Memahami Khilafah Islamiyah

Khilafah Islamiyyah ; menyatukan seluruh umat Islam di bawah naungan satu penguasa yang menghukumi mereka dengan syariat Allah di atas jalan kenabian adalah cita-cita yang agung dan menjadi dambaan setiap muslim dalam kehidupan ini...

Asuransi Dalam Tinjauan Syariat

Kehidupan manusia pada zaman modern ini sarat dengan beragam resiko dan bahaya. Betapa tidak, manusia sendiri tidak mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.Dalam upaya mengelola resiko masa depan tersebut, manusia berinisiatif untuk membuat suatu transaksi/muamalah yang bisa menjamin diri dan hartanya agar tetap aman ketika resiko tersebut benar-benar terjadi...

Halal Haram Bisnis Online

Kemajuan teknologi informasi telah memanjakan umat manusia. Berbagai hal yang dahulu seakan mustahil dilakukan, kini dengan mudah terlaksana. Dahulu, praktik perdagangan banyak dibatasi oleh waktu, tempat, ruang, dan lainnya. Namun kini, batasan-batasan itu dapat dilampaui...

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Namun sungguh ironis, di saat yang sama, Indonesia juga termasuk negara yang “berprestasi” dalam hal korupsi. Berbagai kasus para koruptor selalu menjadi bahan berita semua media, sampai di hari-hari terakhir ini. Sungguh, sebuah fakta yang mengiris hati...

Kerancuan Seputar Alkohol

Kerancuan seputar alkohol sudah muncul sejak lama. Mulai dari penggunaan alkohol dalam parfum, obat-obatan atau alkohol yang ada dalam makanan seperti tape. Di antara kerancuan dan kebingungan selama ini adalah penilaian bahwa alkohol adalah haram dan identik dengan khamr yang juga jelas diharamkan dalam agama kita...

Rabu, 30 Januari 2013

Banjir dan Kemaksiatan

Banjir, salah satu bentuk bencana alam yang baru saja melanda sebagian wilayah kota Makassar, bahkan ibukota negara saat ini di Jakarta.

Kebanyakan manusia di zaman ini hanya menjadikan perkara-perkara lahir yang kasat mata sebagai barometer dalam menilai berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Kebanyakan manusia menilai bahwa banjir hanya terjadi karena tersumbatnya sungai sebagai aliran air, bobolnya tanggul, curah hujan yang tinggi, dan lainnya.

Salahkah? Hal ini jelas tidak salah. Namun sayangnya, pernahkah kita tergerak untuk memahami hakekat yang tersembunyi dari setiap kejadian, di balik yang tampak secara kasat mata? Lupakah kita terhadap kerusakan-kerusakan yang tidak kasat mata namun lebih parah dan fatal akibat buruknya?

Allah Iberfirman (artinya) : “Mereka hanya mengetahui yag lahir (nampak) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai(QS. Ar-Ruum : 70).
Dalam sebuah firmanNya, Allah I  juga telah mengingatkan kita (artinya) : “Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan akibat perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum : 41).


Dalam ayat yang mulia di atas, Allah I menyatakan bahwa penyebab utama semua kerusakan yang di muka bumi dengan berbagai bentuknya adalah karena perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan oleh manusia.

Imam Abul 'Aliah ar-Riyahi rahimahullah bekata : “Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah di muka berarti dia telah berbuat kerusakan di muka bumi, karena bumi dan langit itu baik karenasebab ketataan (kepada Allah I ) (Dinukil oleh Imam Ibnu Kastir dalam tafsir beliau (3/576)).
Dalam ayat lain, Allah Iberfirman (artinya) : “Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka itu disebabkan leh perbuatan (dosa)mu sendiri(QS. Asy-Syuura : 30).

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di rahimahullah menafsirkan ayat ini dan berkata : “Allah I memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa manusia, baik pada diri, harta maupun anak-anak mereka, serta pada apa yang mereka sukai, tidak lain sebabnya adalah perbuatan – perbuatan buruk (maksiat) yang pernah mereka lakukan” (Lihat Tafsir Karimir Rahman hal. 759).

Tak terkecuali dalam hal ini, musibah dan kerusakan yang terjadi dalam rumah tangga, hubungan tidak harmonis antara suami isteri, pertengkaran, kedurkahan anak dan lainnya. Makanya sebagian salaf (ulama terdahulu) pernah berkata : “Sungguh ketika aku bermaksiat kepada Allah I , maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tersebut pada tingkah laku isteriku” (Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam al-Da'u wad Dawa' hal.68).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Tujuan Allah Imenciptakan manusia dan menempatkan mereka di bumi serta melimpahkan rezeki kepada mereka agar bisa menopang mereka dalam melaksanakan ketaatan dan beribadah kepada Allah I. Jika mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah I(maksiat) berarti mereka telah berusaha merusak dan menghancurkan tujuan utama penciptaan bumi” (Lihat Tafsir Karimir Rahman hal.42).

Makanya, kematian seorang pelaku maksiat merupakan sebab utama penurunan angka kerusakan di bumi. Rasulullah r bersabda (artinya) : “(Kematian) seorang hamba yang fajir (banyak berbuat maksiat) akan menjadikan manusia, negeri pepohonan dan binatan terlepas (terhindar dari kerusakan akibat perbuatan maksiatnya)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Syirik dan Bid'ah Adalah Sebab Kerusakan Terbesar 

Apakah bentuk maksiat dan kezhaliman terbesar? Jawabannya adalah syirik. Karena ia adalah dosa yang paling besar di sisi Allah I , maka kerusakan yang ditimbulkannya pun sangat besar, bahkan menjadi sebab utama kerusakan di muka bumi.

Imam Qatadah dan As-Suddi rahimahumallahu berkata : “Kerusakan (yang sesungguhnya) adalah perbuatan syirik. Inilah kerusakan yang paling besar” (Dinukil oleh Imam Qurtubi dalam tafsir beliau 14/40).

Demikian pula perbuatan bid'ah. Semua seruan dakwah yang bertentangan dengan petunjuk Rasulullah r pada hakekatnya merupakan sebab terjadinya kerusakan di bumi.

Imam Abu Bakar Ibnu 'Ayyasy al-Kufi rahimahullah ketika ditanya tentang makan firman Allah I (artinya) : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi, sesudah Allah memperbaikinya...”(QS. Al-A'raf : 56), beliau mengatakan : “Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad r kepada umat manusia, (ketika) mereka dalam keadaan rusak. Lalu Allah I  memperbaiki (keadaan) mereka dengan (petunjuk yang dibawa) Nabi Muhammad r. Sehingga orang yang mengajak (manusia) kepada selain petunjuk yang dibawa Nabi r berarti dia temasuk orang-orang yang melakukan kerusakan di bumi” (Lihat Tafsir Ibni Abi Hatim ar-Razi 6/74).

Taqwa, Sebab Kesejahteraan dan Keselamatan

Solusi utama untuk menghindari dan memperbaiki kerusakan atau bencana di muka bumi adalah bertaubat dengan benar (nasuha) dan kembali kepada ketaatan kepada Allah I Sang Penguasa.

Rasulullah r bersabda (artinya) : “Orang yang telah bertaubat (dengan sungguh-sungguh) dari perbuatan dosa seperti orang yang tidak punya dosa (sama sekali)(HR. Ibnu Majah No.4250, dihasankan oleh Syaikh al-Albani).

Inilah makna yang diisyaratkan dalam firman Allah I di atas : “..supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)(QS. Ar-Ruum : 41).

Maka, ketika manusia kembali kepada petunjuk Allah I dan RasulNya r, keberkahan di langit dan di bumi akan hadir bagi kelangsungan hidup manusia.

Ingatkah kita tentang berita Nabi di akhir zaman nanti, ketika Nabi Isa alaihissalamturun, belau akan berhukum dengan syariat yang suci ini pada masa tersebut. Beliau akan membunuh babi, mematahkan salib dan menghapus jizyah (upeti) sehingga tidak ada pilihan lain kecuali masuk Islam. Dan di zaman itu, tatkalah Allah I telah membinasakan Dajjal dan para pengikutnya serta Ya'juj dan Ma'juj, maka dikatakanlah kepada bumi, “Keluarkanlah berkahmu”. Maka satu buah delima bisa dimakan oleh sekelompok besar manusia dan mereka bisa berteduh di bawah naungan kulitnya. Dan susu seekor unta mampu mencukupi sekumpulan manusia. Semua itu tidak lain disebabkan berkah penerapa syariat Muhammad r. Maka setiap kali keadilan ditegakkan, akan semakin banyaklah berkah dan kebaikan.

Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan : “Rasullullah r pernah melewati kampung kaum Tsamud, beliau melarang mereka (para sahabat) melewati kampung tersebut kecuali dengan menangis. Beliau juga melarang meminum airnya, menimba sumur-sumurnya, hingga beliau memerintahkan agar menggunakan air yang mereka bawa untuk mengadon gandum, karena maksiat kaum Tsamud ini telah memengaruhi air di sana. Sebagaimana halnya pengaruh dosa yang mengakibatkan berkurangnya hasil panen buah-buahan”.

Imam Ahmad rahimahullah telah menyebutkan dalam Musnadnya, bahwa telah ditemukan dalam gudang milik Bani Umayyah sebutir gandum yang besarnya seperti sebutir kurma. Gandum itu ditemukan dalam sebuah kantung yang bertuliskan “Biji gandum ini tumbuh pada masa keadilan ditegakkan”. Subhanallah...

Nah, barangkali ada yang masih ragu dan bertanya, apakah hubungan dan sangkut paut antara maksiat dan fenomena kerusakan atau perubahan alam?

Jawabnya, ya bisa saja. Selain dengan penjelasan ayat-ayat Allah I  sebagaimana telah disebutkan di atas, tahukah kita apa warna dari Hajar Aswad saat ini? Rasulullah r bersabda (artinya) : “Hajar Aswad turun dari syurga lebih putih daripada salju, lalu menjadi hitam karena dosa-dosa anak Adam” (HR. Tirmidzi I/166, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Mari Menjaga Lingkungan

Setelah bertaubat dan kembali ke jalan Allah I maka wajib bagi kita untuk selanjutnya menjaga dan melestarikan lingkungan.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan lingkungan. Buktinya, perintah Nabi r untuk menyingkirkan gangguan di jalan yang beliau r jadikan sebagai salah satu cabang keimanan, perintah beliau r untuk menanam pohon walaupun esok akan datang hari kiamat, bahkan beliau r memotivasi umatnya agar gemar menanam pohon sebagaimana dalam sabdanya (artinya) : “Muslim mana saja yang menanam sebuah pohon lalu ada orang atau hewan yang memakan dari pohon tersebut, niscaya akan dituliskan baginya sebagai pahala sedekah”(HR. Bukhari).

Demikian yang dapat kami tuliskan. Semoga Allah I senantiasa menjaga negeri kita dari bencana dan musibah, tentu setelah kita menjaga hak-hak Allah I, dengan tidak syirik kepadaNya, taat terhadap segala perintah dan menjauhi laranganNya, serta senantisa berada di atas petunjuk rasulNya.

“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu”, demikian pesan Sang Nabi r kepada kita semua.

Wallahul Muwaffiq.

Maraji' : Majalah As-Sunnah Edisi No.1/Tahun XIV Rabi' Ats-Tsani 1431 H/2010 M

Kamis, 17 Januari 2013

Jangan Tertipu Dengan Istilah “Syari’ah”

Telinga kita pasti sudah akrab dengan istilah khamar. Khamar adalah segala sesuatu yang memabukkan baik dari benda padat, cair dan gas. Di masa silam, istilah khamar ini diubah menjadi nabidz. Tujuannya adalah untuk mengelabui orang agar bisa menikmatinya, karena dengan memakai istilah khamar maka orang tidak akan menikmatinya karena jelas diharamkan oleh agama.

Demikian pula di zaman kita saat ini, berbagai istilah kemudian menjadi “bumbu” pada produk-produk tertentu baik pada barang maupun jasa. Beberapa istilah asal yang menjadi nama produk atau jasa tersebut kemudian diubah dengan istilah lainnya dan kerap menggunakan istilah “syari’ah”. Misalnya saja pada produk perbankan yang saat ini banyak menggunakan istilah-istilah syariat. Atau juga pada beberapa ritual dan acara dalam masyarakat kita. Misalnya pada ritual kunjungan ke kuburan para wali dan orang shaleh. Ritual tersebut dinamai sebagai “wisata religi”. Dari istilah, ini nampak sebagai sebuah ritual yang sah-sah saja dan setiap orang boleh mengikutinya. Padahal jika dicermati lebih jauh, ternyata di dalamnya terdapat tawassul atau tabarruk (ngalap berkah) yang bid’ah bahkan bisa sampai tingkat kesyirikan. Wal ‘iyadzu billah.


Oleh karenanya, kita mesti jeli. Jangan sampai kita tertipu dengan istilah dan nama,lihatlah hakikatnya.

Kamuflase Istilah Syariah

Tahukah kita, kamuflaseistilah atau pengelabuan dalam nama sudah ada sejak masa silam, bahkan sejak Nabi Adam ‘alaihis salam di surga. Adam ‘alaihis salam tertipu dengan pengelabuan iblis yang memberi nama pohon yang terlarang dengan nama pohon khuldi yang berarti pohon yang akan membuat orang yang memakannya kekal di surga. Iblis berkata : “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (QS. Thaha: 120).
Kemudian Adam ‘alaihis salam pun memakannya, dan ternyata akhirnya justru Adam‘alaihis salamdikeluarkan dari syurga Allah I dengan hikmahNya yang agung.

Dahulu, Nabi kita Muhammad rjuga telah memperingatkan kita akan munculnya orang-orang yang ingin mengelabui sesuatu yang haram dengan merubah namanya.

Abu Malik Al-Asy’ari t berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah r bersabda (artinya) : “Sungguh, akan ada orang-orang dari umatku yang meminum khamar, mereka menamakannya dengan selain namanya” (HR. Abu Daud dan lainnya. Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini shahih).

At-Turbasyti rahimahullah menjelaskan, “Mereka sengaja menutup-nutupi nama khamar tadi dengan nama nabidz (sejenis minuman yang sebenarnya bukan khamar).” Ibnu Malik mengatakan, “Mereka ingin menikmati khamar tersebut dan sengaja merubah namanya dengan nama berbagai nabidz yang hukumnya mubah. Misal saja mereka sebut dengan air madu dan air dzurrah yang tidak haram. Khamar biasanya berasal dari anggur dan kurma, namun kedua minuman tadi tidak demikian. Mereka hanya ingin mengelabui. Padahal kita harus melihat hakikatnya bahwa setiap yang memabukkan itu haram (apa pun namanya).” (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 10:110).
Ketahuilah, sikap mengelabui dengan merubah sesuatu yang diharamkan untuk merubah hukumnya, adalah salah satu watak orang – orang Yahudi.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah t, beliau mendengar Rasulullah r bersabda di Mekah saat penaklukan kota Mekah (artinya) :
“Sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi, dan patung."  Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, apa pendapatmu mengenai jual beli lemak bangkai, mengingat lemak bangkai itu dipakai untuk menambal perahu, meminyaki kulit, dan dijadikan minyak untuk penerangan?" Nabi r bersabda (artinya) : “Tidak boleh! Jual beli lemak bangkai itu haram." Kemudian, Rasulullah rbersabda (artinya) : “Semoga Allah melaknat Yahudi. Sesungguhnya, tatkala Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya lalu menjual minyak dari lemak bangkai tersebut, kemudian mereka memakan hasil penjualannya." (HR. Bukhari no. 2236 dan Muslim, no. 4132).

Lihat Hakikatnya

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, terkadang istilah yang digunakan dikelabui dengan ditambahi istilah “syariah”, semisal pada bank atau pegadaian.

Salah satu produk yang bermasalah di lembaga tersebut adalah kredit emas batangan. Masalahnya di mana? Masalahnya terletak pada praktek kredit pada produk emas.

Perlu kami jelaskan kaidah ringkas mengenai riba. Dalam riba, terdapat beberapa jenis barang atau komoditi yang dapat berlaku padanya hukum riba. Hadits dari Ubadah bin Shamit t meriwayatkan dari Nabi r  bersabda (artinya) : "Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya'ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya'ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, (takaran /timbangannya) sama dengan sama dan (dibayar dengan) kontan. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba." (HR. Muslim).

Untuk lebih memahami masalah ini, kita perlu mengklasifikasikan barang-barang yang terkena riba yaitu emas, perak (termasuk di sini mata uang), kurma, burr (gandum), sya’ir dan garam menjadi dua kelompok :


Kaidahnya  :
1. Bila jual beli barang sejenis, misal emas dengan emas, kurma dengan kurma dst, maka diwajibkanadanya dua hal : tamatsul(sama/sebanding)  dan taqabudh (serah terima di tempat/tunai). Misalnya : emas dengan emas.

Berdasarkan hadits dari Abu Sa'id al-Khudri t , bahwasanya Rasulullah r bersabda, artinya : "Janganlah engkau menjual/membarterkan emas dengan emas, melainkan sama-sama (beratnya) dan janganlah engkau lebihkan sebagian atas lainnya. Dan janganlah engkau membarterkan perak dengan perak melainkan sama-sama (beratnya), dan janganlah engkau lebihkan sebagian atas lainnya. Dan janganlah engkau menjual sebagian darinya dalam keadaan tidak ada di tempat berlangsungnya akad perniagaan dengan emas atau perak yang telah hadir di tempat berlangsungnya akad perniagaan." (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Jual beli lain jenis tetapi masih dalam satu kelompok, hanya disyaratkan taqabudh (serah terima di tempat/tunai) dan boleh tafadhul (ada kelebihan). Misalnya, emas dengan perak atau sebaliknya, emas dengan mata uang atau sebaliknya, perak dengan mata uang atau sebaliknya (pada kelompok pertama). Dapat pula : kurma dengan burr atau sebaliknya, sya’ir dengan garam atau sebaliknya, kurma dengan sya’ir, kurma dengan garam atau sebaliknya (pada kelompok kedua).

Berdasarkan hadits dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit t , dari  Rasulullah r  bersabda, artinya : “Emas dengan emas, perak dengan perak, burr dengan burr, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, harus semisal dengan semisal (tamatsul), tangan dengan tangan (taqabudh). Namun bila jenis-jenis ini berbeda, maka juallah terserah kalian (dengan syarat) bila tangan dengan tangan (kontan).” (HR. Muslim no. 1587).

3. Jual beli silang antara jenis pada kelompok pertama dengan jenis pada kelompok kedua atau sebaliknya, diperbolehkan tafadhul(ada kelebihan) dan nasi`ah(tertunda/tempo). Misalnya membeli garam dengan uang, kurma dengan uang, dan seterusnya. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama yang dinukil oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, Ibnu Qudamah, Nashr Al-Maqdisi, Al-Imam An-Nawawi rahimahumullahu, dan sejumlah ulama lain.

Di antara dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, artinya : “Bahwasanya Nabi r membeli makanan dari seorang Yahudi dan menggadaikan baju perang dari besi kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaih).
Nah, dari penjelasan ini, produk kredit emas batangan adalah keliru dan menyalahi aturan syariah yang sebenarnya.

Takutlah kita akan ancaman bagi para pelaku riba. Sebagaimana hadits dari Ibnu Mas’ud t bahwa Nabi r bersabda, “Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan (dosanya) seperti seorang anak menyetubuhi ibunya.” (HR Thabrani, dishahihkan oleh al-Albani).

Akhirnya, marilah kita pahami dan sadari bahwa tidak setiap istilah syar’i menunjukkan kebenaran. Kita harus tahu hakikatnya. Maka hal ini jelas menuntut kita untuk banyak belajar dan mengkaji ilmu Islam, tidak hanya sekedar ikut-ikutan. Banyak ilmu yang mesti kita dalami, yang utama adalah ilmu akidah, menyusul setelahnya adalah ilmu yang wajib kita ketahui sehari-hari seperti penjelasan shalat bagi setiap muslim dan penjelasan hukum perniagaan bagi yang ingin melakukan muamalah dagang. Jika kita tidak mampu, maka bertanya pada ahli ilmu yang berpedoman dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Wallahu waliyyuttafiq.

Maraji’ :
·   Kamuflase Istilah Syariah, Muhammad Abduh Tuasikal. 1433H/2012M
·   Buletin Al-Munir, Edisi 82 Tahun III Rabiul Awal 1431 H/ Februari 2011 M



Kamis, 10 Januari 2013

Belajar Dari Pohon Kurma

Tidak ragu lagi bahwa perumpamaan itu sangat indah dan mudah dicerna oleh akal karena akan memudahkan kita untuk memahami suatu ungkapan.

Pada kesempatan kali ini, kami mengajak para pembaca sekalian untuk merenungi dan mempelajari bersama sebuah perumpamaan dalam al-Qur’an dan hadits tentang iman.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar t, beliau berkata, “Suatu hari, Rasulullah r bersabda kepada para sahabatnya (artinya) : “Kabarkanlah kepadaku tentang sebuah pohon yang perumpamaannya seperti seorang mukmin?’ Maka para sahabat pun menyebutkan jenis-jenis pohon di badui.’ ” Ibnu Umar tberkata, “Terlintas dalam benakku untuk menjawab ‘pohon kurma’, tetapi saya segan menjawabnya karena banyak para sahabat yang lebih tua dariku. Tatkala para sahabat diam, Rasulullah  r bersabda (artinya) : ‘Pohon itu adalah pohon kurma.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini merupakan penjelasan dan tafsir terhadap firman Allah I(artinya) : ”Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuatperumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS. Ibrahim : 24–25).


Penafsiran ini ditegaskan oleh para ulama dari kalangan sahabat dan selain mereka. Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Syu’aib bin Habhab berkata, “Suatu saat kami berada bersama Anas bin Malik, lalu disuguhkan kepada kami sebuah keranjang berisi kurma, kemudian Anas mengatakan kepadaku, “Makanlah wahai Abu Aliyah karena buah ini termasuk pohon yang disebutkan oleh Allah dalam Qur’an-Nya, lalu beliau membacakan ayat QS. Ibrahim :  24–25”.

Pohon Kurma, Sebuah Perumpamaan

Pohon kurma mendapatkan keistimewaan ini sebagai perumpamaan seorang mukmin karena pohon kurma adalah pohon yang sangat istimewa dan banyak manfaatnya.

Imam Abu Hatim as-Sijistani berkata, “Pohon kurma adalah tuannya para pohon, diciptakan dari tanah Nabi Adam. Allah telah menjadikannya sebagai perumpamaan untuk kalimat laa ilaaha illallah. Maka sebagaimana laa ilaaha illallahadalah tuannya ucapan, demikian juga pohon kurma dia adalah tuannya pohon.”

Dan yang perlu kita cermati bersama adalah tatkala Nabi r memberikan perumpamaan seorang mukmin dengan pohon kurma, tentunya di sana ada sisi-sisi kesamaan antara keduanya yang sangat penting untuk kita renungi karena hal itu akan memberikan banyak manfaat bagi kita.

Pertama : Pohon kurma pasti memiliki akar, batang, tangkai, daun, dan buahnya.

Al-Baghawi rahimahullah berkata, “Hikmah perumpamaan iman dengan pohon kurma adalah karena pohon itu harus memiliki tiga hal: akar, batang, dan tangkai. Demikian pula iman tidak sempurna kecuali dengan tiga hal: membenarkan dalam hati, ucapan dengan lisan, dan amalan anggota badan.”

Kedua : Pohon kurma tidak bisa hidup dan tumbuh kecuali apabila disiram dengan air, demikian juga seorang mukmin tidak hidup hatinya kecuali apabila disiram dengan siraman rohani berupa wahyu. Oleh karena itu, ketika Allah I memperingatkan dari kerasnya hati, setelah itu Allah Iberfirman (artinya) : “Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya” (QS. al-Hadid : 17).

Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa sebagaimana Allah Imenghidupkan bumi dengan air dari kegersangan, demikian pula Allah I menghidupkan gersangnya hati dengan wahyu. Namun, semua itu hanya dicermati oleh orang-orang yang memahami ayat-ayat Allah I .

Rasulullah r bersabda (artinya) : ”Sesungguhnya iman dalam hati seorang di antara kalian itu bisa luntur/usang sebagaimana lunturnya pakaian, maka berdoalah kepada Allah untuk memperbaharui iman dalam hati kalian”.

Ketiga : Pohon kurma itu sangat kokoh dan kuat, demikian pula iman apabila mengakar dalam hati seorang maka akan kokoh seperti gunung yang tak tergoyahkan sedikit pun.

Imam Auza’i rahimahullahpernah ditanya tentang iman, apakah bisa bertambah? Beliau menjawab, “Ya, bertambah sehingga seperti gunung.” Lalu ditanya, apakah bisa berkurang? Beliau menjawab, “Ya, sehingga tidak tersisa sedikit pun.”

Keempat : Pohon kurma tidak tumbuh di sembarangan tanah, tetapi hanya tanah yang subur saja. Oleh karena itu, kurma tidak bisa tumbuh sama sekali di sebagian daerah, kadang bisa tumbuh tetapi tak bisa berbuah, terkadang berbuah tetapi buahnya kecil. Jadi tidak semua tanah cocok untuk pohon kurma.

Demikian halnya dengan iman, ia tidak bisa tumbuh pada setiap hati manusia, tetapi hanya pada hati seorang yang diberi hidayah oleh Allah Idan dilapangkan dadanya dengan keimanan.

Kelima : Pohon kurma terkadang dikelilingi oleh tumbuhan lainnya yang ada di sekitarnya sehingga dapat mengganggu pertumbuhannya. Oleh karenanya, sang pemilik pohon kurma harus selalu merawatnya dan membersihkan tumbuhan-tumbuhan lain yang mengganggu pertumbuhannya.

Demikian juga halnya dengan seorang mukmin dalam kehidupan ini, banyak sekali gangguan yang melemahkan imannya. Oleh karenanya, seorang mukmin hendaknya selalu berintrospeksi dan mengontrol imannya setiap saat dan berusaha semaksimal mungkin untuk membersihkan segala virus dan kotoran yang dapat menodai hatinya. Allah I berfirman (artinya): “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. al-’Ankabut : 69).

Keenam : Pohon kurma adalah pohon yang penuh barokah sehingga setiap bagiannya bermanfaat dan tidak ada satupun bagian yang tidak bisa dimanfaatkan, buahnya jelas bermanfaat, batang kayunya untuk bangunan dan atap rumah, daunnya untuk penutup dan atap rumah, bahkan biji kurma sekalipun bisa dimanfaatkan.

Demikian juga halnya seorang mukmin, dia selalu berbarokah dalam setiap keadaan, dan selalu bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain sekalipun setelah meninggal dunia.

Ketujuh : Pohon kurma itu berbeda-beda dan bertingkat-tingkat bentuknya, jenisnya, buahnya, rasanya, sebagian lebih istimewa daripada yang lain.

Demikian pula seorang mukmin, tingkatan iman mereka tidak sama, tetapi berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Allah I berfirman (artinya) : “Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar” (QS. Fathir: 32).

Kedelapan : Pohon kurma adalah pohon yang sangat sabar menghadapi angin yang kencang menerpanya, berbeda dengan pohon-pohon lainnya yang goyang jika terkena angin kencang bahkan mungkin ambruk. Demikian juga seorang mukmin, dia sabar menghadapi angin musibah dan cobaan yang menimpanya, sabar dalam ketaatan kepada Allah I , sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan yang tidak berkenan baginya.

Allah I berfirman (artinya) : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. al-Baqarah: 155–157).

Kesembilan : Pohon kurma itu semakin tua umurnya semakin enak rasa buahnya. Demikian juga seorang mukmin, semakin tua umurnya maka akan semakin baik amal perbuatannya.

Sebuah hadits dari Abdullah bin Busyr t, belia berkata, “Ada seorang Arab badui mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?’ Beliau r menjawab (artinya) : “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.’ ”

Kesepuluh : Buah kurma termasuk buah-buahan yang sangat bermanfaat, ketika masih basah yang disebut dengan ruthab bisa dijadikan buah dan manisan, dan ketika kering yang disebut dengan tamr bisa sebagai makanan, dan manfaat lainnya yang bermacam-macam.

Demikian halnya dengan seorang mukmin, manfaat dan kebaikannya bermacam-macam. Dan sebagaimana buah kurma itu manis rasanya, demikian halnya dengan keimanan, ada rasa manis dan lezat yang dirasakan oleh orang yang kuat imannya. Rasulullah r bersabda (artinya) : “Ada tiga hal yang apabila ada pada diri seorang maka dia akan merasakan lezat/manisnya iman; apabila Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya. Dan mencintai seorang dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan orang yang takut untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia tidak ingin dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikianlah beberapa sisi kesamaan antara pohon kurma dengan seorang mukmin. Semoga kita bisa belajar darinya.

Wallahu A’lam.

Maraji’ : Seorang Mukmin Ibarat Pohon Kurma (Renungan Sebuah Perumpamaan). Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafizhahullah.


Kamis, 03 Januari 2013

Perindu – Perindu Malam

Malam adalah saat yang penuh dengan keheningan dan ketenangan, sungguh ini waktu yang tepat untuk beristirahat menghilangkan kelelahan dan kepenatan menjalani hiruk pikuk dunia di siang hari.

Namun, di balik keheningan dan kesejukannya, al-Quran sebagai kalam Allah I, dalam beberapa ayatnya ketika berbicara soal malam, justru tidak berbicara tentang istirahat atau berdiam diri. Akan tetapi, berbicara tentang aktivitas, sebuah kerja dan amal yang agung. Apakah itu?

Di dalam al-Qur’an, Allah I  memerintahkan mengisi sebagian malam dengan mengoptimalkan berbagai aktivitas ibadah, seperti membaca al-Quran, sujud, rukuk, bertasbih, berdzikir, beristighfar, bermunajat, dan berdoa, khususnya degan qiyamullail.

Allah I  berfirman, artinya : "Hai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil, (yaitu) separuhnya atau kurang dari sedikit dari itu. Atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Alquran dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyu dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.'' (QS. al-Muzzammil : 1-6).

Manusia yang merindukan ketinggian dan kejayaan, niscaya menjadi para perindu –perindu malam. Betapa tidak, mereka menjadikan malam sebagai sumber energi menghadapi perjuangan dan kelelahan siang. Energi jiwa dengan menguatkan ikatan dengan Allah I Sang Penguasa. Energi raga dan pemikiran dengan dengan menghirup kesegaran udaranya.

Malam dijadikan madrasah untuk meneguhkan tekad, meneguhkan semangat, dan membuktikan kesungguhan yang meyakinkan.

Bagi mereka, malam dijadikan sebagai ajang pembuktian keikhlasan,kesungguhan pengabdian,

kesungguhan beramal walau tak seorang manusia pun yang menyaksikannya.

Pantas saja, bila para panglima perang Islam di zaman Rasulullah r memilih kualitas tentaranya dengan parameter mengerjakan qiyamullail.

Qiyamullail atau yang biasa disebut juga Shalat Tahajjud atau Shalat Malam adalah salah satu ibadah yang agung dan mulia , yang disyari’atkan oleh Allah I   sebagai ibadah nafilah atau ibadah sunnah.

Akan tetapi bila seorang hamba mengamalkannya dengan penuh kesungguhan, maka ia memiliki banyak keutamaan. Ya, memang berat, karena tidak setiap muslim sanggup melakukannya.

Ketahuilah...
Mereka yang menunaikannya, berarti telah mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya, artinya : “Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajjudlah kamu sebagai ibadah nafilah bagimu, mudah-mudahan Rabb-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’:79).

Ketahuilah...
Qiyamullail adalah shalat yang paling afdhal setelah shalt fardhu. Rasulullah r

bersabda, artinya : “Shalat yang paling utama sesudah shalat fardhu adalah qiyamul lail (shalat di tengah malam)”(HR. Bukhari dan Muslim).
Ketahuilah...
Qiyamul lail itu adalah kebiasaan orang-orang shalih dan calon penghuni surga. Allah I  berfirman, artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”(QS. Adz-Dzariyat : 15-18).

Ketahuilah ...
Makruh hukumnya meninggalkan shalat malam bagi yang telah terbiasa mengerjakannya.

Rasulullah r bersabda kepada sahabat Abdullah bin Umar t,artinya : Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah (yakni Abdullah bin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma) seandainya ia shalat di waktu malam.” (HR Muslim).

Beliau r menasihati Abdullah ibnu Umar t : Wahai Abdullah, janganlah engkau menjadi seperti fulan, ia kerjakan shalat malam, lalu ia meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketahuilah ...
Siapa yang menunaikan qiyamullail, dia akan terpelihara dari gangguan setan, dan ia akan bangun di pagi hari dalam keadan segar dan bersih jiwanya. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan qiyamul lail, ia akan bangun di pagi hari dalam keadan jiwanya dililit kekalutan (kejelekan) dan malas untuk beramal shalih.

Suatu hari pernah diceritakan kepada Rasulullah r tentang orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk shalat, maka beliau r menyatakan: Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya.”(Muttafaqun ‘alaih).

Rasulullah r juga menceritakan : “Setan mengikat pada tengkuk setiap orang diantara kalian dengan tiga ikatan (simpul) ketika kalian akan tidur. Setiap simpulnya ditiupkanlah bisikannya (kepada orang yang tidur itu): “Bagimu malam yang panjang, tidurlah dengan nyenyak.” Maka apabila (ternyata) ia bangun dan menyebut nama Allah Ta’ala (berdoa), maka terurailah (terlepas) satu simpul. Kemudian apabila ia berwudhu, terurailah satu simpul lagi. Dan kemudian apabila ia shalat, terurailah simpul yang terakhir. Maka ia berpagi hari dalam keadaan segar dan bersih jiwanya. Jika tidak (yakni tidak bangun shalat dan ibadah di malam hari), maka ia berpagi hari dalam keadaan kotorjiwanya dan malas (beramal shalih)” (Muttafaqun ‘alaih).

Ketahuilah...
Di malam hari itu ada satu waktu dimana Allah I akan mengabulkan doa orang yang berdoa, Allah I akan memberi sesuatu bagi orang yang meminta kepada-Nya, dan Allah akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bila ia memohon ampunan kepada-Nya.

Hal itu sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah r dalam sabda beliau, artinya : “Di waktu malam terdapat satu saat dimana Allah akan mengabulkan doa setiap malam.(HR Muslim No. 757).

Dalam riwayat lain disebutkan oleh beliau r, artinya :“Rabb kalian turun setiap malam ke langit dunia tatkala lewat tengah malam, lalu Ia berfirman: “Adakah orang yang berdoa agar Aku mengabulkan doanya?” (HR. Bukhari 3/25-26).

Dalam riwayat lain juga disebutkan, bahwa Allah I juga berfirman, artinya : “Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya, siapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku pun akan memberinya, dan siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” Hal ini terus terjadi sampai terbitnya fajar (Tafsir Ibnu Katsir 3/54).

Kesungguhan Salafus Shalih untuk menegakkan Qiyamul lail

Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa tatkala orang-orang sudah terlelap dalam tidurnya, Ibnu Mas’ud t justru mulai bangun untuk shalat tahajjud, sehingga terdengar seperti suara dengungan lebah (yakni Al-Qur’an yang beliau baca dalam shalat lailnya seperti dengungan lebah, karena beliau membaca dengan suara pelan tetapi bisa terdengar oleh orang yang ada disekitarnya), sampai menjelang fajar menyingsing.


Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya : “Mengapa orang-orang yang suka bertahajjud itu wajahnya paling bercahaya dibanding yang lainnya?”

Beliau menjawab : “Karena mereka suka berduaan bersama Allah Yang Maha Rahman, maka Allah menyelimuti mereka dengan cahaya-Nya.”

Abu Sulaiman rahimahullahberkata: “Malam hari bagi orang yang setia beribadah di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa adanya malam, sungguh aku tidak suka tinggal di dunia ini.”

Al-Imam Ibnu Al-Munkadir rahimahullah menyatakan : “Bagiku, kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, yakni qiyamul lail, bersilaturrahmi dan shalat berjamaah.”

Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah juga pernah menegaskan : “Sesungguhnya orang yang telah melakukan dosa, akan terhalang dari qiyamul lail.” Ada seseorang yang bertanya: “Aku tidak dapat bangun untuk untuk qiyamul lail, maka beritahukanlah kepadaku apa yang harus kulakukan?” Beliau menjawab : “Jangan engkau bermaksiat (berbuat dosa) kepada-Nya di waktu siang, niscaya Dia akan membangunkanmu di waktu malam.”(Tazkiyyatun Nufus, karya Dr Ahmad Farid).

Pembaca yang budiman, inilah beberapa keutamaan dan keindahan qiyamul lail. Sungguh, akan merasakan keindahannya bagi orang yang memang hatinya telah diberi taufik oleh Allah Ta’ala, dan tidak akan merasakan keindahannya bagi siapa pun yang dijauhkan dari taufik-Nya.

Semoga, kita semua termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang diberi keutamaan menunaikan qiyamul lail secara istiqamah. Menjadi perindu-perindu malamNya.

Wallahu waliyyut taufiq.