik dieksploitasi untuk kepuasan syahwat secara berlebihan.  Sementara unsur “jiwa” (nafs) diabaikan, dan diserahkan kepada kendali syahwat.

Peradaban Barat modern adalah peradaban yang memuja “kekuasaan, kekayaan, kecantikan, dan kepopuleran” (power, wealth, beauty, popularity).  Dalam posisi seperti inilah, aspek kecantikan perempuan mendapatkan tempatnya.

Para desainer dan juru gambar berusaha keras bagaimana mengeksploitasi dan mendandani tubuh perempuan agar “memuaskan”, menarik, dan membangkitkan syahwat laki-laki.  Para manajer  eksploitasi syahwat itu tahu persis, bagian-bagian mana dati tubuh perempuan yang harus dibuka dan bagian mana yang harus ditutup, agar – kata mereka – tampak indah, cantik, dan menarik. Wallahul Musta’an.

Dunia industri kapitalis  yang tidak peduli halal-haram pun tak lupa memanfaatkan (mengeksploitasi) tubuh perempuan agar menjadi daya tarik konsumen, meskipun terkadang, tak ada hubungan antara produk dan tubuh perempuan. Misal, ditampilkannya perempuan seksi untuk mengiklankan produk ban dan cat pengkilat mobil.  Tentu, perancang iklan itu paham betul, bahwa tampilnya perempuan cantik  dengan pakaian ala kadarnya bisa membangkitkan minat (syahwat) pembeli.

Itulah sebenarnya tujuan utama kegiatan kontes kecantikan (yang disebut sebagai ajang Miss World itu). Yakni, eksploitasi tubuh perempuan untuk keuntungan bisnis tertentu. Ironisnya, kegiatan bisnis ini dikemas dengan jargon-jargon sosial bahkan pendidikan.

Seolah-olah, kontes kecantikan perempuan adalah untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan.  Padahal, semua itu adalah bohong belaka. Praktik kontes perempuan lebih merupakan bentuk eksploitasi terhadap perempuan.  Pakaian yang ala kadarnya – biasanya berupa bikini dan sejenisnya – disyaratkan untuk dikenakan pada sesi tertentu agar tubuh kontestan dapat dilihat dan diukur dengan jelas.

Substansi dari kontes kecantikan yang mengumbar dan mengeksploitasi keindahan tubuh perempuan adalah pola pikir dan kegiatan yang keliru. Dalam istilah Islam, itu disebut hal yang bathil dan mungkar.  Kata Rasulullah r (artinya) : Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan hati, dan demikia itu adalah selemah-lemahnya iman. [HR. Muslim].

Tentu saja orang bisa melihat pada sisi yang berbeda. Tergantung pada cara pandangnya terhadap realitas (worldview). Seorang yang berpaham materialisme dan sekulerisme tidak mempersoalkan masalah moral terhadap kontes semacam ini. Haram-halal, berdosa atau berpahala, ibadah atau maksiat, bukanlah hal penting bagi kaum materialis.  Bagi mereka yang terpenting adalah kelimpahan materi, ketenaran, dan puja-pujian terhadap kecantikannya.

Hawa nafsu telah dijadikan Tuhan. Orang seperti ini, dikhawatirkan sudah tertutup mata, telinga, dan hatinya dari kebenaran. (QS.45:23).  Al-Quran menyebutkan, bahwa orang yang merasa benar dan merasa telah berbuat baik, padahal amalnya sesat dan salah, adalah manusia yang paling merugi amalnya. (QS.18:103-104).

Kecantikan bagi seorang perempuan adalah karunia dan sekaligus ujian Allah I bagi si perempuan. Harusnya, kecantikannya digunakan untuk beribadah dan dakwah. Ironisnya, biasa kita saksikan, perempuan-perempuan yang terjebak oleh bujuk rayu setan agar mengeksploitasi kecantikan dan kemolekan tubuhnya untuk menggoncang-goncang syahwat lawan jenisnya. Dan itu tentu ada imbalan yang menggiurkan, berupa kemikmatan hidup duniawi. 

Untuk tampil cantik – tepatnya untuk dikatakan cantik – sebagian perempuan  mau melakukan tindakan hina dengan membuka auratnya. Padahal, jika direnungkan dengan hati tulus ikhlas, jika jutaan orang sudah memuji-muji kecantikannya, apakah si perempuan akan bahagia?  Seorang yang menggantungkan hidupnya pada pujian manusia, tidaklah akan pernah meraih bahagia sejati.

Segala puji hanya layak dipanjatkan kepada Allah I . Sebab. kecantikan,   ketampanan, ketenaran, kekayaan, kekuasaan, dapat diraih seseorang hanya karena atas ijin dan karunia Allah I .
Jika Allah I menghendaki, dalam sekejap, semua kecantikan yang dipuja-puja itu bisa sirna. 

Si empunya kecantikan sepatutnya mau berpikir, bahwa tak lama lagi, kecantikannya akan pudar . Kecantikan yang diumbar dan ‘dijualnya’ akan sirna. Puji-pujian itu pun akan hilang.  Bersamaan dengan itu, muncullah perempuan-perempuan yang lebih cantik dan lebih menarik dari dia. Sungguh kasihan, jika seorang menggantungkan kebahagiannya pada pujian orang. Sebab, itu tak kan diraihnya. Pujian manusia bisa buat puas sementara waktu. Bukan kebahagiaan yang hakiki yang hanya bisa diraih oleh orang – orang yang  bertaqwa.

Martabat Perempuan

Suatu ketika, seorang sahabat perempuan Nabi r bernama Asma’ binti Yazid radhiallahu anha mengajukan aspirasi kaumnya kepada Rasulullah r.  Ketika itu, Asma’ mendatangi Rasulullah r , saat beliau sedang berkumpul dengan sejumlah sahabat laki-laki.  Belia berkata kepada Rasulullah r :  “Demi Allah yang menjadikan ayah dan ibuku tebusanmu wahai Rasulullah, aku adalah perwakilan seluruh muslimah. Tiada satu pun diantara mereka saat ini kecuali berpikiran yang sama dengan aku. Sungguh Allah telah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami kaum hawa terbatas aktivitasnya, menunggui rumah kalian para suami, dan yang mengandungi anak-anak kalian.

Sementara kalian kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan shalat berjamaah, shalat jumat, menengok  orang sakit, mengantar jenazah, bisa haji berulang-ulang, dan jihad di jalan Allah. Pada saat kalian haji, umrah atau berjihad, maka kami yang jaga harta kalian, menjahit baju kalian dan mendidik anak-anak kalian. Mengapa kami tidak bisa menyertai kalian dalam semua kebaikan itu?”

Rasul r melihat-lihat para sahabatnya dan berkata, “Tidakkah kalian dengar ucapan perempuan yang bertanya tentang agamanya lebih baik dari Asma’?”

“Tidak wahai Rasul,” jawab sahabat.

Beliau r  lalu bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, meminta keridhaannya, dan menyertainya ke mana pun ia pergi pahalanya setara dengan apa yang kalian tuntut”. Asma’ lalu pergi keluar seraya bertahlil dan bertakbir kegirangan. [Abu Nu’aim al-Asbahani dalam kitab Ma’rifat al-Shahabah (Vol.22/420)].

Aspirasi Asma’ berbeda secara substansial dengan aspirasi kaum pegiat kesetaraan gender saat ini. Asma’ tidak menuntut kesetaraan secara nominal; bahwa perempuan dan laki-laki harus sama-sama aktif di ruang publik untuk kemajuan pembangunan. Perempuan yang aktif mendidik anak-anaknya di rumah dengan sungguh-sungguh tidak dianggap telah berpartisipasi dalam pembangunan. Yang dituntut oleh Asma’ adalah kesetaraan substansial, bukan kesetaraan nominal. Peran bisa berbeda. Tapi,peluang untuk meraih pahala dari Allah I  adalah sama besarnya.

Karena itulah, setelah Rasulullah r memberitahukan bahwa istri yang taat dan diridhai suami serta menyertai suaminya, mendapatkan pahala yang sama dengan pahala suaminya, maka Asma’ bertakbir kegirangan. Asma’ tidak menuntut peran yang sama dengan laki-laki. Yang dituntut adalah pahala dari Allah I.

Sungguh berbeda tuntutan Asma’ dengan aktivis gender yang tidak menggunakan logika pahala dan ibadah saat merumuskan paham “kesetaraan gender” sekuler.
Seorang muslim pasti memiliki cara pandang yang khas terhadap “martabat perempuan”. Cara pandang muslim berlandaskan pada prinsip keadilan dalam Islam. Islam  mengajarkan pemeluknya agar berperilaku adil kepada seluruh umat  manusia tanpa memandang harta, kedudukan atau jenis kelamin.

Allah I telah menegaskan, bahwa (artinya) : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. [QS. 49 : 13].

Dengan ayat ini, ajaran Islam secara tegas menetapkan bahwa   nilai kemuliaan seorang manusia diukur dari iman,  ketinggian akhlak dan perbuatan-perbuatan baiknya.

Menyimak kekeliruan dan ketidakberadaban kontes-kontes kecantikan, kita berharap tidak ada orang muslim yang ikut-ikutan mendukung berbagai jenis kontes kecantikan, semisal kontes Miss World.

Jadi, kontes Miss World bukanlah hanya soal baju, tapi soal penetapan dan pemberian penghargaan martabat perempuan yang keliru. Tidaklah tepat jika ada pemimpin daerah yang menyetujui acara semacam itu, hanya karena pada kontes kali ini tidak lagi diperagakan parade  bikini.  Andaikan kontes Miss World menggunakan mukena sekali pun,  kontes semacam itu tetap keliru, sebab martabat utama perempuan tidak dinilai berdasarkan unsur utama kecantikan fisiknya. 

Tulisan ini hanyalah sekedar bentuk taushiyah atau nasehat kepada sesama muslim yang masih terlibat dalam acara Miss World dan sejenisnya.
Cobalah bayangkan, andaikan di hari akhir nanti, penyelenggara acara kontes atau pemimpin daerah yang menyetujui acara itu, ditanya oleh Allah I! Apa jawab mereka? Apakah mereka merasa telah beramal shalih, karena berhasil mendatangkan devisa?

Rasulullah r bersabda (artinya) : “Dua golongan ahli neraka yang belum pernah saya lihat sebelumnya: para lelaki yang membawa cambuk di tangannya seperti ekor sapi yang digunakan untuk mencambuk manusia, dan perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, sesat dan menyesatkan. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak mencium baunya” [HR Muslim].

Semoga bermanfaat bagi yang mau mengikuti petunjuk-Nya.

Maraji’ :
·     Sepatutnya Kontes Miss World Dibatalkan? : Penistaan Martabat Perempuan, Oleh : Dr. Adian Husaini.
·     Jurnal Islamia-Republika edisi 18 April 2013.